MAHAMERU YANG TELAH LAMA INGIN DITUJU
Sebuah Prolog
Awal yang meyakinkan untuk memulai
babak baru dalam sebuah kehidupan, menggapai puncak tertinggi di dataran ini,
daratan pulau jawa puncak para dewa (katanya: dan memang hanya orang ‘dewa’sa
yang mampu sampai kesana^^). Keyakinan itu sudah lama kami pupuk (terutama
saya) untuk menjejakkan kaki disana, dan pada hari itu peringatan kenaikan isa
sang mesaya atau tepatnya kamis, 14 mei 2015 kami memantapkan langkah awal untuk
segera menaklukkanya. Mahameru, sebuah tempat yang telah lama ingin dituju
akhirnya hari itu datang juga, mengukir lembaran tinta emas sebagai catatan
hari tua untuk dongeng anak-cucu kita(pendaki). Membuktikan bahwa Sang Pencipta
membuat alam ini benar-benar tidak sia-sia, melukisnya dengan nama Mahameru,
Ranukumbolo, Oro-oro ombo dll. Bagi seorang pendaki tempat-tempat itu akan
menjadi kenangan tersendiri dan akan terekam jelas di dalam memory.
Sebuah penegasan bahwa mendaki
gunung memang sebuah hobi, tapi jauh daripada pengertian itu mungkin hanya
pendakilah yang akan mengerti mengapa mereka melakukannya. Tak jarang bermacam
statement miring mengenai kecintaan insan pada salah satu ciptaanNya itu
(Gunung) menggiring orang lain berfikir bahwa mendaki hanya untuk bersenang-senang,
melampiaskan hasrat, bahkan ada yang mengatakan bahwa mendaki adalah kegiatan
kurang gawean (kurang kerjaan). Memang tidak keliru, tetapi sekali lagi bahwa
mungkin hanya pendakilah (ciyee) yang dapat merasakannya dan menjadikannya
bukan sekedar hobi dan bersenang-senang. Dan Mahameru dengan bentang lukisan
mahakarya Arrafikul A’la menjadi idaman setiap insan bagi mereka yang ingin
mendekatkan dan mempererat tali hubungan dengan Rabbnya (bagi saya ini adalah salah
satu alasan utamanya). Kami dengan basic kependakian yang tidak begitu mumpuni pun
ingin segera membuktikan bahwa gunung tidak hanya untuk didaki-memuaskan hasrat
diri tapi juga untuk ditadaburi-mendekatkan diri kepada Ilahi, mematahkan
persepsi yang selama ini berkembang dikalangan awam kependakiaan dan mencoba
menikmati candu yang orang lain telah terperangkap didalamnya. Maka dari itu saran
saya bagi yang belum pernah merasakan sebuah pendakian tolong jangan mendaki
gunung karena hal itu akan membawa kalian tersesat dijalan yang tepat,
terperangkap dalam salah satu pemahaman bahwa betapa kerdil kita disekitar
beraneka warna cipta sang penggenggam semesta dan itu akan sulit diungkapkan
ataupun di terjemahkan dalam untaian kata.
Bergeser pada objek pendakian,
dimana Semeru merupakan gunung yang terletak di Kabupaten Lumajang Jawa Timur dan
salah satu diantara gunung tertinggi di negeri ini, dan masih menjadi jawara di
pulau jawa dengan ketinggian atapnya mencapai 3676 mdpl (meter dibawah
permukaan laut). Merupakan gunung masih aktif yang mempunyai kawah dengan nama
Jongring Seloka (ini yang menjadikan Mahameru disebut sebagai tempat
berkumpulnya para dewa). Bagi saya yang selama ini pernah mengarungi beberapa
atap negeri, semeru sebenarnya mirip dengan adik jauhnya (merapi) dengan medan
tak jauh berbeda yaitu berbatu dan berpasir, namun sang kakak jauh lebih
panjang rutenya berkisar ± 17,5 km
(merapi hanya 7 Km), cukup jauh bagi seorang pemula.he.he. ada juga yang
mengatakan bahwa sang jawara mirip dengan gunung Penanggungan yang katanya
sebab fenomena yang terjadi dalam cerita dahulu kala, dimana sang dewa
mencecerkan beban utamannya (semeru) disepanjang jalur perjalanan untuk
menyeimbangkan pulau tercinta kita ini, pulau jawa. Tak ayal di nagari ini
terbentuklah gunung-gunung api (cincin api) disepanjang jalur yang dilewatinya dan membentang dari aceh (gunung
leuser) - dataran tinggi karo, jambi - lampung (gunung Kerinci – gunung
Krakatoa), Jawa barat (galunggung, gede pangrango, dll), Jawa Tengah (Slamet, Merapi
dll), Jawa timur ( gunung kelud, penanggungan, semeru, argo pura dll), NTB
(Rinjani-tambora) dan Papua (Jaya wijaya nampaknya). Dan berhubung belum
pernah mencicipi siPenanggungan terpaksa saya persamakan dengan siseksi Merapi.
![]() |
| "Karena sang Khaliq menciptakan tempat seperti ini bukan sekedar untuk didaki, tapi juga untuk ditadaburi" |
Jika dilihat dari jalur
pendakiannya gunung Semeru mempunyai trek yang cenderung landai memanjang
dengan tanjakan terjal yang tidak terlalu banyak dan baru benar-benar
curam-ekstrem saat mulai menapaki trek menuju Summit Mahameru. Rute yang panjang
membuat puncak Gunung itu harus ditempuh dengan waktu yang lumayan lama,
idealnya 3 hari 2 malam untuk benar-benar mengeksplore apa yang disuguhkan
disana atau 2 hari 1 malam bagi mereka “yang kebelet ngi**ng” (itu belum
termasuk perhitungan perjalanan yang ditempuh diatas kendaraan ya). Perhitungan
secara kasarnya diantaranya: Ranupani – Ranukumbolo (4-6jam)*camp* Kumbolo –
Kalimati (4-5jam)*camp* Kalimati – Mahameru (6-7 jam) total =14 – 18 jam + camp
2malam. Bisa dibayangkan lama dan panjangnya rute perjalanan yang harus
ditempuh para pendaki untuk menyusuri setiap jengkal tanah para dewa ini dan
saya yakin yang mampu menaklukkannya ialah mereka yang punya jiwa petualang,
pantang menyerah dan punya niat yang lurus untuk lebih mendekatkan diri dengan
Rabbnya. Kondisi pribadi dan kelompok menjadi prioritas utama agar capaian pendakian
benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan bersama. Untuk itu manajemen
waktu, tenaga dan fikiran harus benar-benar diperhitungkan. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah Alam
tidak pernah berbohong dan Alam adalah bagian dari diri kita sendiri, sayangi
ia dan Jangan mengambil kecuali gambar, meninggalkan kecuali jejak dan menulis
kecuali kenangan.
LANGKAH
AWAL(Berkendara Diatas Kuda Besi)
![]() |
| "Senyuman meyakinkan untuk segera meretas angan menuju pemahaman tentang keterbatasan insan, go Semeru!!" |
BOYOLALI, KAMIS 14 MEI 2015,
Perjalanan itu akhirnya akan kami mulai, 4 perjaka yang terdiri dari saya Bayu
“Prast-cesc-kriting”, SiUyab, Sam dan
Doni akan segera memulai sebuah perjalanan ke timur nagari dengan cara yang tak
lazim dilakukan oleh para pendaki, yang membutuhkan rute panjang nan lama,
yaitu dengan berkendara sepedamotor menuju malang-Lumajang yang biasanya
ditempuh dengan bis, trevel ataupun kereta. Kurang lebih 315 Km kami harus
tempuh dengan berkorban jiwa dan raga di atas aspal yang membentang dari
Kabupaten Boyolali sampai Kabupaten Lumajang, yang menurut mbah google bisa
ditempuh dengan 9 jam perjalanan (La emang dewo). Berhubung tekad sudah bulat
dan tak sempat mengurus tiket kereta, bis atau pesawat(halah) pun perjalanan
nan melelahkan itu kami jalani. Bermodal sepeda motor pabrikan rival abadi
(Yamaha vs Honda) maka berangkatlah empat insan perindu kebebasan menuju
gunungnya arek Malang dan Lumajang.
Hari
Kamis tepat pukul 13.00 akhirnya kami memulai perjalanan yang awalnya akan kami
mulai pada 03.00 dini hari bergeser 10 jam dari rencana. Kami ambil jalur
tengah pulau jawa bagian timur dengan rute perjalanan Boyolali-Gemolong-Sragen-Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono-Papar-Pare-Pujon-Batu-Malang-Tumpang
dan akhirnya Ranupani. Entah mengapa waktu tempuh itu kembali molor dari perkiraan
(jauh panggang dari pada api) perjalanan itu justru kami tempuh ½ hari 1 malam
(15 jam perjalanan) karena mungkin lebih sering rest ditengah kelelahan diatas
tunggangan (T.T). Disatu sisi mungkin ada hikmah dibalik semua, Allah yang maha
mengatur segala urusan mahlukNya. Singkat kata kami dipertemukan keluarga
sederhana di kesunyian hiruk pikuk kota Nganjuk (atau mungkin mereka justru
lebih mengharapakan kehendak sang pencipta mempertemukan kami dengan mereka
“Wallahu A’lam” dan Setidaknya kehadiran kami menjadi pelita bagi mereka yang
masih gelap tentang daerah Semarang (urusan mereka sengaja kami rahasiakan
he.he) dan kami masih belum percaya bagaimana kami bisa sampai disinggahkan
kesana. Sambil istirahat dan bersiap sholat kami sempatkan mereview sejenak
perjalanan darat yang telah kami taklukkan, dimana kami berangkat dari Boyolali
13.00, sampai daerah Sragen 14.45, Ngawi 15.45, Caruban 16.15, dan tiba sholat
maghrib di Nganjuk pukul 17.30. Pendek kata setelah menunaikan sholat maghrib
dan isya’ kami berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan bergegas menuju
arah kertosono.
![]() |
| "Istirahat adalah sebuah nikmat yang Allah berikan bagi mereka yang telah berjuang dan berusaha,apalagi bercengkrama diberanda rumahNya dan bertemu dengan keluarga baru,itu adalah anugerah" |
Dari
Nganjuk kami bertolak pukul 19.30, si kuda besi rupanya sudah tidak sabar untuk
kembali menyusuri jalanan yang belum juga bersahabat dengan rasa lelah, dan
jalan berliku setidaknya sudah akan menyapa didepan mata. Setelah melewati
kertosono, papar dan pare, daerah pegunungan dengan kontur jalan naik-turun dan
berliku harus kami lalui, membelah beberapa gunung yang sudah akrab ditelinga
(gunung Kelud, Welirang, Anjasmoro, Kawi) tak ayal mata ini harus Extra waspada
membaca alur jalan yang disuguhkan. Dan tak jarang sikuda besi merelakan
rodanya menjamah pinggiran aspal sepanjang median tanah (a.k.a Mblasuk.h.h),
untung saja masih diberi keselamatan sang penata bintang di angkasa sana yang
sering kali kami lirik untuk sedikit menghilangkan kejenuhan. Pukul 21.00-23.00
kami menyelesaikan etape pegunungan (banyak gunung) nan seksi dan akhirnya
sampailah kami disudut SPBU di kerumunan tukang ojek yang bergiliran menjemput
para penggiat paralayang di Daerah Songgoriti untuk sejenak merenggangkan
posisi pinggang dan bantalan dibawahnyah.h.. Sempat berbincang salah satu dari
mereka kalau kami harus menempuh 2-3 jam perjalanan lagi (waduh) sementara waktu sudah menunjukkan
waktu 23.00 dan itu artinya kami akan sampai di pasar tumpang (pasarnya pendaki
semeru) pada jam 01.00-02.00 atau 03.00 sampai ranupane.
![]() | |
| "Sejenak melepas penat dari jalan yang kurang bersahabat, (liku jalanmu membuat ngilu badanku)" At Songgoriti |
Benar apa yang perkirakan, kami
sampai dipasar tumpang pukul 01.an – si
Vixion sudah sampai dulu di toko serba ada pasar tumpang. Nampaknya siempunya tunggangan (Uyab) tengah
melangsungkan perundingan dengan arek-arek Surabaya (terlihat dari cara/logat
bicaranya) yang pada alur cerita ini mereka sangat berjasa dalam mempermudah
kami untuk melewati tahap awal di dunia dengan akhiran “REK” ini, pertama mereka mempermudah lobi untuk
mendapat jeep pengangkut barang bawaan dan jasa angkut salah dua diantara kita
berempat, kedua merekalah yang
mengurus tiket masuk dan segala pernak-pernik persyaratan pendaftaran.
Terimakasih kawan (Hilmi dan kawan-kawan). Sebelumnya kami sempatkan untuk
berbelanja/ shoping logistik tambahan (saya ga ikut-ikut, berfikir nanti
bawanya gimana + jan do turah duwit tenan.hadeh!!!). Pukul 01.an kami mula
menaikkan barang bawaan keatas jeep termasuk 2 orang diatara kami dengan urun ongkos
50rb an per anak (jadi kira-kira tarifnya 400-500rb untuk ojek Jeep sampai
ranupane) lumayan!!! Naiknya, siVixion
vs siVario bisa kebut-kebutan.h.h.
Jeep mulai bergerak dan 2 motor ngintil di belakang “takut nyasar” menuju
ranupane dan terlihat tak sedikit rombongan pendaki yang baru tiba dan masih
bernegosiasi (iki jampiro rek??kami duluan yo bro). Selanjutnya jalan menuju
basecamp sejauh 30Km kira-kira yang didominasi median aspal, beberapa blok
beton dan lainnya masih tanah atau sudah rusak terkelupas karena hilir mudik
rutinitas. Kamipun tak sempat melihat kiri kanan karena memang hari sudah
begitu gelap dan mata ini ingin segera terlelap (jadi pokoknya cepat-cepat
nyampe ranupane).
Akhirnya pukul 02.30 kami sampai
juga di Startpoin pendakian “Basecamp” Ranupani, atau lebih tepatnya di“padang”
parkiran motor-motor yang berjejer disebuah lapangan danau pane yang jika
dihitung mungkin sampai ratusan, Lebih bahkan ribuan(weleh). Mau mencoba menghitungnya
pun mata dan raga ini sudah tidak bisa diajak kompromi dan ingin segera rehat
dari segala penat karena berkendara sebegitu jauhnya, ditambah harus berjibaku
dengan offroadnya perjalanan dari tumpang menyusuri jalur mobil yang katanya
roda depan-belakang bisa bertenaga dan jeglonganpun lancar jaya, sementara kami
berdua harus memilah-memilih kontur jalan yang cocok bagi dua sejoli rival
abadi ini, ditambah lagi terpaan hawa dingin dinihari khas daerah pegunungan,
lengkap sudah(T.T). Pemandangan sedikit berbeda pada raut kedua cecunguk^^ yang
kelihatanya mereka sudah nyicil tidur, namun kelihatannya masih saja mengantuk
(gelek tenan!!! tapi itu lah yang dinamakan kesetiakawanan dan rela
berkorban.he.he). Setelah barang diturunkan kami pun bermusyawarah dengan Arek
Surabaya dan diputuskan untuk istirahat dekat dengan pos pendaftaran agar cepat
mendapat tiket keberangkatan. Malang diperoleh dan Angan tak dapat diraih,
basecamp pun berjubel tenda-tenda dan manusia-manusia dewa, dalam hati berkata
“gak tidur kie” dan akhirnya kami nggletak seadanya untuk sejenak mengendurkan
badan setelah menempuh “ISRA” dari Boyolali sampai Lumajang dengan “Buraq” way
of your life selalu didepanh.h. Setidaknya semangkuk bakso Malang dapat meredam
gejolak hati karena keinginan sesama pendaki untuk menaklukkan sang pujaan hati
dihari-hari libur panjang ini. Selanjutnya sebuah moshola kecilpun menjadi
tujuan alternatif untuk merebahkan badan (karena tak sempat mendirikan tenda. (peringatannya
sih tidak diperbolehkan tidur didalamnya, setidaknya sudah sholat dulu kok,
sory ya pak!!!^^) Selamat merem!!
![]() |
| "Inilah tanah Ranupani yang ‘kenyang’ oleh para pendaki, pagi tak lagi sunyi dan embunpun tak lagi sendiri" |
SIMAKSI dan
Pendaftaran
LUMAJANG,
JUM’AT 15 MEI 2015, Perjalanan jauh telah kami arungi, 350 km telah kami sudahi
dan sekarang saatnya kaki ini gantian berjalan, eits!!!pendaftaran dulu ya!!
Jangan coba-coba langsung nylonong melakukan perjalanan sebelum tiket ditangan atau
kalau mau ditengah perjalanan dipaksa turun untuk menaati birokrasi Balai Taman
Nasional Bromo Tengger Semeru ini (kan gak lucu yo Ri). Setelah melangsungkan
hibernasi beberapa puluh menit, mentari seakan tak mau kompromi dengan kondisi calon
pendaki untuk lebih sejenak mengistirahatkan raganya agar siap menapaki setiap
jengkal rute perjalanan. Singkatnya, pagipun menjelang para pendaki yang telah
menanti lebih lama terlihat antusias untuk segera melakukan registrasi,
mendaftarkan kelompok masing-masing untuk dapat menjamah Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru.
![]() |
| "Hukum permintaan berlaku, tanah ranupani segera menjadi bak tempat penampungan pendaki dan tak jarang eksternalitas negatif pun tercipta" |
Tepat pukul 07.00 pendaftaran akan
dibuka dan melayani hanya bagi mereka yang telah menyertakan syarat pendaftaran,
diantaranya Foto Kopi KTP/SIM/KTM atau surat keterangan dari ortu beserta materai,
surat keterangan sehat, materai per kelompok pendakian, dan mengisi form
pendaftaran/registrasi. Kali ini Ilham dkk lah yang akan beraksi, kami tinggal
memberi uang retribusi dan tiket akan siap ditangan. Pukul 09.00 baru dapat
memasukkan persyaratan pendaftaran dan kembali, kami harus mengikuti rangkaian
prosedur peraturan pendakian, diataranya: pengecekan barang bawaan, pembekalan
dari para Rescuer (relawan TNBTS) yang berlaku setiap anggota kelompok (*Dapat ilmu baru yang mungkin plek
dengan referensi di internet tapi setidaknya pengisi materinya lumayan kocak
untuk meredam keinginan untuk segera beranjak) dan baru setelah rangkaian itu pendaki
dapat rekomendasi.
Pembekalan dan
cecking perlengkapan merupakan tahapan penting bagi calon pendaki yang harus
diikuti terutama bagi mereka yang belum pernah mengenyam pengalaman pendakian
khususnya di Gunung Semeru ini. Rute pendakian, medan yang harus dihadapi,
cuaca yang menyertainya, larangan-larangan yang harus ditaati, spot-spot yang
tak boleh terlewatkan dan kemungkinan-kemungkinan lain yang tak diinginkan
menjadi materi yang setidaknya Fardhu ‘ain diketahui bagi calon pendaki. Tak lupa kelengkapan yang dibawa oleh para
pendaki menjadi perhatian khusus oleh para relawan: Alat musik-tulis, senjata
tajam sejenis parang dll tidak diperkenankan dibawa dan wajib ditinggal di
penitipan (harmonika bakal nganggur Kie!!). Bekal pendakian juga harus
dilengkapi seperti membawa perlengkapan standar (misalkan SB yang katanya cuaca
di semeru bisa mencapai minus 0, logistik yang mencukupi, tenda
wajib bagi setiap kelompok dll).
![]() |
| "Peraturan dibuat |
Pukul 10.00 breafing diakhiri, kami
pun baru bisa keluar dengan bekal ilmu baru yang cukup membantu dan otomatis
tiket bisa diterima setelah form kelengkapan pendaftaran dicap –disetujui yang
empunya wewenang. Perjalanan tak lekas dimulai karena rupanya perut dan mata
ini butuh aklimatisasi sejenak (alias madang karo mbedang-bendang sik) dan
warung terakhir diujung basecamp menjadi tujuan untuk melabuhkan sejenak Carier
yang ternyata butuh disetting kembali. Disudut lain, rupanya kelompoknya Ilham
dkk. Juga telah merampungkan hajat “aklimatisasi” diwarung tersebut dan
ternyata sudah siap untuk berangkat terlebih dahulu dan berpamitan untuk memulai perjalanan -Hati-hati
bro!!!, Kami terpaksa sedikit menambah jam istirahat karena memang anggota
tubuh ini masih terpengaruh oleh serangan Motor”Lag” (jet lag umumnya)-leyeh-leyeh
sik ya!!! Berhubung hari itu adalah hari Jum’at maka kami memilih opsi Rukhsoh
(keringanan) dalam perjalanan atau musyafir untuk meninggalkan kewajiban Sholat
Jum’at bagi setiap laki-laki muslim (jangan ditiru ya rek). Sehingga dijalan
nanti tidak risau dengan tanggungan yang seharusnya kami kerjakan.he.he
Pukul 11.30 kami siap memulai
perjalanan, menaklukkan langkah demi langkah menuju puncak yang dituju, puncak
mahameru. Awal perjalanan kami disambut oleh petugas pemeriksa tiket pendakian
untuk memeriksa ulang legalitas pendakian dan atas kepatuhannya terhadap setiap
tahapan akhirnya kami pun mudah melenggang karena telah lolos verifikasi tahap
akhir. Dan tak jarang ada serombongan pendaki harus mengurus kembali perijinan
pendakian karena nylonong untuk langsung melakukan perjalanan. Jalan dimulai
dengan medan menurun menyusuri jalanan beraspal sampai pintu selamat datang
pendakian, sebuah gapura dengan tulisan bold diatasnya menyambut-memberi tanda
kepada kami para pendaki agar menyiapkan mental dan fisik memasuki rute pendakian. Sembari berjalan
menghampiri start point pendakian kami sempatkan melihat-lihat alam sekitar yang
cenderung berupa perladangan khas perdesaan di pegunungan. Di sekitaran rute
awal pendakian masih didominasi tanaman sayuran dengan beberapa selingan tanama
keras dibeberapa galengnya, dengan kontur tanah yang lumayan datar dan luas membuat
bentangan tanaman nampak terlihat jelas. Ladang tanaman dibawah kaki bukit-bukit
kecil semakin menambah indah pemandangan dan sedikit banyak mencairkan suasana
yang saat itu memang lagi panas-panasnya, menambah gairah disuasana yang cukup gerah.
Gapura seakan menjadi pelipur lara dari Start yang terkesan terasa berat (itu hanya
perasaan! dan nampaknya kami masih butuh pemanasan lagi). Dan akhirnya kami akan benar-benar segera
memulai perjalanan ini, menjamah-mengenali apa yang sang Pencipta telah
ciptakan berbagai bentuk kehidupan di dalamnya.
Sebelumnya
sesi foto-foto menjadi moment yang tidak boleh terlewatkan bagi setiap pendaki
(termasuk kami) untuk setidaknya mengabadikan setiap kesempatan berharga dan
berkesan. (kelihatannya bakal sering foto-foto kie.h.h). Doa tak lupa kami
panjatkan agar perjalanan ini lancar sesuai dengan apa yang diharapakan dan
setiap langkah benar-benar mendapatkan ridha Allah sang Penggenggam kehidupan. Dan
setidaknya perjalanan ini tak semata untuk merealisasikan impian tapi lebih
menjadi wadah untuk mendekatkan diri. Maka, dengan ini kami benar-benar mantap
untuk memulai perjalanan yang sesungguhnya untuk menaklukkan pos demi pos, spot
demi spot pendakian.
![]() |
| "Foto sering menjadi pengingat kenangan yang kadang hilang dari ingatan" |
LANGKAH AWAL (Menuju Kumbolo)
Pukul 12.00 kami mulai melangkahkan
kaki menyusuri jengkal demi jengkal rute perjalanan dan sang gapura lambat laun
mulai jauh kami tinggalkan. Menurut informasi, untuk menuju camp kumbolo
setidaknya para pendaki membutuhkan waktu tempuh selama ± 4-5 jam dengan cara jalan standar
pendakian. Setidaknya 4 pos harus kami lewati dengan range jarak dan waktu
tempuh yang berfariasi yaitu Ranupani menuju Pos I - Landengan Dhowo (1 jam : 3
km), Pos I menuju Pos II - Watu Rejeng(1 jam : 3 km), Pos II menuju Pos III (1,5
jam : 2 km), Pos III menuju Pos IV – Ranu Kumbolo ( 2 jam : 2,5 km). Rute awal
lumayan membuat kami melakukan pemanasan dini dengan cucuran keringat di dalam pakaian dan beberapa pori-pori dahi,
sembari menerawang memprediksi bagaimana langkah selanjutnya, terlihat beberapa
pendaki yang sudah terlihat gontai menuruni satu persatu jalan yang kebetulan
sudah ditata beton bata. Dengan raut berbinar mereka menyapa-menyemangati kami
yang kebetulan berpapasan dan menurut saya hajat mereka telah terlaksana, entah
hanya sampai ranu kumbolo - oro ombo-kalimati atau sudah sampai summit
mahameru, tapi yang penting mereka dapat selamat sampai ranu pani adalah salah
satu pencapaian utama dari setiap pendakian. Dengan tekad ini kami justru ingin
menggapai bonus yang telah ditawarkan Sang Maha Rupawan, yaitu Sunrise Puncak
Mahameru yang telah menunggu. Tak hanya selamat pulang sampai kampung halaman
tapi juga dapat merasakan Khusuk di puncak impian, sebuah tempat yang diidamkan.
Sepanjang
jalan menuju pos 1 - (landengan dowo) para pendaki disuguhkan jalan dengan alas
bata beton yang tertata rapi menyusuri vegetasi yang masih lumayan alami
(maklum taman nasional). Cukup lama berjalan akhirnya Pos pertama sudah ada
dihadapan, bukannya tinggal melangkah 2-3 hasta pendaki diharuskan melipir mengikuti lereng untuk berpindah
punggungan, soalnya jurang bro!! Dan terdengar riuh membahana suara para
pendaki bercengkrama (entah ingin naik apa sudah mau turun) apalah, yang
penting kami harus break terlebih dahulu untuk memompa tenaga yang sedikit banyak
telah terkuras dietape pembuka dengan beban yang masih utuh tersimpan.
![]() |
| "Letih sering menemani, tapi kebersamaan lebih sering mengalahkannya" |
Pos 1 akhirnya terlewati, 1 jam-an
perjalanan telah kami habiskan dengan 1 literan minuman penambah stamina ludes
disruput kami berempat dan kelihatanya kami sekarang benar-benar fearless tapi rada
males.h.h (jangan ditiru karena katanya tidak baik untuk kesehatan jangka
panjang). Menyusuri landengan dowo menuju pos 2 kembali banyak dijumpai pendaki
yang mau naik dan yang mau turun, saling sapa dan saling menyemangati tak segan
mereka ucapkan bukti pendaki saling berkawan sepenaggungan, tanpa batasan tanpa
penghalang. Dan kami benar-benar bertemu dengan mereka yang sepenanggungan,
yaitu mereka adalah pendaki dari Jakarta yang telah menyelesaikan setiap rukun
pendakian dan kini mereka sudah dalam perjalanan turun. Sedikit curhat-cerita,
bahwa kami berangkat dari Boyolali dengan menggunakan sepeda (motor) dan sampai
sekarang sisa letih pun masih terasa. Dan bisa dibayangkan 4 pendaki dari
Jakarta ini juga menggunakan sepeda motor untuk sampai kesini (ranupani), haduh…
berapa hari bro!!Ditambah jalur yang mereka tempuh pun sedikit jauh dari yang
idealnya ditempuh (seperti yang kami lewati), yaitu mereka melewati jalur
wonogiri, Ponorogo, Tulungagung, Blitar dan akhirnya Malang (“Who Take”).
Namun, Terlihat dari rona di wajah mereka tak menggambarkan keletihan yang
mereka rasakan, dan saya kira kali ini Semeru benar-benar telah memberikan apa
yang mereka idamkan. Salut pada insan-insan Edan ini. (tak bisa dibayangkan
bagaimana mereka pulangnya). Hati-hati ya sob!!
Setelah melanjutkan perjalanan
akhirnya pos 2 sudah terlihat jua, dan kembali, sudah banyak pendaki yang sudah
mangkal dibawah atapnya. (Really Jurney Time). Sebagai informasi jika melakukan
pendakian saat liburan panjang, yaitu sudah adanya penjaja jajanan yang berasal
dari warga sekitar yang berjualan di setiap pos yang dilewati pendaki(kecuali
pos IV). Mereka menjual makanan-minuman siap santap seperti teh manis,
semangka, gorengan, nasi kucingan dll (mungkin karena banyaknya animo pendaki
di waktu liburan panjang), bisa menjadi pilihan bagi mereka yang tidak ingin
membawa terlalu banyak beban. Pendeknya, break urung kami nikmati dan kaki segera
kami langkahkan karena memang pos telah berjubel pendaki yang sedang asik
menikmati suguhan. Sebenarnya untuk mempercepat waktu perjalanan (hemat 1
jam-an), pendaki diberi opsi untuk mengambil jalur baru menuruni lembah setelah
pos II yang kelihatannya medannya sedikit curam. Opsi itu diberikan selain
mempersingkat waktu pendakian juga karena adanya longsoran cukup besar sebelum
watu rejeng yang dikhawatirkan saat hujan terjadi hal yang tidak diinginkan. Kali
ini kami ambil jalur lama yang lebih landai jalannya (cocok dengan beban
bawaan) dan kelihatannya pendaki lain pun memilih pilihan yang sama ditambah
banyaknya pendaki cewek yang mengambil rute tersebut dan mungkin bila nanti
butuh bantuan kami siap siaga (namanya saja usaha^^). Dan benar, longsoran
cukup besar berkisar 15 meteran menganga
didepan mata, harus hati-hati meniti jalan dan tali pengaman yang telah
dibentangkan. Harus sabar dan antre giliran karena banyak pendaki lain yang
juga ingin lewat disatu-satunya jalur bila opsi jalur baru tidak di ambil. Mungkin
cukup mudah bagi seorang pria namun tidak bagi pendaki wanita yang pada
dasarnya menyukai jalanan yang nyaman, seperti dalam sebuah hubungan (sotoy.he.he.)
Untuk mencapai Pos III kami harus
melewati Watu Rejeng dengan medan yang masih landai dan sedikit berbatu cukup besar
dibeberapa tempat (makanya disebut daerah Watu Rejeng kali ya). Disekitarnya
masih bisa diketemukan pohon-pohon pinus dan cemara yang kira umurnya sudah mencapai
ratusan tahun lamanya dilihat dari ukuran dan banyaknya tanaman epifit yang
menempel didahan-dahannya,sungguh-sunggguh eksotis. Sampai juga di Watu Rejeng
yang dapat diidentifikasi dari plang informasi yang tertancap di sebelah kanan
jalur pendakian. Waduh hal yang tidak diinginkan pun kami alami, kali ini kami
harus berjumpa dengan penunggu Watu Rejeng!! Meraka berwujud wanita dengan
perawakan tinggi putih dengan rambut nampak mulai memutih. Bukannya takut,
salah satu di antara kami malah ingin ngajak berfoto (siapa ya???^^), pantas
saja, mereka bukanlah makhluk halus melainkan 2 wanita bule muda yang sengaja
beristirahat di tempat yang cukup teduh tersebut *intermezzo* (walaupun itu mungkin
saya gerah sendiri jika berlama-lama disana.h.h). Dengan berat hati kami
merelakan waktu breaking terlewati dan langsung melenggang-meninggalkan pos
Watu Rejeng (godaanya lebih besar dari pada ketemu penuggu aslinya nde). Menuju
pos III lagi-lagi kami harus berpapasan dan juga menunggu laju sesama pendaki.
Tak ayal kami harus rela berhenti-menunggu–menyamakan ritme sesama pendaki dan kadang
menepikan badan-mepet dengan semak ilalang karena memang lebar jalan tak begitu
besar untuk salang salip-salipan maupun berpapasan.
Pos III akhirnya sampai jua kami
disana, bukannya istirahat kami justru lempeng saja melanjutkan perjalanan.
Bukan tanpa alasan kami tak mengambil waktu break untuk sebentar istirahat dari
penat, banyaknya pendaki yang berjubel memenuhi sekitaran bangunan sederhana
dengan plang pos tiga itu membuat kami urung meletakkan Carrier. Kuat dugaan medan yang akan dilewati beberapa langkah
setelah pos III menjadi alasan mengapa para pendaki menjadikan lokasi tersebut
sebagai lokasi break bersama baik yang mau naik dan yang turun. Trek yang tidak
terlalu panjang dengan sudut kemiringan 60an0 membuat para pendaki
setidaknya lebih ingin berlama-lama untuk meluangkan waktu memulihkan tenaga
sebelum benar-benar melewati tanjakan tersebut sehingga tidak menyisakan space
bagi mereka yang ingin sejenak memarkirkan badan (aku rapopoT.T). Tak ayal pendaki
yang tak kebagian tempat langsung disuguhkan medan tanjakan yang kelihatannya
akan sedikit banyak akan menguras tenaga. Akhirnya langkah demi langkah
terpaksa langsung kami ayunkan untuk mendaki diatas kelelahan ini dan langsung
menuju Pos IV – Ranu Kumbolo. Terlihat medan tanjakan dengan struktur tanah
gembur dengan sedikit basah karena gerimis dan kabut membuat para pendaki harus
sedikit berhati-hati untuk menapaki ataupun menuruninya karena terpeleset bakal
langsung siap-siap ngglundung dengan kemiringan cukup terjal tersebut.h.h.
Sekitar 15 menitan tanjakan itu baru khatam-terselesaikan karena selain harus
berjibaku dengan sudut kemiringan, beban bawaan, juga harus saling mengerti
kondisi medan yang akan didaki sesama pendaki, itung-itung latihan buat summit
Mahameru nanti.oke!
Setelah lolos dari cengkraman medan
yang cukup sadis menyiksa, kami diharuskan menempuh 1,5 -2 jam perjalanan lagi
untuk sampai di pos IV – Ranu Kumbolo. Sementara itu waktu sudah menunjukkan
pukul 15.30 atau 4 jam dari basecamp Raupani itu artinya kami akan tiba disana
pukul 17.an sehingga kami harus berpacu dengan waktu dan surutnya cahaya sang surya.
Karena menurut informasi cuaca di Ranu Kumbolo saat senja sampai paginya bisa
mencapai kurang dari 100 dan bisa dibayangkan bagaimana gugupnya
mendirikan tenda di camp kumbolo dengan udara dingin yang menerpa badan.
Makanya medan landai dengan menyusuri punggungan perbukitan harus segera kami
susuri dengan tetap memperhatikan kondisi kelompok dan kepentingan orang lain.
Jalanan sempit tetap masih mendominasi dengan intensitas pendaki yang cukup
padat baik yang menuju ke atau telah dari kumbolo, itu membuat ritme berjalan
kami harus terbatasi dan harus tetap mengendalikan ego diri pribadi. Setelah
berjalan cukup lama, langit mulai meredup tanda matahari sudah akan tergelincir
keperaduannya ditambah kabut lumayan tebal menutupi pandangan dan daerah
disekitar rute perjalanan yang membuat kami buta sampai dimanakah ini?? (Yang
katanya dari jarak tertentu Kumbolo pun sudah dapat terlihat saat cuaca cerah).
Hal tersebut lantas tak membuat kami patah ara untuk segera sampai di Pos IV-
Ranu Kumbolo. Pepatah Malu Bertanya Sesat Di Jalan pun kami gunakan untuk
memastikan berapa lama lagi perjalanan panjang ini akan berakhir dan bebarapa
pendaki yang turunpun menjadi sasaran kami untuk bertanya. Katanya pos IV
(belum camp Kumbolo) akan segera tiba sekitar 20 menitan lagi, oke fix!! Runbelt Carier segera kami kencangkan
untuk sedikit mempermudah dalam mempercepat langkah dan akhirnya 20 menit sudah
terlewati namun nampaknya tanda Kumbolo belum juga terlihat. Rasanya seperti
dikhianati seorang kekasih (sakitnya tuh disini-sambil menunjuk dengkul). Tidak
lantas terlarut dalam keputusasaan, langkah kaki segera kami percepat menembus
kabut yang sedari tadi menutupi pandangan. Akhirnya angin nampaknya mulai
bersahabat untuk mulai mengarak kabut melepas penghalangnya, dan terlihat samar
pendar kumbolo mampu sidikit memberikan harapan. Bukti Allah maha Kuasa memberikan
jalan bagi hambanya ketika dalam sebuah “batasan” (pasti ada jalan setelah
kesulitan). Dan Akhirnya kami sampai juga di Pos IV dan sayup-sayup Kumbolo nampak
terlihat masih tertutup kabut tipis. Danau air tawar diatas ketinggian 2400
mdpl dengan luas sekitar 14 hektar ini seakan menjadi oase bagi mereka yang lupa akan kemahabesaran sang
Khaliq, yang telah kering akan rasa bersyukur dan yang rindu akan kebebasan
juga petualangan. Dan itu artinya 1/3 perjalanan kami akan sudah lalui untuk
menggapai puncak tertinggi, dan kali ini Kumbolo telah menyambut kami untuk
singgah barang satu malam untuk lebih berkenalan lagi dengan salah satu
mahakaryaNYa ini.
![]() |
| "Perjalanan panjang akan lebih membahagiakan ketika sang pujaan telah berada dipersimpangan jalan, dan dialah Kumbolo" |
Tak ingin berlama-lama di pos IV,
kami kembali harus berpacu dengan waktu dan kepentingan sesama pendaki karena selain
waktu telah menunjukkan pukul 17.15 dan nampaknya camp Kumbolo di Ujung sana
sudah banyak tenda yang didirikan, khawatir tidak ada space lagi mendirikan
tenda untuk bermalam. Kali ini sifat egois sedikit kami kedepankan karena
antusias pendaki kali ini sudah melampaui batas, Kumbolo menjadi “Salter
Pengungsian Liburan”, setidaknya 2 lokasi camp yang disarankan sudah berjubel
tenda para pendaki. Kami segera menuruni jalan dari pos IV, setidaknya 15
menitan harus kami tempuh untuk mencapai 2nd
Camp kumbolo (di kaki tanjakan cinta)
dengan cara menyusuri tepian telaga atau sedikit naik melewati punggungan. Akhirnya
Camp pertama sudah terlihat, sebuah pantai danau air tawar dengan pasir/ tanah
berwarna coklat kehitaman membentang luas namun sudah terisi tenda-tenda
berdiri dan kami bertemu dengan Ilham dkk
yang nampaknya sudah mendirikan tenda sedari tadi. Rupanya rangkaian
pendakian mereka hanya akan sampai di Kumbolo karena tujuan awal arek Surabaya
ini memang hanya sampai disini (sayang sekali jika kami jauh-jauh hanya sampai
disini). Pun dengan pendaki-pendaki lain yang mungkin hanya menjadikan ranu
Kumbolo sebagai tujuan pendakian sehingga tak ayal dilibur panjang ini setiap
camp penuh sesak dengan tenda-tenda mereka. Setelah berjabat tangan kami langsung
meneruskan ke camp kedua karena melihat hari sudah mulai senja dan diharuskan
mencari lokasi bermalam yang masih tersisa. Dua pilihan jalan yang telah
disediakan, kami memilih melipir tepian danau untuk lebih berinteraksi-mengenal
kumbolo lagi, walaupun harus dengan bersusah payah melompati-merunduk karena
pohon tumbang yang melintang dengan beban Carier
yang tidak cukup nyaman untuk berjibaku laiknya seorang serdadu. Dan akhirnya
kami sampai di 2nd Camp Kumbolo
dengan tenda berwarna-warni ,disana-sini, membentang dari ujung ke ujung dan
dengan brand yang berfariasi, tapi kali ini kami tidak menemukan tenda pramuka
disana.he.he. Hawa dinginpun mulai menerpa raga menandakan malam mulai
menjelang, langitpun sudah begitu redup tapi Tanah Kumbolo masih terlihat untuk
sekedar mencari tempat bernaung. Dan di sudut kiri dari barisan komplek
pertendaan sanalah kami putuskan, untuk mendirikan tenda di space cukup nyaman
yang masih tersisa. Carier langsung saya letakkan dengan keringat sudah begitu
membasahi pakaian dan segera merangkai frame demi frame untuk segera didirikan.
Jam 18.00 tenda siap dihuni dan
barang-barang yang nampak semprawut langsung masuk kedalam. Alhasil kami
kelimpungan lagi untuk menatanya agar lebih teratur dan nyaman untuk
benar-benar dipakai untuk istirahat. Setelah barang-barang penting kami yakini
sudah masuk, giliran kami merefresh
pikiran dengan bergantian untuk melakukan Qadha sholat dhuhur- ashar dan qasar
sholat Maghrib vs Isya’ (sungguh parah^^), tak kami lakukan secara berjamaah
karena memang tempat tidak memungkinkan untuk menyelenggarakanya. Kali ini
giliran saya melakukan rapelan sholat (bukannya gaji saja yang dirapel). Kali
ini walaupun suasana tidak sekhusyuk yang diharapkan namun alam Kumbolo dengan
hawa dinginnya yang semakin terasa membuat hati sedikit terbawa kedalam suasana
haru. Barisan bintang yang terlihat jelas di ketinggian memprofokasi diri untuk
lebih berlama-lama bersimpuh (seperti duduk iftirash) mentadaburi apa yang
dilukiskan sang Pencipta malam itu. Sabuk galaksi yang seperti awan memanjang
di langit malam nampak begitu lebih banyak daripada jika dilihat dari tempat
rendah. Hanya satu kata yang dapat merepresentasikannya “Allahuakbar!!!”
sungguh maha besar Engkau atas segala maha karya yang Engkau ciptakan. Singkatnya
selain hawa dingin yang mulai mematirasakan jari kaki (Jimpe) suara kawan yang
ingin juga berada dalam sebuah ritual penghambaan mengakhiri kontak batin ini
dengan penciptanya dan sarana yang telah diciptakaNya (mbuh conect apa
tidak.h.h.). Sajadah matras dengan arah elevasi kiblat yang hanya kami perkirakan
ditambah lebih tingginya tempat sujud daripada tempat berpijak akhirnya ikhlas
saya tinggalkan menuju zona nyaman yang telah disediakan.
Setelah masuk ke dalam tenda, kondisinya
cukup porak poranda dan baru sadar bahwa barang/logistik yang kami bawa melebihi
dari apa yang kami butuhkan (pantesan abot men rek-rek) dan saya prediksi ada
beberapa barang yang akan tidak terpakai/ termakan sampai pulang nanti. (unusable well, Jangkr*k!!! ). Setelah suasana
lumayan kondusif, kami sempatkan untuk memasak masakan mainstream khas pendakian yang tak
lain dan tak bukan Mie Instan yang kali ini kami kombinasikan dengan
beberapa potongan sosis, loncang dan sayuran. Tak lupa kacang hijau siap makan
buatan ibu saya menjadi menu tambahan selain teh manis, beberapa surungan camilan dan buah untuk
penutupan. Ditambah nanakan nasi yang tidak jelas juntrung orientasinya, melengkapi
menu hari ini untuk melelapkan diri-mengistirahatkan badan dari perjalanan
panjang yang tidak memberi waktu untuk lebih banyak memejamkan mata dan
merebahkan badan. Dan akhirnya Dinner kali
ini disudahi dengan menyisakan cukup banyak masakan-masakan yang tadi rasa-rasanya
bisa ludes saat sedang kelaparan. Dan sisanya pun kami geletakkan saja di teras
tenda, berharap esok masih bisa dimakan (Kurowo tenan). Satu per satu Penduduk tenda memposisikan
diri masing-masing untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Kali ini
diskusi malam tak akan mungkin sempat kami lakukan melihat badan begitu lelah
dan mata begitu kantuk ditambah udara dingin Kumbolo yang mengajak untuk
berhibernasi, tepat untuk melakukan tidur panjang. Celoteh singkat nampaknya
keluar juga sebagai obrolan kosong yang mungkin tak akan sampai masuk kedalam
telinga, hanya menjadi igauan sebelum lelap benar-benar terasakan. Dan doa akan
tidur benar-benar mengantarkan kami ke alam mimpi untuk benar-benar
merelaksasikan segala urusan dan beban diri yang esok akan kami lalui, mencapai
puncak tertinggi dataran ini. Selamat Tidur!!!!
“Kumbolo
akan selalu setia disini, ikhlas memberi kepada setiap pendaki dengan telaganya
yang begitu jernih, langitnya yang begitu mempesona, dan lukisannya yang begitu
rupawan. Kumbolo adalah oase ditengah Sahara Semeru dan merupakan fatamorgana
nyata yang sungguh dapat kita rasakan. Kumbolo sungguh anugerah yang diberikan
sang pencipta bagi mereka yang mau berfikir, berdzikir dan khawatir akan masa
depan yang tidak akan kita ketahui kecuali kita sendiri yang mengusahakannya. Kumbolo
tak akan bermuram durja jika pikiran dan perilaku picik kita tak mengkontaminasi sekecilpun tetesnya. Kumbolo tak akan kemana
jika kita ikut menjaganya, melestarikan alamnya walaupun itu hanya sekedar
membawa sampah pribadi kembali keasalnya. Jangan biarkan Kumbolo seperti
Oro-oro Ombo, walaupun sama-sama indah tapi hanya sekedar untuk dipandang saja,
biarkan ia tetap mengalir tanpa harus dibendung oleh sempitnya fikir, angkuhnya
jiwa dan egoisnya diri mereka yang jadi tamu di Alam ini. Kumbolo biarlah
menjadi dirinya sendiri tanpa harus menyesuaikan keinginan dan kepentingan sesaat
yang sering dipaksakan mereka yang sering mengusungkan dirinya dalam sebuah
nama Pecinta Alam. Bahwa pecinta alam bukanlah sekedar nama tapi lebih kepada
bagaimana ia melaksanakannya dalam bentuk amalan dan Kumbolo benar-benar
menjadi ladang ia menebar benih kebaikan yang akan dituai anak cucu dimasa
depan” Kumbolo, 16 Mei 2015.
![]() |
| "Kita tak akan tahu dalamnya telaga tanpa menyelam ke kedalamnya, Namun kita akan benar-benar tahu kedalamnya jika terus selalu menjaganya" |
MENIKMATI KUMBOLO
Sabtu, 16 mei 2015 pagi pun menjelang dan kali
ini kami sedikit telat bangun untuk melaksanakan sholat tepat waktu. Pukul 04.45
bukannya suara ayam berkokok yang membangunkan seperti dalam cerita-cerita mainstream, kali ini Uyablah yang
berkokok sembari menghalalkan tangan-tangannya merusak tidur lelap kami agar ia
yakin kami dalam keadaan sudah bangunh.h.h. sontak tubuh ini terbangun dari
tidur panjangnya dan secara tidak sadar langsung membuka resliting penutup
tenda yang semalam sudah menghijabi kami dari terpaan hawa dingin Kumbolo. Dan
Nampak terlihat sunrise akan segera muncul (hanya ronanya karena inti matahari masih
tertutup bukit) dan warna khas pagi sudah sembuarat terlihat. Hawa dinginpun
masih sangat terasa sehingga tubuh ini pun enggan beranjak dari dalam kantong
tidur yang sudah teradaptasi dengan alam kehangatan. Kewajiban sebagai insanpun
menjadi pemecut untuk segera keluar dari zona nyaman untuk menuju tempat wudhu
yang Kumbolo telah sediakan (ambil langsung). Uap dingin Air yang menari-nari
seakan menggoda kami untuk segera membasuhkan setiap anggota badan rukun wudhu,
yang nampaknya masih segan untuk segera mengawalinya. Dengan sedikit terpaksa
akhirnya satu persatu rukun terselesaikan (sebelumnya sudah gosok gigi lo
ya!!), dan saatnya menuju tempat peribadatan yang kelihatannya semalam belum
sempat dikemas dan melekatkan embun dingin diatasnya. 2 rekaat sunnah
tergenapkan menginjak 2 rekaat fardhu, namun kaki ini sudah serasa mati rasa
menahan hawa dingin yang menerpanya. Kelihatannya rasa khusyuk lebih mampu
untuk meredamnya, atau setidaknya batin ini benar-benar tidak sedang dalam
kedinginan he.he. Subbhanallah!!! (Maha Suci Allah)
![]() |
| "Kadang rasa khusuk tidak hanya didapat dari dalam jiwa semata, namun juga dengan caradari melihat mahakaryaNYa" |
Mentari
pun mulai beringsut meninggi dan masing-masing dari kami telah melaksanakan
kewajibannya. Perut ternyata terpengaruh hawa dingin yang menerpa, dan sisa makanan
yang telah beku nampaknya menarik untuk dijadikan makanan pembuka pagi ini,
sebelum ritual tawaf ranu Kumbolo untuk mengeksplore sekitarnya benar-benar
kami mulai (atau lebih tepatnya foto-foto.h.h). Mie instan dingin ditambah
kacang hijau beku menjadi nikmat saat dipadu dengan rebusan teh hangat yang
mencairkan suasana dipagi yang begitu dingin ini. Setelah menyamankan perut
dari rasa lapar akibat pembakaran kalori dimalam hari, kami segera
mempersiapkan diri untuk melakukan ritual wajib ala pendaki. Camera HP, kamera
SLR, tongsis dan tripot sudah siap digunakan untuk berburu view di sekitaran
Ranu (telaga). Selayaknya tawaf (rukun ibadah haji) kami ambil langkah searah
jarum jam dengan melipir disepanjang tepian. Baru beberapa langkah dari tenda
kami sedikit terkejut melihat embun yang melekat diatas rerumputan yang berubah
menjadi salju (pantasan jari serasa membeku) dan mengira-ira berapa suhu yang
diciptakan hawa dingin tempat itu. Dalam perasaan masih keheranan kami segera melanjutkan
langkah kami mengitari ranu Kumbolo, dan satu persatu spot sepertinya sayang
untuk terlewatkan. Vegetasi disekelilingnya masih cukup terjaga dengan
pohon-pohon besar sampai semak rerumputan belum ada mengalami kerusakan yang
berarti. Pohon cemara-cemara besar tegak berdiri menaungi pinggiran danau dan
ada yang sudah tumbang namun masih dibiarkan tetap alami menjadi view Faforit
para pendaki (teori evolusi nampaknya sedikit terbukti.h.h). Air yang begitu
jernih dengan ikan air tawar yang begitu jelas terlihat bebas berenang ditepian
telaga menambah rasa kekaguman kami terhadap ciptaanNYa ini. Sesekali kita
jumpai makanan-makanan sisa yang masih saja dibuang didalam telaga baik nasi,
bungkus makanan dll dan itu amat sangat disayangkan sekali. Kami yang tidak
mengusung diri dalam sebuah wadah pecinta alam pun trenyuh kondisi yang
diperbuat sesama pendaki ini dan semoga sematan itu tak hanya sekedar nama yang
tertera dalam banner sebagai media pengukuhan diri. Dan yang membuat saya tambah
ilfeell kali ini adalah adanya telor-telor manusia yang dibiarkan menganga di
semak yang terlihat rimbun terjaga, nampaknya tempat tersebut dijadikan lokasi strategis
untuk buang hajat para pendaki yang malas untuk mengantri di toilet portable
yang telah disediakan atau enggan membuat lubang dan menutupnya kembali seperti
yang disarankan saat pembekalan (jadi malu sama Kucing, meong!!!). Walaupun
telor-telur itu temasuk bahan organic yang mudah terurai oleh siklus alam tapi
secara estetika itu jauh dari asas kepatutan seorang pendaki, yang meninggalkan
secara semena-mena bongkahan dengan berbagai jenis warna dan bau berbagai rasa
tanpa ada pertanggungjawaban yang mestinya dilakukan seorang pendaki. (Stop
mbahas perteluran bagi seluruh rakyat Indonesia yang mungkin tak selesai barang
di urai seharian).
![]() |
| "Kawan sejati adalah amal kebajikan, dan carilah teman dengan kebaikan itu" |
Setelah berjalan ¼ putaran kami baru tahu bahwa ternyata sebenarnya ada tiga
tempat yang cukup luas yang memungkinkan untuk mendirikan tenda, selain 2 camp
yang telah kami ketahui ada satu camp yang cukup dekat dengan perjalanan pulang,
tapi kali ini sudah lumayan penuh terpakai juga. Selain itu tempat yang cukup
sempit dipinggiran telaga dimanfaatkan (dipaksakan) pendaki untuk dijadikan
tempat camp, yang menurut balai taman nasional hanya 2 camp saja yang
direkomendasikan bisa menjadi tempat camp karena dikhawatirkan akan merusak
ekosistem disekitarnya dan menguraingi keindahan kumbolo yang begitu menawan
(apa daya kita mencegahnya toh aturan diciptakan untuk dilanggar tapi bisa juga
untuk dipatuhi bagi mereka yang mau memahami). ¾ putaran akhirnya kami tempuh,
dan kami tiba di camp tempat arek-arek Surabaya menginap dan terlihat dari
kejauhan mereka sudah tampak asik berselfie ria mendokumentasikan momen intim
dengan Kumbolo. Kertas-kertas tulisan khas anak alai kesepian bertebaran dengan
berbagai macam ungkapan siap untuk digunakan dan memang sengaja mereka buat
untuk mengikuti pola menstream yang kini sedang berkembang di dunia
kependakiaan (kami pun tidak bilang tidak untuk itu h.h. & yang terpenting
bisa menjaga sampahnya). Dan Saling sapa menanyakan kabar menjadi bahan
percakapan diantara 2 kelompok yang terpisahkan ini, dan foto bersama
setidaknya akan kembali bisa menyatukan hubungan dan mengabadikan tali
persahabatan yang telah terjalin. Diperjalanan kami juga bertemu dengan salah
dua diantara mereka dan foto bersama tak kami lewatkan. Akhirnya kami pun
berpamitan agar jalinan persahabatan tetap terjaga dan seling mendoakan agar
perjalanan masing-masing mendapatkan ridha Sang Penggenggam Kehidupan juga
keselamatan sampai tujuan.
![]() |
|
"Kebajikan takkan pernah
menghianati, dan karena alam adalah kawan jangan khianati dengan sebuah
kepicikan" (bawalah pulang sampah kalian)
|
Setelah menghabiskan
waktu yang kami mubadzirkan, kami harus segera bergegas ketenda untuk masak, prepare
dan packing semua barang bawaan agar tidak kesiangan memulai start pendakian
dan kemalaman sampai di camp Kalimati. Melihat tenda dari kejauhan sungguh
sangat memprihatinkan, barang-barang berserakan diteras dan dalam ruangan.
Bukan karena mengalami aksi pencuriaan tapi lebih tak memperhatikannya kami
akan sebuah kerapian, ditambah tenda yang hanya cukup muat 4 insan jika tanpa
barang yang membutuhkan space berarti, membuat barang-barang pribadi berserakan
kesana kemari.h.h. mungkin beda cerita kalau ada wanita di dalam hajat
pendakian pria, pasti akan rapi dan lebih akan tertata.Amin ya Allah!!! Hal itu
dapat dilihat dari tenda-tenda tetangga yang jelas lebih bersih dan tertata
terutama yang ada wanita didalamnya, jadi adem melihatnya. Tak menjadi
persoalan tentang kerapian toh akhirnya nanti akan kami kemasi rapi tanpa bekas
dan sampah satupun, itu point pentingnya(ingat!!). Dan memasak menjadi agenda
selanjutnya, Menu Mainstream masih menjadi andalan para koki amatiran ini
dengan kombinasi mie yang lebih ekstream lagi (soto vs mi goreng yang tadi
malam cukup selaras ayam bawang vs mie goreng.h.h) dicampur sosis dan irisan
sayuran lebih berfariasi dengan kobis dan brokoli. Akhirnya makan jua setelah
berlama dalam aktifitas kemainstreman pendakian, dimana kami menghabiskan
kurang lebih 2 jam untuk sekedar mengabadikan setiap momen dengan Ranu Kumbolo.
Dan bagi saya sampai ke tempat yang diinginkan pun sudah menjadi bonus
tersendiri dan akan mudah terAutosave kedalam ingatan. Memang foto menjadi
sekedar media saja untuk lebih mengingatkan momen yang telah kita lewati tapi lebih
daripada itu ingatan akan jauh lebih membekas dan lebih berarti. (sokbijak!!)
![]() |
| "Kumbolo akan selalu setia disini, ikhlas memberi kepada setiap pendaki dengan telaganya yang begitu jernih, langitnya yang begitu mempesona, dan lukisannya yang begitu rupawan" |
Pukul
09.00 kami segera memberesi tempat yang kami gunakan untuk bermalam, kali ini
kami membagi tugas agar lebih menyingkat waktu ada yang cari air untuk
keperluan nanti di Kalimati, mencuci perabot juga nesting dan ada yang
memberesi tenda yang masih berdiri. Matahari mulai meninggi dan udara pun mulai
panas terik, sementara perabotan sudah bersih dan tenda siap dikemas. Kami siap
mempacking semua barang bawaan yang nampaknya kami ini justru tambah sedikit
berat karena logistic tak banyak digunakan tapi tambah muatan 2 botol 1 ½
literan air mineral, wis rapopo!!! Selama kami packing, nampaknya pendaki lain
sudah mulai meninggalkan camp Kumbolo untuk pulang atau berangkat menuju camp
selanjutnya dan kelihatanya kami sudah kloter yang paling akhir. (langsung
mekah kie.h.h). pukul 10.00 kami baru meyelesaikan semua keperluan, baik barang
bawaan atapun segala macam sampah pribadi. Untuk sampah kami sengaja simpan
dulu di ilalang yang sudah kami beri tanda dan tulisi bahwa, sampah itu milik
kami dan akan kami ambil saat pulang takut nanti dibawakan orang lain yang
memang benar-benar cinta lingkungan (jane lumayan).he.he. sampah organic kami
sengaja buang ditempat yang telah kami tentukan sementara sampah anorganic kami
sendirikan untuk diambil saat pulang (trust
me, we’re realman). Dan akhirnya kami benar-benar siap untuk melanjutkan perjalanan,
menuju camp selanjutnya camp Kalimati. Tak lupa doa kami panjatkan bersama agar
perjalanan kami ini benar-benar memberi kebermanfaatan bagi batin dan jiwa,
mendapatkan ridha Allah SWT Sang
Penggengam Alam Raya. Dan mendapatkan
kekuatan juga keselamatan sampai tujuan. Doa selesai, kaki sudah siap menapaki
setiap jengkal tanah ini dan Tanjakan cinta sudah ada didepan mata, menanti
sedari tadi untuk menguji keimanan kami akan sebuah pemahaman akan cinta dan
jodoh sebagai tolok ukurnya. Mitos yang menurut saya lebih kepada sebuah
keihlasan meninggalkan tempat yang dicintai juga dirindukan untuk menggapai
pencapaian yang lebih tinggi lagi tanpa harus melupakan tempat yang telah setia
menanti dan ikhlas memberi untuk ia yang telah bertekad untuk menggapai sebuah
impian.
![]() |
| "Cinta lebih pada bagaimana memberi dengan sebuah ketulusan, menerima dengan rasa kebersyukuran dan ikhlas dengan apapun yang telah digariskan" |
Bersambung dulu....

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar