Begitulah judul menjelaskan sekelumit tentang sebuah aliran air di salah satu sisi badan Gunung Merbabu. Air terjun yang banyak memberi pelajaran tentang arti sebuah kedermawanan untuk memberi tiada henti, walau tidak melimpah tapi ia selalu tetap dalam keistiqomahan. Darinya kita jadi tahu bahwa tak semua aliranya berada dipermukaan tapi juga terserap mengalir
didalam, dinginnya tak sesegar di hulu sana namun tetap memberi
kesejukan yg ada di daratan. Darinya kita jadi ingin seperti air walupun jauh nan luas
tujuan yg kan gapai, berbagai cara yg ia tempuh, tetap akan kembali
keasalnya, dan selalu memberi kebermanfaatan untuk apa yg dilaluinya.
Dan yg terpenting ia tetap alami dan selalu menyejukkan.
Semuncar begitu orang menyebutnya, adalah salah satu air terjun yang dimiliki oleh gunung Merbabu, yang mengalir di sisi timur gunung. Menjadi sumber mata air utama masyarakat yang memanfaatkan setiap tetesnya khususnya masyarakat Ampel dan sekitarnya. Aliran ini diperkirakan berasal dari rembesan kabut yang senantiasa hadir menyelimutinya. Walaupun bukan termasuk salah satu GREAT WATERFALL tapi keeksotisannya mampu menyihir para penikmat yang sengaja mendatanginya. Tinggi Menjulang menembus dinding bebatuan dengan debit air yang tak seberapa itu memberi kesan tersendiri bagi para penikmatnya. Setidaknya mereka akan terbawa kedalam dimensi yang berbeda. Air terjun ini seperti sembunyi dalam sunyi, tak sedikitpun rasa angkuh menaungi keberadaannya.
Terletak di desa Candi sari Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali atau di lereng timur gunung Merbabu, Air terjun ini memang jarang dijamah oleh khalayak umum. Tak ada gembar-gembor yang sengaja mempubliksaikannya kecuali dari mulut-kemulut mereka yang telah menjamahnya. Air terjun ini mempunyai beberapa Air terjun turunan yang jatuh dibawahnya. Tercatat ada 2 Air terjun anakannya yang sayang untuk dilewatkan, diantaranya : Paling Bawah (Air terjun Tempuran) dan tengah (Air Terjun Sipongok). Mereka seakan dicipta untuk menjelaskan sisi lain keindahan Gunung Merbabu.
Aksesbility
Air terjun ini bisa ditempuh perjalanan dengan kendaraan bermotor sampai desa terakhir Candisari atau tepatnya di Komplek pemakaman Khusus Syekh Maulana Ibrahim Maghribi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Air terjun. Alangkah lebih baiknya lapor dulu ke Base camp sembari menitipkan kendaraan. Jarak antara start piont jalan kaki dengan Air Terjun utama kurang lebih sekitar 3 Km dan dapat ditempuh dengan waktu 45 menit perjalanan. Medan yang dilalui cukup bervariasi yaitu menyusuri jalan setapak di sepanjang sungai, tabing hutan tropis dan bebatuan disepanjang aliran sungai. Sebagaimana sungai-sungai semi periodik, dimusim kemarau sungai yang mengalir cenderung berkurang debit airnya, berbeda dengan saat penghujan yang mampu mengaliri aliran dibawahnya.
Memulai perjalanan kaki, petualang akan di sambut dengan makam atau semacam petilasan dari Syech Maulana Ibrahim Maghribi (bukan Sunan Gresik lo ya) yang keberadaan dapat menjadi petunjuk atau pintu masuk ke Air terjun Semuncar. Makam yang mungkin dipercayai membawa berkah oleh masyarakat, terbukti dari cukup banyaknya para peziarah yang datang entah apa tujuannya. Rute perjalanan masih berupa jalan tanah cukup datar dengan cara menyusuri jalan setapak pinggiran sungai. Sepanjang perjalanan didominasi oleh tanaman-tanaman perkebunan masyarakat sekitar dan rerumputan yang sengaja ditanam sebagai pakan ternak. dan baru memasuki air terjun vegetasi sudah berupa pepohonan khas hutan tropis.
Saya (kami) pilih jalur menyusuri tepian saja karena lebih teduh dan nyaman juga tujuan awal memang hanya untuk mencapai air terjun Semuncar. Memang sebelumnnya saya pernah kesana tetapi hanya sampai air terjun Si Pongok (bawahnya Semuncar) dan kini sengaja berniat untuk menjamah air terjun yang guratnya itu terlihat dari kampung halaman. Jika ingin sensasi susur sungai silahkan turun menyusuri sepanjang aliran sungai dengan medan berbatu yang cukup menguji ketangkasan. dihimbau pakai Sendal atau Spatu traking (bukan sekedar Swallow atau crocs "ex") agar pijakan kaki benar-benar aman dan nyaman.
Menyusuri jalan setapak kemudian terpaksa harus meyusuri sungai karena merupakan jalan satu-satunya. Disepanjang sungai terbuka terdapat aliran air yang terlihat menyegarkan mengalir dengan jernihnya. Petualang di tuntut untuk cermat melihat jalur yang kadang hilang saat musim penghujan agar tidak salah jalur atau terpaksa berjibaku dengan batuan besar. mulai tinggi kami berjalan pohon cemara di sisi perjalanan mulai banyak yang tumbuh membuat panorama semakin mempesona. Terik sang surya seakan sirna dengan sajian pemandangan yang begitu rupawan, mengantarkan batin ini kembali merenungi arti sebuah Kemahabesaran.
Akhirnya kami sampai dipertigaan (cabang Aliran) Sungai dengan tebing-tebing tinggi memagari kami di kanan dan kiri. Kami sempatkan untuk mengunjungi air terjun pertama yaitu Air Terjun Tempuran yang tak kalah indah dan menyegarkan. Bau dupa menyengat tercium dari kejauhan bukti masih ada saja kepercayaan klenik yang meyelimuti setiap ciptaanNYa termasuk Air terjun ini. Deras suara air sudah terdengar menyapa para penikmatnya untuk sejenak singgah untuk melepas lelah. Betul saja, ia masih mempesona seperti dulu kala walau debit airnya tak semelimpah saat penghujan tapi sedikit banyak merefresh fikiran dan mengingatkan tentang diskripsi Surga Adn seperti yang disuratkan dalam Al Quran (surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.
Setelah puasa melepas lelah dan mengisi wadah minuman (segar alami), kami memutuskan untuk mengambil rute menaiki puncak Ogal-agil (namanya seperti puncak Gunung Arjuna Jawa Timur). Sebenarnya menyusuri sungai juga bisa tapi kami juga ingin menikmati sensasi Naik Gunung setelah berapa lama tidak merealisasikannya. Jalur menuju ke Puncak Ogal-agil masih didominsai oleh jalan setapak dengan semak yang cukup tinggi karena mungkin jarang dijamah. Treck dengan sudut kemiringan hampir 60 derajat atau lebih tepatnya kita yang mblasuk ngetreck memotong jalur yang sudah disediakan tapi memang tidak terlihat.h.h. dan itu terpaksa kami taklukkan dengan banyak memanjat dengan ranting dan rerumputan sebagai pegangan. Akhirnya kami sampai di jalur yang disediakan dan terlihat puncak yang cukup tinggi merayu kami untuk menaklukkannya. Dan berdasarkan para Treveler lain yang telah sampai di Semuncar, jalurnya tidak sampai ke Puncak Ogal-agil tapi belok kekanan menyusuri lereng tebing dengan vegetasi yang cukup rapat.
Tim Sudah lengkap yang sebelumnya tercecer karena ambil jalur sendiri-sendiri dan kami segera menuruni jurang dengan pepohonan sebagai pegangan. Sebelumnya kami tidak yakin untuk menuruninya karena terlihat tinggi dan curamnya medan yang disediakan. Namun langkah itu harus segera kami tempuh untuk segera mengobati rasa penasaran yang selama ini menggelayuti benak dan fikiran. perlahan kami susuri dan tapaki jalan setapak dan dahan juga akar panjang sebagai pegangan memberikan sensasi lain berpetualang (tepatnya sensasi jadi tarzan si anak hutan). Menuruni jurang demi jurang kami kami temukan buah khas pegunungan sperti rambutan dengan duri begitu tajam. harus hati-hati kalau tidak pakai alas kami karena akan melukai kaki saking runcingnya. dan tidak dirokomendasikan untuk dimakan (kalau nggragas ya silahkan).
Akhirnya dari ketinggian Air Terjun itu pun terlihat dengan tebing begitu tingginya. Air itu terlihat muncul dari tenggah tebing dan tidak sederas yang dibayangkan tapi tetap saja membuat hati berdecak kagum atas ciptaaNya yang setu ini. Melihat itu membuat diri ini ingin segera menuruninya dan menikmati setiap tetes alirannya. Berhubung cukup tinggi lokasi saat itu, tepaksa harus turun lagi dengan kembali memakai akar seperti rotan sebagai tambatan. ada beberapa longsoran yang harus menjadi perhatian agar tidak terjadi hal yang diinginkan dan juga akan menambah rusak rute perjalanan.
Semuncar berasal dari bahasa jawa Muncar/ Muncrat yang berarti memancar. Sebagaimana dengan namanya air itu benar-benar memancar dari tubuh gunung Merbabu turun membasahi dan memberi kesegaran juga kesejugan bagi para penikmatnya. melihat cipratan air yang jatuh itu membuat diri ini ingin merasakan sensasi tetesan air terjun itu. Artibut sudah lengkap dan saatnya mendinginkan fikiran dengan menceburkan badan dan memposisikannya tepat dibawah tetesannya. Benar-benar air segar menyegarkan, merefreshkan fikiran akan arti sebuah kebersyukuran.
Pesan saya :
Tetaplah mengalir sebagaimana air, walau kadang sedikit dihulunya tapi jika konsisten dalam keistiqamahan bukan tak mungkin akan menjadi danau di Hilirnya yang memberikan banyak kebermanfaatan. tetap jaga ia agar tetap selalu mengalir dengan menjaga alam disekelilingnya. Salam Lestari
Semuncar begitu orang menyebutnya, adalah salah satu air terjun yang dimiliki oleh gunung Merbabu, yang mengalir di sisi timur gunung. Menjadi sumber mata air utama masyarakat yang memanfaatkan setiap tetesnya khususnya masyarakat Ampel dan sekitarnya. Aliran ini diperkirakan berasal dari rembesan kabut yang senantiasa hadir menyelimutinya. Walaupun bukan termasuk salah satu GREAT WATERFALL tapi keeksotisannya mampu menyihir para penikmat yang sengaja mendatanginya. Tinggi Menjulang menembus dinding bebatuan dengan debit air yang tak seberapa itu memberi kesan tersendiri bagi para penikmatnya. Setidaknya mereka akan terbawa kedalam dimensi yang berbeda. Air terjun ini seperti sembunyi dalam sunyi, tak sedikitpun rasa angkuh menaungi keberadaannya.
Terletak di desa Candi sari Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali atau di lereng timur gunung Merbabu, Air terjun ini memang jarang dijamah oleh khalayak umum. Tak ada gembar-gembor yang sengaja mempubliksaikannya kecuali dari mulut-kemulut mereka yang telah menjamahnya. Air terjun ini mempunyai beberapa Air terjun turunan yang jatuh dibawahnya. Tercatat ada 2 Air terjun anakannya yang sayang untuk dilewatkan, diantaranya : Paling Bawah (Air terjun Tempuran) dan tengah (Air Terjun Sipongok). Mereka seakan dicipta untuk menjelaskan sisi lain keindahan Gunung Merbabu.
Aksesbility
Air terjun ini bisa ditempuh perjalanan dengan kendaraan bermotor sampai desa terakhir Candisari atau tepatnya di Komplek pemakaman Khusus Syekh Maulana Ibrahim Maghribi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Air terjun. Alangkah lebih baiknya lapor dulu ke Base camp sembari menitipkan kendaraan. Jarak antara start piont jalan kaki dengan Air Terjun utama kurang lebih sekitar 3 Km dan dapat ditempuh dengan waktu 45 menit perjalanan. Medan yang dilalui cukup bervariasi yaitu menyusuri jalan setapak di sepanjang sungai, tabing hutan tropis dan bebatuan disepanjang aliran sungai. Sebagaimana sungai-sungai semi periodik, dimusim kemarau sungai yang mengalir cenderung berkurang debit airnya, berbeda dengan saat penghujan yang mampu mengaliri aliran dibawahnya.
Memulai perjalanan kaki, petualang akan di sambut dengan makam atau semacam petilasan dari Syech Maulana Ibrahim Maghribi (bukan Sunan Gresik lo ya) yang keberadaan dapat menjadi petunjuk atau pintu masuk ke Air terjun Semuncar. Makam yang mungkin dipercayai membawa berkah oleh masyarakat, terbukti dari cukup banyaknya para peziarah yang datang entah apa tujuannya. Rute perjalanan masih berupa jalan tanah cukup datar dengan cara menyusuri jalan setapak pinggiran sungai. Sepanjang perjalanan didominasi oleh tanaman-tanaman perkebunan masyarakat sekitar dan rerumputan yang sengaja ditanam sebagai pakan ternak. dan baru memasuki air terjun vegetasi sudah berupa pepohonan khas hutan tropis.
Saya (kami) pilih jalur menyusuri tepian saja karena lebih teduh dan nyaman juga tujuan awal memang hanya untuk mencapai air terjun Semuncar. Memang sebelumnnya saya pernah kesana tetapi hanya sampai air terjun Si Pongok (bawahnya Semuncar) dan kini sengaja berniat untuk menjamah air terjun yang guratnya itu terlihat dari kampung halaman. Jika ingin sensasi susur sungai silahkan turun menyusuri sepanjang aliran sungai dengan medan berbatu yang cukup menguji ketangkasan. dihimbau pakai Sendal atau Spatu traking (bukan sekedar Swallow atau crocs "ex") agar pijakan kaki benar-benar aman dan nyaman.
Menyusuri jalan setapak kemudian terpaksa harus meyusuri sungai karena merupakan jalan satu-satunya. Disepanjang sungai terbuka terdapat aliran air yang terlihat menyegarkan mengalir dengan jernihnya. Petualang di tuntut untuk cermat melihat jalur yang kadang hilang saat musim penghujan agar tidak salah jalur atau terpaksa berjibaku dengan batuan besar. mulai tinggi kami berjalan pohon cemara di sisi perjalanan mulai banyak yang tumbuh membuat panorama semakin mempesona. Terik sang surya seakan sirna dengan sajian pemandangan yang begitu rupawan, mengantarkan batin ini kembali merenungi arti sebuah Kemahabesaran.
Akhirnya kami sampai dipertigaan (cabang Aliran) Sungai dengan tebing-tebing tinggi memagari kami di kanan dan kiri. Kami sempatkan untuk mengunjungi air terjun pertama yaitu Air Terjun Tempuran yang tak kalah indah dan menyegarkan. Bau dupa menyengat tercium dari kejauhan bukti masih ada saja kepercayaan klenik yang meyelimuti setiap ciptaanNYa termasuk Air terjun ini. Deras suara air sudah terdengar menyapa para penikmatnya untuk sejenak singgah untuk melepas lelah. Betul saja, ia masih mempesona seperti dulu kala walau debit airnya tak semelimpah saat penghujan tapi sedikit banyak merefresh fikiran dan mengingatkan tentang diskripsi Surga Adn seperti yang disuratkan dalam Al Quran (surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.
Setelah puasa melepas lelah dan mengisi wadah minuman (segar alami), kami memutuskan untuk mengambil rute menaiki puncak Ogal-agil (namanya seperti puncak Gunung Arjuna Jawa Timur). Sebenarnya menyusuri sungai juga bisa tapi kami juga ingin menikmati sensasi Naik Gunung setelah berapa lama tidak merealisasikannya. Jalur menuju ke Puncak Ogal-agil masih didominsai oleh jalan setapak dengan semak yang cukup tinggi karena mungkin jarang dijamah. Treck dengan sudut kemiringan hampir 60 derajat atau lebih tepatnya kita yang mblasuk ngetreck memotong jalur yang sudah disediakan tapi memang tidak terlihat.h.h. dan itu terpaksa kami taklukkan dengan banyak memanjat dengan ranting dan rerumputan sebagai pegangan. Akhirnya kami sampai di jalur yang disediakan dan terlihat puncak yang cukup tinggi merayu kami untuk menaklukkannya. Dan berdasarkan para Treveler lain yang telah sampai di Semuncar, jalurnya tidak sampai ke Puncak Ogal-agil tapi belok kekanan menyusuri lereng tebing dengan vegetasi yang cukup rapat.
Tim Sudah lengkap yang sebelumnya tercecer karena ambil jalur sendiri-sendiri dan kami segera menuruni jurang dengan pepohonan sebagai pegangan. Sebelumnya kami tidak yakin untuk menuruninya karena terlihat tinggi dan curamnya medan yang disediakan. Namun langkah itu harus segera kami tempuh untuk segera mengobati rasa penasaran yang selama ini menggelayuti benak dan fikiran. perlahan kami susuri dan tapaki jalan setapak dan dahan juga akar panjang sebagai pegangan memberikan sensasi lain berpetualang (tepatnya sensasi jadi tarzan si anak hutan). Menuruni jurang demi jurang kami kami temukan buah khas pegunungan sperti rambutan dengan duri begitu tajam. harus hati-hati kalau tidak pakai alas kami karena akan melukai kaki saking runcingnya. dan tidak dirokomendasikan untuk dimakan (kalau nggragas ya silahkan).
Akhirnya dari ketinggian Air Terjun itu pun terlihat dengan tebing begitu tingginya. Air itu terlihat muncul dari tenggah tebing dan tidak sederas yang dibayangkan tapi tetap saja membuat hati berdecak kagum atas ciptaaNya yang setu ini. Melihat itu membuat diri ini ingin segera menuruninya dan menikmati setiap tetes alirannya. Berhubung cukup tinggi lokasi saat itu, tepaksa harus turun lagi dengan kembali memakai akar seperti rotan sebagai tambatan. ada beberapa longsoran yang harus menjadi perhatian agar tidak terjadi hal yang diinginkan dan juga akan menambah rusak rute perjalanan.
Akhirnya kami sampai di tempat aman untuk menuruni telaga kecil tempat jatuhnya air dari ketinggian Semuncar. Dari tempat itu terlihat para pengunjung yang sudah berada dibawah menikmati indahnya telaga dan air segar yang jatur dari hulunya. inilah hulu sungai yang telah begitu banyak memberi kebermanfaatan untuk manusia di bawah sana. Tak lama-tama kami dalam ketertakjupan segera kami turuni lereng yang mudah dipijaki dan lewati.
Setelah sampai dibawah, kami sejenak merebahkan badan dan mencoba mentadaburi apa yang kami lihat saat itu, kami rasakan saat itu bahwa Kecintaan KepadaNYa akan sampai pada rasa Kebersyukuran dan syukur akan direalisasikan dengan selalu menjagaNya, dan CiptaanNYa ini sebagai ladang manifestasi rasa cinta KepadaNYa. Karena usaha yang telah kita lakukan, niat yang telah direalisasikan akan sampai pada tempat yang mengalir dibawahnya sungai-sungai ini, bukan sekedar pencapaian tapi lebih pada rasa yang membersamainnya.
Semuncar berasal dari bahasa jawa Muncar/ Muncrat yang berarti memancar. Sebagaimana dengan namanya air itu benar-benar memancar dari tubuh gunung Merbabu turun membasahi dan memberi kesegaran juga kesejugan bagi para penikmatnya. melihat cipratan air yang jatuh itu membuat diri ini ingin merasakan sensasi tetesan air terjun itu. Artibut sudah lengkap dan saatnya mendinginkan fikiran dengan menceburkan badan dan memposisikannya tepat dibawah tetesannya. Benar-benar air segar menyegarkan, merefreshkan fikiran akan arti sebuah kebersyukuran.
Pesan saya :
Tetaplah mengalir sebagaimana air, walau kadang sedikit dihulunya tapi jika konsisten dalam keistiqamahan bukan tak mungkin akan menjadi danau di Hilirnya yang memberikan banyak kebermanfaatan. tetap jaga ia agar tetap selalu mengalir dengan menjaga alam disekelilingnya. Salam Lestari
Semuncar 29 Maret 2015









Tidak ada komentar:
Posting Komentar