Menuju ½ perjalanan (camp Kalimati)
Pukul 10.00 kami mulai bergerak
untuk menuju camp selanjutnya dengan
diharuskan menapaki tanjakan yang sarat akan mitos asmara tersebut. Lurus membentang
menantang kami untuk mencoba sensasi kepercayaan yang selama ini dihembuskan
dan telah menjadi bagian dari rute pendakian Semeru ini. Medan yang disuguhkan
memang terlihat berat, tanjakan kurang lebih 100 meter itu sepertinya ingin
menguji kesabaran setiap mereka yang melewatinya. Menguji keimanan seseorang
mengenai urusan yang dighaibkanNya agar pada kesempatan itu dapat terpatrikan
kedalam prasasti hidup jika mereka lulus melewatinya (hadeh, ada-ada aja). Berhubung jarak bekas
tempat mendirikan tenda jauh dengan dengan start awal tanjakan, kami
berinisiatif mengambil jalur diagonal untuk memperpendek jarak dan berharap
dapat sedikit mempersingkat waktu tempuh.
Dan ending dari ke Oportunisan dan kesoktahuan ini, Akhirnya kami malah salah ambil jalur. Jalanan offroad dengan cara nyasak ilalang kami harus selesaikan untuk mencapai jalur yang telah disediakan. Dan nampaknya kami harus mengubur dalam-dalam mitos asmara tersebut, selain kita diharuskan percaya pada Sang Pengukir Takdir, juga rasanya pesona kumbolo sangat sayang untuk kita lewatkan dengan sesekali menolehkan pandangan. 15 menitan akhirnya kami tempuh untuk menyelesaikan trek sampai ujung tanjakan dan terlihat insan-insan yang telah sampai diatas sana sudah terlihat tersenyum bahagia yang mungkin sedikit merepresentasikan perasaan atas tercapainya rangkaian ritual keasmaraannya atau mungkin juga karena panorama indah setelahnya yang ditampilkan oro-oro ombo terhadap penikmatnya. Dan itu mungkin hanya mereka dan tuhannya yang tahu.
Dan ending dari ke Oportunisan dan kesoktahuan ini, Akhirnya kami malah salah ambil jalur. Jalanan offroad dengan cara nyasak ilalang kami harus selesaikan untuk mencapai jalur yang telah disediakan. Dan nampaknya kami harus mengubur dalam-dalam mitos asmara tersebut, selain kita diharuskan percaya pada Sang Pengukir Takdir, juga rasanya pesona kumbolo sangat sayang untuk kita lewatkan dengan sesekali menolehkan pandangan. 15 menitan akhirnya kami tempuh untuk menyelesaikan trek sampai ujung tanjakan dan terlihat insan-insan yang telah sampai diatas sana sudah terlihat tersenyum bahagia yang mungkin sedikit merepresentasikan perasaan atas tercapainya rangkaian ritual keasmaraannya atau mungkin juga karena panorama indah setelahnya yang ditampilkan oro-oro ombo terhadap penikmatnya. Dan itu mungkin hanya mereka dan tuhannya yang tahu.
| Oro-oro Ombo membentang seperti segoro, menyembunyikan beribu tanya akan keberadaannya |
Di akhir tanjakan, terlihat padang
savana luas membentang layaknya duplikasi ranu kumbolo yang telah surut
telaganya, menyambut kami dengan pesona ketenangannya. Sekarang kami benar-benar
akan bebas berenang tanpa ada larangan, berenang di padang savana ara-ara amba
(oro-oro ombo). Sejenak membayangkan bagaimana asal muasal tempat ini tercipta
yang membawa fikiran terjebak kedalam sebuah metode analisis ngawurlogi, dan
beginilah cerita lengkapnya……..>> http://cescpr4st.blogspot.com/2015/06/sebuah-dongeng-imajinatif.html
|
Oro-Oro Ombo, ya Oro-oro ombo. Ombo
tenan Segara suketmu..Andai Kau Kumbolo
|
Setelah
merampungkan imajinasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan , cuaca nampak
semakin terik memanas. Memaksa kami untuk mempercepat langkah melewati jalan datar
menembus rerumputan tanah Semeru. Sesekali berhenti untuk istirahat dan
menikmati vegetasi khas padang savana di Gunung semeru ini. Terlihat tumbuhan
yang pendaki sering menyebutnya dengan Lavender ini sedang mekar berbunga.
Warna perpaduan biru + merah merona mewarnai jantung savanna dan memberi kesan
tersendiri bagi para penikmatnya. Tumbuhan tersebut sebenarnya bukanlah
Lavender yang selama ini disangka-sangkakan karena pada dasarnya mereka adalah tumbuhan
parasite yang tumbuh entah dari mana asalnya. Tumbuhan dengan nama latin Verbenna Brasillia ini diprediksikan
berasal dari benua Amerika tepatnya negara kelahiran Ronaldo Nazario Dalima (Brasil), yang entah sebab apa sampai bisa
singgah disana. Walaupun memberikan warna lain di dalam rute perjalanan menuju
Puncak Mahameru, keberadaan tumbuhan tersebut ternyata sangat merugikan
ekosistem terutama vegetasi yang tumbuh disana. Tumbuhan asli di Lokasi yang
mereka hidupi, tergusur-hilang olehnya. Sehingga tak ayal tumbuhan tersebut
diperbolehkan untuk dipetik asal tidak dibuang sembarangan agar tidak menular
diberbagai tempat.--Sesampai dibatas ladang Lavender “KW”, pos Cemara Kandang
sudah nampak terlihat dengan kumpulan vegetasi khasnya, yaitu Pohon cemara yang
tumbuh tinggi merindang. Sesuai dengan namanya, cemoro artinya pohon cemara
dan kandang artinya rumah, bisa diprediksi banyaknya pohon tumbuh terjaga yang
nanti akan menaungi perjalanan kami menuju Kalimati. Sembari berjalan perlahan mendekati pos Cemara Kandang, nampak dari kejauhan sudah
banyak pendaki lain nangkring dibawah pintu masuk hutan dengan suguhan
jajakan dari pedagang yang kembali membuat bekal kami kalah bersaing. Di Cuaca
yang begitu panas mengundang dahaga, semangka yang di suguhkan seakan menjadi
menu yang tepat untuk meluangkan waktu istirahat. Tapi tidak bagi kami!!, karena sebelumnya
kami telah sengaja membuat racikan khusus sebagai penangkalnya. Ramuan dari
mbah Marijan (Kuku Bi*a En*rgi) di campur dengan segarnya air dari telaga Kumbala
membuat kami seakan tak bergeming memasuki kerumunan pendaki yang tengah duduk
di Bangku cemara Ambruk dan semak-semak perdu dengan irisan semangka siap
disantap. Welcome to Kandang’s Cemoro, Aku Rapopo!!! Segera kami rebahkan
barang bawaan setelah berjibaku diteriknya udara tengah hari Mahszarnya Semeru.hu.hu
(paragraph saya buat panjang yang merepresantisan panjang dan luasnya oro-oro
ombo^^)
Hiruk pikuk Cemoro Kandang, tempat
bersandar mereka yang datang maupun yang pulang dengan naungan cemara tegak
menantang. Begitulah kalimat pendek untuk sedikit mendeskripsikan Pos Cemoro
Kandang. Mungkin sang Khalik sengaja mendesainnya sebagai tempat singgah para
pemburu kedamaian dan Harapan. Kedamaian oro-oro ombo yang tenang membentang
dan Harapan Mahameru yang sudah menunggu di balik bukit itu. Sudahlah
mendeskripsikan semua Mahakaryanya yang sulit diterjemahkan ini, yang mungkin hanya mampu dinilai dengan
rasa kebersyukuran. Rehat menjadi sesuatu yang tepat untuk sejenak meneduhkan
badan yang cukup lama berpanas ria dipadang savanna Ara-ara Amba (oro-oro
ombo). Hampir pukul 13.30 waktu itu dan pendaki masih saja hilir mudik di
tempat itu. Nampaknya banyak juga pendaki yang ingin dan telah menjamah Camp
Kalimati-Mahameru dan tidak sekedar hanya sampai di Ranu Kumbolo. Tampak
beberapa rombongan-rombongan pendaki masih saja asik bercengkrama dan kali ini
ada yang membuat kami sedikit terkesima,
apakah gerangan?? Mungkin gadis kuku bima itu yang mungkin dapat
menjawabnya.he.he. dan mata-mata jalang ini tak bisa melewatkan sesuatu yang
terlihat berbeda di sekelilingnya. Keberadaan Lavender itu benar adanya, bukan sekedar bualan atau
kesalahan penyebutan karena ketidaktahuan. Ia tampak mempesona dengan warna
khas Violetnya. Bergerak lincah diantara rumput ilalang dangan pesona dan
keceriaanya. Memberikan warna yang berbeda bagi para penikmat keindahanya.
Akhirnya benak ini menimpali, Stop menghayal. Benar saja, karena efek gadis
dengan balutan warna khas lavender itu membuat kami larut dalam sebuah lamunan.h.h. [agap saja fitrah kaum Adam]
Waktu telah menunjukkan pukul 14.00
dan kami diharuskan meninggalkan tempat ini, Pos Cemoro Kandang untuk segera
merapatkan barisan menuju camp selanjutnya. Dan kami pun rela meninggalkannya [ Sebuah Tanya?.] Perjalanan menuju pos Kalimati harus ditempuh sejuh 5 km dengan medan
yang cukup landai dengan beberapa treck yang tidak terlalu curam tetapi cukup
banyak menguras tenaga karena jauhnya. Selain itu, ramainya pendakian kali ini
menjadi dilema tersendiri, dimana disatu sisi, banyaknya pendaki berarti banyak
teman yang akan kita jumpai. Disisi lain kekhusyukan Gunung Sebagai Tempat Kembali sulit untuk didapatkan lagi. Ditambah dengan treck perjalanan
yang ramai dengan para insan selain memberi nilai negative baik bagi sesama pendaki
tapi juga bagi lingkungan sekitar rute perjalanan. Tak ayal, disepanjang rute
menuju Kalimati masih sama seperti perjalanan sebelumnya, penuh dengan pendaki layaknya aktivitas mudik lebaran dikampung halaman. Sekali-kali kami juga jumpai pendaki-pendaki
yang mungkin terinpirasi dari film-film yang mengatasnamakan gunung sebagai
Background cerita, seperti 5 CM atau Rome* dan Rinjani. Sehingga pada kesempatan ini, peralatan tempur yang
mereka sandang cukup membuat kami terheran-heran. (maklum rada Katro Ho.ho). Mungkin
cuaca kali ini membuatnya mengharuskan dirinya untuk berpakaian seperti itu. Waw………Sehingga perjumpaan dengannya sedikit-banyak mampu merefresh
ingatan kami tentang alam fana sana. H.h dan Makhluk halus itu tak ingin dilewatkan
(entah siapa yang mengambilnya) dari jepretan kamera Mobile Phone, yang
kelihatanya tidak membuatnya sadar bila sedang berada dalam bidikan dan intaian 4
manusia harimau-harimau ini.wk.wk
Kaki segera kami ayunkan perlahan
menyusuri treck dengan semak-semak ilalang dan cemara dikanan kirinya. Peluh
dan keringatpun keluar menunjukkan waktu itu udara begitu terik, sesekali
rimbun pepohonan mampu menaunginya. Hilir mudik pendaki rupanya membuat treck
yang memang sudah mulai kemarau kini mulai munculkan debu yang cukup mengganggu
pernafasan sehingga saya sarankan untuk waktu seperti sekarang ini harus pakai masker untuk meminimalisirnya. 1,5
Km sudah kami lalui dan kami sampai di kerumunan pendaki yang sengaja
merehatkan badannya ditempat yang memang cukup rimbun karena naungan pepohonan.
Sebentar sahaja kami merebahkan beban kemudian langsung melanjutkan perjalanan
sembari menunggu penyemangat baru yang barang kali datang.h.h dan kali ini
pendaki yang naik dan turun cukup berimbang (sama-sama banyak jumlahnya)
sehingga kami harus sedikit banyak respect dengan pendaki lain. Moment saat itu membuat seakan Mahameru
tak istirahat untuk menerima tamu yang berkunjung untuk berguru atau sekedar
cari pengalaman baru.
Km 2 menuju Camp Point Kalimati
sudah kami lewati membuat benak ini kembali bertanya ” Kapan sampainya INI??”. Hampir
pukul 15.00 atau 2 jam kami telah habiskan untuk menyelesaikan hampir ½
perjalanan menuju Kalimati. Istirahat
adalah sesuatu yang bijak untuk kami luangkan agar fisik ini kembali bugar dan
agar tidak memaksakan kekuatan badan juga batasan kemampuan kawan
seperjuangan. Dan nampaknya kami banyak jeda istirahatnya (maklum sudah
memasuki usia senja). Makan dan minum
kami keluarkan untuk kembali memompa tenaga, sembari menyaksikan pendaki lain
berhilir mudik. Setelah rehat ini!, nampaknya perjalanan akan kami lewati dengan
cukup nyaman karena perjalanan menuju pos Jambangan banyak didominasi dengan
pepohonan cemara yang cukup rapat untuk menghijabi kami dari terik matahari.
Selama kami rehat banyak pendaki yang sudah mulai turun, menyelesaikan hajatnya
sowan Mahemeru yang kali ini belum juga Nampak terlihat dari kejauhan.
Semoga saja jalan tak lagi banyak dijumpai rombongan-rombongan yang turun yang dipastikan akan mengganggu kenyamanan perjalanan kedepan karena treck yang
disediakan tak selebar yang diharapkan.
1 jam perjalanan lagi kami akan
sampai di Pos Jambangan sebelum sampai di Camp Kalimati. Perjalanan yang
diperkirakan lancar, kali ini harus tersendat juga, karena ternyata banyak pendaki
yang masih ingin turun. Waktu kami
banyak tersita untuk bersabar menunggu rombongan-rombongan besar pendaki yang
turun. Sambil minggir kami manfaatkan untuk merehatkan badan dengan
menunggingkan beban punggungan atau mengangkat tali pegangan carier agar punggung dan pundak
sejenak terbebas dari tekanan. Trik ini cukup membantu merefresh keletihan yang
menyerang anggota badan karena treck perjalanan dan beban yang dibawa. Medan
yang disuguhkan cukup mudah untuk dilalui dengan menyusuri hutan cemara dengan
beberapa kali menurun lereng kecil atau punggungan. Yang mungkin kali ini disayangkan
adalah jalanan yang terbatas hanya untuk jalan satu orang dipaksakan untuk menampung
langkah beberapa rombongan-rombongan sehingga semak disekitarnya banyak yang
rusak, ditambah lagi dengan sampah-sampah bungkus yang tercecer ditinggalkan para pendaki lain yang enggan peduli dengan lingkungan. Harus
menjadi perhatian dan koreksi diri bahwa sekecilpun sampah yang kita tinggalkan sedikit banyak akan berkontribusi terhadap pencemaran yang terakumulasi di masa
depan. Semoga menjadi perenungan kita.
Pos Jambangan
Akhirnya kami sampai juga di Pos Jambangan, pos dimana kita
dapat melihat Mahameru berdiri menjulang. Pos berupa tanah terbuka tak seberapa
dengan pepohonan khas pegunungan dan rerumputan ilalang itu seakan menjadi
figura dari objek lukisan Mahemeru yang terlihat anggun dengan paduan vegetasi
khas Jambangan. Dari sana Mahameru terlihat jelas dengan gurat-gurat kaldera
pepasiran yang akan membuat orang bertanya bagaimana mereka dapat menaikinya.
Terlihat pula perbedaaan mencolok yang terjadi didaerah argopuro, tempat
perbatasan antara daerah bervegetasi dengan pasir bebatuan seutuhnya (kami pun
tidak tahu dimana tempatnya) yang membuat Mahameru terlihat botak karena mulai
memasuki usia senja dengan rambut bagian atas mulai tiada. Di Jambangan tersebut konon masih ada hewan
liar sejenis rusa dan harimau, tapi kali ini kami tidak menjumpainya. Sembari
menikmati suguhan panorama manakjubkan nan alami, kami sempatkan istirahat
bersama rekan-rekan pendaki yang cukup banyak berkerumun di tempat yang lumayan
teduh tersebut, sambil menyeruput minuman digenggaman sambil melihat jam
ditangan yang sudah menunjukkan waktu 16.00. Camp Kalimati 2 Km lagi atau dapat
ditempuh dengan 1 jam perjalanan atau jam 17.00 kami dapat tiba untuk mendirikan tenda dan
beristirahat memompa tenaga menaklukkan sang Pujaan yang kini berdiri tegak menjulang.
| Guratan itu membuat kami ngeri, tapi tekad dan semangat ini membuat kami yakin untuk bisa menaklukkannya |
Kami tak ingin berlama-lama berada di pos Jambangan
karena waktu sudah beranjak senja dan diperkirakan medan tak lagi menanjak atau
cenderung banyak turunan yang akan memberi bonus bagi langkah para pendaki. Ayunan langkah kami nampaknya
mulai ringan karena medan yang disuguhkan juga faktor sang Pujaan
sudah ada dihadapan memberi semangat tambahan untuk mempercepatnya dan ingin bersegera menjamahnya.
Matahari yang mulai condong semakin membuat suasana semakin syahdu dan tidak terik
seperti perjalanan yang sebelumnya. Kembali, diperjalanan menuju kalimati masih
saja kami jumpai rombongan-rombongan pendaki yang sama-sama menuju Camp atau sudah
akan beranjak pulang menuju camp Kumbolo. Benar-benar kali ini Mahameru disibukkan
dengan para pendaki dan hiruk pikuk aktivitasnya. Langkah kami pun sama seperti tadi tanpa
mengedepankan keegoisan diri dengan tetap respect terhadap kebutuhan dan kepentingan orang
lain. Dalam hati kami berharap agar segera sampai di Camp Kalimati, dapat istirahat
dan siap menaklukkan Mahameru dengan waktu rehat yang tidak cukup banyak karena jam
22.00 nanti kami sudah diharuskan memulai Summit Attack. [3-4 jam istirahat saja bung]
Akhirnya, Kalimati
Setelah berjibaku selama kurang
lebih 1 jam perjalanan dan lumayan melelahkan akhirnya sampai juga kami di Camp
Kalimati. Medan yang terlihat lebih landai itupun ternyata juga banyak menguras tenaga
karena jarak tempuh yang juga lumayan panjang, sejauh 2 km perjalanan. Pukul 17.00 kami akhirnya tiba di lokasi
penginapan untuk mendirikan tenda. Terlihat beberapa tenda sudah banyak berdiri
disana. Camp Kalimati memang benar sebagaimana namanya, seperti sebuah Aliran kali yang sudah tiada
airnya menyisakan tempat lapang untuk para pendaki ideal mendirikan tenda. Setelah
mencari-cari akhirnya di ujung sana-dibawah rerimbunan pohon cemara kami
putuskan untuk mendirikannya. Tempat yang kemungkinan jauh dari terpaan
angin atau Hujan meteor sekalipun, [barang kali]. Perlahan menuruni tanah lapang akhirnya
sampai juga di lokasi penginapan. Carier saya letakkan dan segera tenda kami keluarkan
agar cepat-cepat dibangun dan akhirnya dapat dihuni. Tak berapa lama tenda siap dimasuki dan
barang-barang pribadi taklupa kami masukkan agar nantinya dapat langsung mudah ditutup rapat karena
ditinggal penghuninya.
Matahari semakin redub menandakan
hari telah senja dan penghuni tenda lainya terlihat sudah bersiap
mengistirahatkan badan juga fikirannya untuk mempersiapkan Summit Attack lebih
dini dan lebih prima nantinya. Kami terpaksa harus menunda waktu istirahat untuk
merampungkan urusan-urusan wajib, sunah dan mubah yang masih menunggu kesiapan
jiwa dan raga. Pertama-tama kami menyiapkan alat memasak untuk sekedar memasak
air untuk membuat minumam penghangat dan merebus mie. Kemudian, Sembari menunggu
masakan, kami luangkan waktu untuk bergantian melaksanakan kewajiban Shalat
(Jamak Qasar). Letih menghinggapi namun Hajat besar sudah menunggu didepan
mata, meminta pelakunya untuk benar-benar meluruskan niat, menguatkan tekad dan
memepersiapkan jasad untuk menjamah-berinteraksi dengan CiptaaanNya ini. Sehingga pencapaiannya nantinya benar-benar
mendapatkan sesuatu yang benar-benar diharapkan. Sesuatu yang bukan sekedar
sampai dipuncaknya sahaja, atau sesuatu yang dapat membuat orang lain terkesima,
atau sesuatu yang dapat digunakan sebagai bahan cerita generasi kita nantinya karena
sesuatu itu hanyalah miliki sang Pencipta kita, Sang Pembangun pasak yang kini
masih berdiri tegak. Kita sebagai ciptaanNya dituntut untuk mencari sesuatu
itu, sesuatu yang akan kita dapatkan bila kita ikhlas mencarinya, bersyukur
atas pencapaiannya. Kami pun beruntung bisa merasakannya dan disempatkan untuk
datang ketempat ini, tempat yang akan banyak memberi arti.
Pukul 19.00 kami segera beranjak
tidur dan beristirahat agar Summit Attack nanti benar-benar siap baik fisik
maupun mental. Saya sempatkan membaca beberapa ayat Al Quran untuk benar-benar
memantapkan niat dan tekad, namun mata ini sulit untuk diajak berkompromi dan
tidur menjadi solusi mengatasi keterbatasan sebagai seorang insan. Terlihat rekan-rekan
sudah terlelap dan diri ini nampaknya akan segera menyusulnya karena waktu
tidur kami dibatasi kurang lebih sampai jam 23.00 agar sampai di Puncak
Mahameru tidak terlalu siang, mengingat medan yang sangat sulit dan ekstrim (2
langkah-turun 1 langkah bahkan lebih). Doa sebelum tidur menjadi pengantar diri
masuk ke Alam Kematian sementara yang akan di bangkitkan saat
bangunnya nanti. Segera diri ini pun terlelap, menuju alam dan dimensi yang berbeda. Good
Night!!
Summit Attack, Go Mahameru
Go!Go!Go bla.bla.bla semacam yelyel
yang begitu keras terdengar memaksa kami bangun dan melihat Arloji digenggaman.
Dan Waktu ternyata telah menunjukkan pukul 22.15. Suara itu membuat perasaan
kami berkecamuk antara marah karena suara itu tiba-tiba membangunkan tidur kami
yang lelap atau berterima kasih karena telah
memaksa kami untuk berbegas mempersiapkan diri. Tapi akhirnya Kami terpaksa
harus mengemasi Sleeping Bag yang sedari tadi membuat nyaman didalam alam
keterlelapan, untuk segera packing barang-barang yang dibutuhkan dan
mengaklimatisasi badan juga fikiran. Seluruh anggota akhirnya bangun semua
pertanda kami sudah akan siap menempuh terjalnya jalur yang disediakan.
Beberapa makanan dan minuman kami sempatkan konsumsi untuk menambah tenaga
karena kami nanti diharuskan semalaman berjalan diatas treck terjal yang sangat
menguras tenaga dan mental. Bapia Kacang hijau, beberapa cemilan dan susu
kemasan berasa menjadi pengganjal yang tepat untuk meningkatkan kalori yang dibutuhkan
nantinya, sementara bekal yang lain seperti Biskuit-wafer, air mineral dan sisa menu
konsumsi siap untuk dikemasi kedalam tas Daypack juga peralatan dokumentasi
pasti tak lupa untuk dibawa.
Setelah kami benar-benar siap baik
perbekalan, perlengkapan, fisik maupun mental, kami mantapkan untuk keluar
tenda dan berinteraksi dengan hawa dingin diketinggian tempat 2700 mdpl ini.
Nampaknya Jacket Wind&Waterproof yang saya pakai cukup banyak membantu menangkal hawa
dingin yang berhembus dan menerpa badan.
Sepatu track dengan Geiter tambahan, Sarung tangan, sleyer dan kupluk
kepala menjadi perlengkapan yang sunah muakhad disediakan agar Summit Attack
benar-benar nyaman. Seluruh Anggota tim sudah keluar sementara barang-barang
pribadi dimasukkan ke dalam tenda dan itu artinya kami sudah mantap untuk
memulai perjalanan. Perlengkapan tim sudah terklarifikasi oke dan akhirnya doa
kami wajib haturkan kepada Penata bintang di angkasa malam sana agar perjalanan
penting ini benar-benar mendapat ridhaNya dengan pencapaian, keselamatan, juga
kebersamaan menjadi indikatornya. Dalam
doa itu kami pasrahkan segala urusan yang kami hajatkan agar benar-benar
mendapat restu dari Yang Maha Tahu.
Puncak tertinggi menjadi impian kami, keselamatan tim menjadi tanggungan
kami dan kebersamaan menjadi penggerak kami. Dan Pukul 22.30 akhirnya kami
langkahkan kaki menapaki setiap jengkal tanah ini. Nampaknya kali ini rombongan
pendaki sudah banyak yang terlebih dulu berangkat dengan langkah terdengar begitu bersemangat. Semangat Bro!!!!
Langkah kami mulai dengan melewati bangunan permanen kalimati, kemudian kami
diharuskan berbelok kekanan untuk mengikuti Jalur yang telah disediakan.
Sejenak tanah padat kemudian sudah berubah dengan taburan kerikil yang menutupi
rute perjalanan. Beberapa puluh langkah kami berjumpa dengan pendaki lain yang
sudah berhenti istirahat, kami pacu langkah dan tubuh ini agar selain untuk
pemanasan juga agar cepat sampai tujuan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Walaupun
masih dalam wilayah vegatasi cemara namun trek mulai menanjak dan cukup
menguras tenaga. Trek semakin keatas semakin sulit untuk ditaklukkan karena
kerikil yang menutupi permukaan tanah ternyata mengurangi daya cengkram tumpuan. Pos Arcopodo menjadi
persinggahan pertama yang dapat dijadikan tujuan sementara untuk menyusun
langkah dan strategi selanjutnya. Setelah berjalan mendaki cukup lama kami tak kunjung
mencapainya, pos yang dideskriptifkan sebagai tempat perbatasan vegetasi
pepohonan dengan wilayah gersang pasir juga bebatuan. Diperkiraan jarak
tempuhnya sejauh 1,2 Km dari start point Kalimati tapi kaki ini rasanya tak jua sampai
kepadanya.
Entah!!!, Arcopodo
Arcopodo sudah diluar bayangan, yang pada awalnya kami ingin
sejenak melihat Arca Kembar yang menjadi dasar penamaan tempat itu. Dua Arca
yang entah siapa yang meletakkannya dan konon merupakan jelmaan makhluk-makhluk
penunggu sana. Tak sekelumit benak mengarahkan fikiran ke hal klenik tersebut
dan lebih banyak untuk memikirkan penciptaan bintang-bintang tertata diatas sana dengan
dzikir menjadi media penuntun untuk berinteraksi dengan penciptanya. Selain
itu, medan yang semakin terjal membuat
keinginan untuk melihat Arcopodo itu sirna dan sekarang puncak tertinggi juga sang Penciptanya lebih menggeser
logika dan paradigma. Dan Nampaknya kami sudah benar-benar di batas vegetasi,
tapi arca-arca tersebut tak kunjung terlihat, atau saat itu mereka tak sedang
ingin menampakkan diri?? Weleh.. ada-ada saja pemahaman yang berkembang
mengatasnamakanmu Arcopodo. Arcopodo akhirnya ikhlas kami lewatkan dan melangkah memasuki perbatasan vegetasi zona pasir bebatuan.
Akhirnya kami melewati batas vegetasi, itu
artinya langkah ini akan segera melalui setengah perjalanan dan waktu itu telah
menunjukkan tengah hari (00.00). walaupun hanya 1,5 km jaraknya bukan berarti itu
semakin mudah, treck justru akan semakin berat dan berbahaya. Berat karena
setiap langkah yang kita ayunkan bernilai ½, ¼ atau bahkan tak sama sekali
beranjak. Itu karena medan berpasir dinamis yang mudah longsor apabila kita
Pijaki. Dan Berbahaya karena banyak batuan lepas yang apabila ada goncangan
atau ada pendaki lain yang salah memijakinya maka batu itu akan meluncur ke
bawah. Sehingga tak ayal diperjalanan Summit Attack nanti akan banyak Warn!!! dari
sesama pendaki yang tidak sengaja melonsorkan bebatuan atau melihat batu menggelinding
walupun ternyata itu hanya batu sebesar kepalan.H.H(tapi tetap harus waspada dan
hati-hati). Melihat karakteristik kondisi
medan tersebut kami siasati dengan mengambil teknik zigzag untuk meminimalisir
longsoran pasir dan menambah daya cengkeram tumpuan. Walaupun sedikit menambah jarak
tempuh tetapi akan efektif untuk menapaki jengkal demi jengkal trek Summit itu.
Dari awal kami memang tidak sengaja
mengambil jalur pendakian baru yang
terlihat lebih sepi dari pendaki (terlihat jalur lama disebelahnya, pendaki
banyak yang mengantri). Dikabarkan jalur baru itu sempat ditutup karena terjadi longsoran dan kini sedikit diminati pendaki. Dari jalur ini sangat memungkinkan kami melakukan
teknik zigzag karena selain kontur pasir yang lebih kokoh juga sedikitnya
halangan sehingga memudahkan kami untuk bermaknuver.^^. Perlahan tapi pasti kami lewati tahap demi tahap
dan sesekali rehat untuk beristirahat (minum-nyemil) sembari menyaksikan susunan bintang yang
semakin nampak jelas terlihat menjelang 1/3 malamnya. Kalimat
Tayibah tak jemu kami ucapkan sebagai ungkapan rasa syukur dan ketundukan
kepada Tuhan Semesta Alam Raya. Selain sebagai bentuk ritual penghambaan,
lantunan kalimat suci itu seakan menjadi sumber lain pemompa semangat dan tenaga. Dan waktu
itu pula kami jumpai mulai banyak pendaki yang mengurungkan niatnya untuk melanjutkan
perjalanan karena mungkin fisik mereka yang sudah tidak memungkinkan. Faktor
mental juga sedikit banyak mempengaruhi keberlansungan perjalanan yang
dilakukan melihat medan yang memang menuntut penakluknya mempunyai mental yang
kuat. Dan dalam hati ini berharap semoga Tim Kami tetap utuh sampai tujuan yang
diinginkan bersama.
Tragedi Yang Tak Di Harapkan
Nampaknya saat itu takdir
berkata lain, Allah Sang pemberi kekuatan dan sang pembolak-balik hati
berkehendak atas salah satu diantara kami harus gugur dari perjuangan
menaklukkan atap dataran ini. Awalnya saya masih yakin dan percaya akan
kemampuannya untuk mampu melanjutkan, tapi Segera Uyab dan Sam merespon gejala
tersebut dengan memanggil saya yang mungkin cenderung mementingkan diri
sendiri. Walau sudah cukup jauh suara itu makin jelas terdengar, memanggil dan meminta saya
agar segera turun menghampiri mereka. Dengan ada rasa sedikit enggan akhirnya saya turun
juga, karena pemahaman saya sebagai teman satu desanya yang sedikit banyak mengetahui basic
kesehatan dan kemampuan yang dimiliki. Tapi kembali, mungkin faktor-faktor
pendukung lain yang mengakumulasi kondisi tubuhnya sehingga akhirnya lumayan
drob. Segera saya bergegas turun untuk memastikan kondisinya. Dan ternyata
benar, Fisiknya kelihatan tidak memungkinkan untuk melanjutkan dan saya perkirakan
ia (doni) terserang hipotermia ringan karena muncul gejala pusing dan
kedinginan.
Waktu itu sudah menunjukkan pukul 02.30
dan Ia tetap saja berujar untuk tidak bisa melanjutkan perjalanan Summit. Kurang
lebih ¾ langkah perjalanan sudah ia tempuh dan terpaksa harus berhenti
mengakhiri perjuangan ini. Berulang kali saya menyemangatinya tapi keyakinannya
sudah bulat dan yang membuat hati ini sedikit lega dengan kondisinya karena
masih besar keinginannya untuk turun ke camp sendirian tanpa ingin merepotkan
dan membuat rencana awal tertunda. Akhirnya diputuskan Tim tetap melanjutkan
perjalan dan 1 harus turun walaupun awalnya Sam ngeyel ingin menemani turun,
tapi saya yakinkan dia [sam] agar percaya terhadap kemampuan rekan yang sudah sejauh
ini bersama dalam satu tujuan perjuangan. Perbekalan makanan-minuman, obat-obatan
dan perlengkapan seperti sweeter dan Geiter turut kami sertakan. Bukan tanpa alasan
kami yakin untuk merelakan ia turun sendirian, selain gejala Hipotermia yang
membuat penderitanya akan kembali pulih dengan sendirinya setelah mengurangi posisi ketinggian,
juga yakin dan percayanya kami (saya) akan kekuatan dan kemampuannya untuk
melewati masa krisis ringannya karena sebelumnya ia telah mengikuti seleksi
keprajuritan tahap akhir disebuah lembaga negara. Anggap saja tenda adalah tujuan puncaknya saat itu
sebagaimana kami mendaki menuju puncak yang akan masih cukup lama ditempuh.
Sory bro gak bisa menemani.
Pukul 03.00 kami bertiga akhirnya tetap melanjutkan
perjalanan, dengan tujuan awal masih tertancap didalam benak-fikiran. Sambil
berharap tidak terjadi apa-apa lagi kepadanya selamat sampai tenda penginapan,
kami perbarui niat awal kami yaitu: untuk bisa sampai diatas sana, melihat sun rise
dan tentunya dapat Sholat shubuh di Atas puncak sana. Walaupun tubuh ini sudah letih untuk
melanjutkan perjalanan nampaknya tekat ini lebih bisa menaklukkannya dengan
tetap memberi suntikan semangat untuk mengayunkan langkah. Kali ini tim
terlihat mulai tercecer (berpisah) tapi hal ini kami sikapi dan kami anggap
sebagai proses perjalanan kehidupan, bahwa walaupun kali ini kami sementara
berpisah toh akhirnya kami akan diperjumpakanNya diatas sana (yang penting percaya). Dan benar, Uyab sudah
dahulu melangkah dan mempercepat ayunannya, saya tetap pada langkah konstan dan
Sam tetap terseok dengan langkah beratnya karena beban tubuhnya sendiri.h.h.
Get Sunrise and Every Things
Langkah berat ini membuat kami
berfikir tak akan mampu melihat sunrise diatas sana karena saat itu rona
jingga mulai terpancar diufuk timurnya. Semangat kami seakan beringsut padam
tapi ternyata harapan itu hadir untuk memberi suntikan semangat lain yang
mendorong tubuh ini tetap berjalan. Bayangan khusuknya Shubuh diatas sana
membakar semangat kami dan sebuah doa sebisanya kami coba selipkan disetiap
ayunan langkah “ Wahai Rabb Pencipta Alam
Raya, kami sadar kami bukanlah utusanMu Yusa’ bin Nun yang atas seijinMu mampu
menahan Matahari untuk sejenak berhenti menuju tempat tenggelamnya sebelum ia
dapat membebaskan Baitul Maqdis, saat ini adalah waktu subuhMu maka mampukanlah kami untuk tetap melangkahkan
kaki kami untuk menuju tempat tertinggi ini, tempat yang akan membuat hati ini
lebih dekat dengan Engkau sebagai Penciptanya di Sujud dan Rukuknya”. Akhirnya langkah ini kami perlahan lanjutkan seakan semangat, keyakinan dan kepasrahan menjadi motor penggerak yang tersisa di dalam raga.
Langkah gontai ini seakan terbayar
lunas setelah mendengar pekikan puncak sebentar lagi akan tergapai dan saat itu
waktu telah menunjukkan pukul 04.45. Rasa haru biru mulai merasuki rongga dada
membuat badan ini seakan melayang dialam yang berbeda. Perlahan kaki Sampai juga ditanah lapang sembari
melangkah lagi ke tempat yang cukup luas dan segera mencari-cari tempat yang bisa
dijadikan tempat beribadah Subuh. Dalam hati saya bergumam “Akhirnya kau sampaikan juga kami di Puncak MahameruMu, puncak tertinggi di daratanMu ini, Sholatku, Ibadahku, Hidup dan
Matiku hanya untukMu ya Rabb seluruh Alam. Jadikan sujud ini sebagai wasilah
kami untuk lebih dapat mendekatkan diri kepadaMu dan semoga Air mata ini
menjadi Kafarat (penghapus) Dosa yang pernah kami lakukan juga sebagai tanda
kecintaan kami kepadamu dengan Puncak ini sebagai saksi bisunya”. 2 rekaat
Sunnah dan 2 Rekaat Wajib menjadi media diri untuk meluapkan perasaan
Kebersyukuran atas semua apa yang diberi sejauh ini. Setelah merampungkan
kewajiban dan merealisasikan niat, kami pun disambut SunRise yang sudah mulai
muncul yang “seakan” menunggu kami menyelesaikan kewajibanya (pede men^^). Uyab sudah sedari tadi
menunggu di sudut sana sambil mengabadikan momen menakjubkan ini, sementara Sam juga
sudah tiba dan selesai melaksanakan kewajiban. dan itu artinya Tim ini akhirnya dapat
bersatu kembali juga. Moment saat itu sebagai bukti mengenai sebuah keyakinan
terhadap Tuhan Pencipta Alam dan menjadi sisi penting tersendiri yang tidak
boleh ditinggalkan juga wajib menjadi pegangan bagi para pendaki yang memang benar-benar
ingin kembali.
| Jingga akan selalu berbeda ditempat yang orang lain sering mengabaikannya |
Puncak Mahameru yang telah lama
ingin dituju akhirnya kini kami benar-benar menapakinya. Tanah ini, debu pasir
ini, bebatuan ini seakan menjadi saksi kehadiran kami dipuncak tertinggi
daratan ini. Tempat dengan ketinggian 3676 MDPL ini benar-benar memberi jamuan
pemandangannya yang begitu rupawan bukti Pencipta Alam Raya ini benar-benar
menyediakannya untuk mereka yang yakin dan berusaha. Pendar cahaya surya yang
masih jingga terlukis diangkasa mulai beranjak naik memaksa kami mengkhiri keintiman
interaksi dengan Penciptanya melalui
beraneka karya ciptaanNya ini. Ritual Hablu minallah telah tergenapi dan
saatnya kembali kedalam ritual Hablu minannas keduniafanaan. Camera dokumentasi
menjadi peralatan tempur yang wajib disediakan dan setiap jengkal tanah ini
dengan setiap angel panoramaanya seakan sayang untuk dilewatkan. Sudah banyak
pendaki lain juga tiba dan larut dalam ritual Kemainstreman dengan camera
menjadi sesuatu yang lazim ada digenggaman atau Tripod dihadapan.he,he. Dan Kami pun
sebagaimana yang mereka lakukan, juga memengabadikan momen-moment tersebut agar
kelak menjadi media pengingat tempat menakjubkan ini. Kertas tulisan dan Banner
Alay pun sudah kami persiapkan sebagai alat improvisasi dokumentasi agar dapat
memberikan kesan berbeda jika hasilnya dilihat kembali nantinya.h.h
| Walau senyum ini mengembang, tapi Hati jauh lebih menggelora didalam Sana |
Mentari Pagi mula beranjak meninggi
dan menjadi moment yang tepat untuk mengabadikan wajah-wajah yang tidak
“sembada” dengan keluh dan tangis air matanya tadi. Berganti rona bahagia
dengan sudut-sudut tanah dan landscape-panorama menjadi
background bidikannya. Bluk……. Tiba-tiba
terdengar letupan dari kawah Junggring Seloka mengepulkan asap pekat ke
langit Birunya. Asap mulai membumbung tinggi yang di barengi dengan suara riuh dari
pendaki yang entah takjup atau takut. Kami pun menggeser destini menuju
Fenomena Erupsi Jonggring Seloka sebagai background foto nantinya karena menurut
informasi letupan itu akan terulang setiap 5-10 menit sekali dari dalam
kubah erupsinya. Dan kami bergegas menghampirinya dan taklupa perlengkapan Alay
kami bawa dengan menuruni beberapa meter dari puncaknya.
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
Jonggring Seloka dan Sisi lainnya
| Jonggring Seloka,tempat bersemayamnya para dewa atau lebih tepatnya tempat menimba pelajaran tentang sebuah keMaha Karyaan dari Pencipta Alam Raya, Allah azza wa jalla |
Jonggring Saloka atau menurut
bahasa atau istilah pewayangan berati puncak abadi para dewa, tempat
bersemayamnya utusan sang Penggenggam Semesta Raya [katanya]. Adalah nama kawah tertinggi dan terbesar Gunung
Semeru di sisi selatan puncaknya yang kini masih terbukti dalam kondisi Aktif.
Menurut informasi yang berkembang, material
yang dimuntahkan dari mulut kawahnya banyak ragam pendapat menjelaskannya: ada yang
menyebutkan berupa batu pijar, kerikil,
pasir dan asap beracun (wedus gembel) dan ada juga yang menyabutkan
material itu berupa Gas Sulvatara yang mengandung uap air pekat, tapi kesemuanya
itu tetap saja akan membumbung tinggi menyebar di Atmosfer. Siklus letusannya ternyata
cukup bervariasi. Tercatat Saat kami
disana dan mengamatinya kadang letupan itu terjadi dalam waktu 3 menit dengan material
masih berupa asap pekat, kadang harus menunggu lama, kadang bersamaan dan pasti
dibarengi dengan suara khas seperti suara mercon bumbung yang disulut (baca:
Jlong-jlongan, blong-blongan dll). Menurut balai besar TNGBTS dan Rescuer saat
pembekalan, para pendaki dihimbau untuk tidak mendekati kawah sesuai jarak yang
telah ditentukan dan juga dihimnbau untuk segera turun setelah jam 10.00 karena
angin yang berasal dari laut selatan cenderung membawa asap Jongring Seloka
menuju kearah Utara/ Puncak. Dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan sebagaimana kecelakaan yang menimpa sesepuh para pendaki, sang legenda Soe Hok Gie dan temannya Idan lubis.
Berbicara tentang Soe Hok Gie, kali
ini kami ingin mencoba mengupas tentang kisah Asmaranya. Menurut Lugas Wicaksono(blogspot) Gie biasanya ia dikenal “ pun menginginkan untuk menjalin
cinta dengan perempuan yang dicintainya, tapi ia harus menerima kenyataan bahwa
perempuan tersebut tidak menginginkannya. Cinta bertepuk sebelah tangan memang
menyakitkan. Terkadang keinginan memang tidak sejalan dengan kenyataan. Jiwanya
akhirnya kering tanpa cinta”. Seperti puncak kering ini, seloka sebagai letupan perasaanya.
Dan Selokalah yang akhirnya menjadi sebab Ia (Gie) kembali keharibaanNya. Berangkat dari problematika cinta Gie itu mungkin tidak berbeda jauh dengan apa
yang dialami rekan-rekan seperjuangan pendaki pada umumnya (mungkin saya/kami juga^^)
terbukti dari benner-benner dan tulisan alay yang mereka sengaja bawa sebagai
luapan perasaan (memang niat temen mereka). Terlihat benner dengan ukuran cukup besar
membentang bertuliskan gadis pujaan, tulisan laminating sebagai tempat
menggoreskan spidol tulisan perasaan, Kertas cetakan yang sudah dipersiapkan, batu yang ditata membentuk huruf atau
inisial dan masih banyak lagi ragam bentuk ungkapan perasan tersebut. Memang tidak usah dilarang atau dicemooh
atas apa yang mereka lakukan karena itu adalah bagian dari kearifan lokal didalam
dunia pendakian dan yang terpenting mereka mampu untuk menjaga sampah yang
menjadi tanggung jawab mereka.wk.wk..
Akhirnya, Puncak ini seakan menjadi saksi pergolakan hati, Jonggring Seloka dengan kepulan material asapnya seakan memberi I'tibar (pelajaran) bahwa apa yang tersimpan didalam luapkan seperti ia (seloka) lakukan, keluar secukupnya, konstan dan perlahan-lahan. Jika itu tetap tersimpan, kadang keluar sesuatu yang tidak diinginkan dan justru akan merusak dirinya juga sekitarnya (Erupsi). Karena orang bijak pernah mengatakan bahwa "Cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan dan itu yg disebut keberanian atau mempersilahkannya itu yg dinamakan dengan pengorbanan". Biarlah Seloka menyaksikan keluguan pemahaman meraka (pendaki) tentang sebuah arti cinta,karena Penciptanya lebih tahu apa yang terbaik bagi makhlukNya karena apa yang kita makhlukNya anggap baik belum tentu baik bagiNYA. Karena cinta berhulu padaNya, jaga tempat hulu itu berada kan kita dapatkan kejernihan dan kesegaran dihilir-hilirnya walaupun disaat Musim Kemarau sekalipun.
Akhirnya, Puncak ini seakan menjadi saksi pergolakan hati, Jonggring Seloka dengan kepulan material asapnya seakan memberi I'tibar (pelajaran) bahwa apa yang tersimpan didalam luapkan seperti ia (seloka) lakukan, keluar secukupnya, konstan dan perlahan-lahan. Jika itu tetap tersimpan, kadang keluar sesuatu yang tidak diinginkan dan justru akan merusak dirinya juga sekitarnya (Erupsi). Karena orang bijak pernah mengatakan bahwa "Cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan dan itu yg disebut keberanian atau mempersilahkannya itu yg dinamakan dengan pengorbanan". Biarlah Seloka menyaksikan keluguan pemahaman meraka (pendaki) tentang sebuah arti cinta,karena Penciptanya lebih tahu apa yang terbaik bagi makhlukNya karena apa yang kita makhlukNya anggap baik belum tentu baik bagiNYA. Karena cinta berhulu padaNya, jaga tempat hulu itu berada kan kita dapatkan kejernihan dan kesegaran dihilir-hilirnya walaupun disaat Musim Kemarau sekalipun.
Ilustrasi 1
Ilustrasi 2
Note : Gambar diatas hanya
ilustrasi belaka, apabila ada kesamaan nama mungkin itu hanya kebetulan semata
tidak ada unsur kesengajaan atau rekayasa.wk.wk..
| Bukan sekedar tulisan yang akan mudah terhapus, cetakan yang luntur ditelan waktu. tapi inilah salah satu pencapaian sesungguhnya yang akan terpatri di dalam sanubari (Persahabatan dan Kebersamaan) |
Untuk menutup Chapter ini, kami
ingin sedikit berbagi mengenai bagaimana kesan dalam melakukan aktifitas pendakian ini. Pertama dengan mendaki setidaknya kita akan
mengetahui betapa kerdilnya diri di dalam Kemahabesaran Sang Penggenggam
semesta-rendah diri dikeharibaanNya, kedua kita akan dapat memahami
tentang arti sebuah kemandirian, kesetiakawanan dan rela berkorban karena di
alam kita tak akan mampu berjalan sendiri dan dikondisikan untuk saling
membutuhkan teman yang siap memegang
pundak kalian, ada orang lain yang selalu memberi senyum-sapa tanda keramahan, ketiga
bahwa alam meminta bukan saja untuk didaki, tetapi juga untuk
ditadaburi karena Allah menanamkan ayat-ayat yang tersiratNya untuk dicerna
dengan mata dan hati yang “kembali”. Dan terakhir saran saya dalam melakukan
pendakian ke gunung Semeru jangan pada saat libur panjang jika tidak ingin
bermacet-macet ria (bukti bahwa Semeru benar-benar Recommended bagi para
pecintanya) dan sedikit banyak menimbulkan eksternalitas negatif bagi keberlangsungan kelestarian alam ini. Pilihlah hari biasa agar kita dapat merasakan pesona alam
disepanjang rute perjalanan, cantiknya Kumbolo tanpa kerumunan tenda
disekitarnya, tenangnya Oro-oro ombo diakhir pembuktiaan tanjakan
tresno, kerasan memandang vegetasi di Cemoro Kandang, indahnya
malam di Camp Kalimati dengan bentang hiasan bintang diatas langitnya,
bersahajanya Trek Mahameru tanpa suara keluh, kerlap-kerlip lampu dan deburan
debu, dan yang terpenting kita benar-benar dapat merasakan khusuknya Summit di
tempat tertinggi Pulau ini.. Salam Lestari
Mungkin sekian dulu dari kami, Insyallah
cerita dapat di lanjutkan dilain kesempatan,, To be Continued..



Tidak ada komentar:
Posting Komentar