Jumat, 31 Juli 2015

MAHAMERU YANG TELAH LAMA INGIN DITUJU (Catatan Perjalanan III)


Menuju ½ perjalanan (camp Kalimati)

Pukul 10.00 kami mulai bergerak untuk menuju camp selanjutnya dengan diharuskan menapaki tanjakan yang sarat akan mitos asmara tersebut. Lurus membentang menantang kami untuk mencoba sensasi kepercayaan yang selama ini dihembuskan dan telah menjadi bagian dari rute pendakian Semeru ini. Medan yang disuguhkan memang terlihat berat, tanjakan kurang lebih 100 meter itu sepertinya ingin menguji kesabaran setiap mereka yang melewatinya. Menguji keimanan seseorang mengenai urusan yang dighaibkanNya agar pada kesempatan itu dapat terpatrikan kedalam prasasti hidup jika mereka lulus melewatinya (hadeh, ada-ada aja). Berhubung jarak bekas tempat mendirikan tenda jauh dengan dengan start  awal tanjakan, kami berinisiatif mengambil jalur diagonal untuk memperpendek jarak dan berharap dapat sedikit mempersingkat waktu tempuh. 
Mitos hanyalah mitos, yang penting kita tetap percaya pada garis ketentuanNya, Karena jalan kedepan lebih luas membentang. Welcome Oro-oro ombo, tunggu Cemoro Kandang, Jambangan, Kalimati, Arcopodo, Mahameru juga Jongring Seloka
Dan ending dari ke Oportunisan dan kesoktahuan ini, Akhirnya kami malah salah ambil jalur. Jalanan offroad dengan cara nyasak ilalang kami harus selesaikan untuk mencapai jalur yang telah disediakan. Dan nampaknya kami harus mengubur dalam-dalam mitos asmara tersebut, selain kita diharuskan percaya pada Sang Pengukir Takdir, juga rasanya pesona kumbolo sangat sayang untuk kita lewatkan dengan sesekali menolehkan pandangan. 15 menitan akhirnya kami tempuh untuk menyelesaikan trek sampai ujung tanjakan dan terlihat insan-insan yang telah sampai diatas sana sudah terlihat tersenyum bahagia yang mungkin sedikit merepresentasikan perasaan atas tercapainya rangkaian ritual keasmaraannya atau mungkin juga karena panorama indah setelahnya yang ditampilkan oro-oro ombo terhadap penikmatnya. Dan itu mungkin hanya mereka dan tuhannya yang tahu. 

Oro-oro Ombo membentang seperti segoro, menyembunyikan beribu tanya akan keberadaannya

Di akhir tanjakan, terlihat padang savana luas membentang layaknya duplikasi ranu kumbolo yang telah surut telaganya, menyambut kami dengan pesona ketenangannya. Sekarang kami benar-benar akan bebas berenang tanpa ada larangan, berenang di padang savana ara-ara amba (oro-oro ombo). Sejenak membayangkan bagaimana asal muasal tempat ini tercipta yang membawa fikiran terjebak kedalam sebuah metode analisis ngawurlogi, dan beginilah cerita lengkapnya……..>> http://cescpr4st.blogspot.com/2015/06/sebuah-dongeng-imajinatif.html


Oro-Oro Ombo, ya Oro-oro ombo. Ombo tenan Segara suketmu..Andai Kau Kumbolo
Setelah merampungkan imajinasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan , cuaca nampak semakin terik memanas. Memaksa kami untuk mempercepat langkah melewati jalan datar menembus rerumputan tanah Semeru. Sesekali berhenti untuk istirahat dan menikmati vegetasi khas padang savana di Gunung semeru ini. Terlihat tumbuhan yang pendaki sering menyebutnya dengan Lavender ini sedang mekar berbunga. Warna perpaduan biru + merah merona mewarnai jantung savanna dan memberi kesan tersendiri bagi para penikmatnya. Tumbuhan tersebut sebenarnya bukanlah Lavender yang selama ini disangka-sangkakan karena pada dasarnya mereka adalah tumbuhan parasite yang tumbuh entah dari mana asalnya. Tumbuhan dengan nama latin Verbenna Brasillia ini diprediksikan berasal dari benua Amerika tepatnya negara kelahiran Ronaldo Nazario Dalima (Brasil), yang entah sebab apa sampai bisa singgah disana. Walaupun memberikan warna lain di dalam rute perjalanan menuju Puncak Mahameru, keberadaan tumbuhan tersebut ternyata sangat merugikan ekosistem terutama vegetasi yang tumbuh disana. Tumbuhan asli di Lokasi yang mereka hidupi, tergusur-hilang olehnya. Sehingga tak ayal tumbuhan tersebut diperbolehkan untuk dipetik asal tidak dibuang sembarangan agar tidak menular diberbagai tempat.--Sesampai dibatas ladang Lavender “KW”, pos Cemara Kandang sudah nampak terlihat dengan kumpulan vegetasi khasnya, yaitu Pohon cemara yang tumbuh tinggi merindang. Sesuai dengan namanya, cemoro artinya pohon cemara dan kandang artinya rumah, bisa diprediksi banyaknya pohon tumbuh terjaga yang nanti akan menaungi perjalanan kami menuju Kalimati. Sembari berjalan perlahan mendekati pos Cemara Kandang, nampak dari kejauhan sudah banyak pendaki lain nangkring dibawah pintu masuk hutan dengan suguhan jajakan dari pedagang yang kembali membuat bekal kami kalah bersaing. Di Cuaca yang begitu panas mengundang dahaga, semangka yang di suguhkan seakan menjadi menu yang tepat untuk meluangkan waktu istirahat. Tapi tidak bagi kami!!, karena sebelumnya kami telah sengaja membuat racikan khusus sebagai penangkalnya. Ramuan dari mbah Marijan (Kuku Bi*a En*rgi) di campur dengan segarnya air dari telaga Kumbala membuat kami seakan tak bergeming memasuki kerumunan pendaki yang tengah duduk di Bangku cemara Ambruk dan semak-semak perdu dengan irisan semangka siap disantap. Welcome to Kandang’s Cemoro, Aku Rapopo!!! Segera kami rebahkan barang bawaan setelah berjibaku diteriknya udara tengah hari Mahszarnya Semeru.hu.hu (paragraph saya buat panjang yang merepresantisan panjang dan luasnya oro-oro ombo^^)


Sebuah Tanya akan selalu muncul, sesaat setelah berjumpa “Mereka”

Barisan Cemara telah menyambut kami menuju Kalimati
Hiruk pikuk Cemoro Kandang, tempat bersandar mereka yang datang maupun yang pulang dengan naungan cemara tegak menantang. Begitulah kalimat pendek untuk sedikit mendeskripsikan Pos Cemoro Kandang. Mungkin sang Khalik sengaja mendesainnya sebagai tempat singgah para pemburu kedamaian dan Harapan. Kedamaian oro-oro ombo yang tenang membentang dan Harapan Mahameru yang sudah menunggu di balik bukit itu. Sudahlah mendeskripsikan semua Mahakaryanya yang sulit diterjemahkan ini, yang mungkin hanya mampu dinilai dengan rasa kebersyukuran. Rehat menjadi sesuatu yang tepat untuk sejenak meneduhkan badan yang cukup lama berpanas ria dipadang savanna Ara-ara Amba (oro-oro ombo). Hampir pukul 13.30 waktu itu dan pendaki masih saja hilir mudik di tempat itu. Nampaknya banyak juga pendaki yang ingin dan telah menjamah Camp Kalimati-Mahameru dan tidak sekedar hanya sampai di Ranu Kumbolo. Tampak beberapa rombongan-rombongan pendaki masih saja asik bercengkrama dan kali ini ada  yang membuat kami sedikit terkesima, apakah gerangan?? Mungkin gadis kuku bima itu yang mungkin dapat menjawabnya.he.he. dan mata-mata jalang ini tak bisa melewatkan sesuatu yang terlihat berbeda di sekelilingnya. Keberadaan Lavender  itu benar adanya, bukan sekedar bualan atau kesalahan penyebutan karena ketidaktahuan. Ia tampak mempesona dengan warna khas Violetnya. Bergerak lincah diantara rumput ilalang dangan pesona dan keceriaanya. Memberikan warna yang berbeda bagi para penikmat keindahanya. Akhirnya benak ini menimpali, Stop menghayal. Benar saja, karena efek gadis dengan balutan warna khas lavender itu membuat kami larut dalam sebuah lamunan.h.h. [agap saja fitrah kaum Adam]

Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 dan kami diharuskan meninggalkan tempat ini, Pos Cemoro Kandang untuk segera merapatkan barisan menuju camp selanjutnya. Dan kami pun rela meninggalkannya [ Sebuah Tanya?.] Perjalanan menuju pos Kalimati harus ditempuh sejuh 5 km dengan medan yang cukup landai dengan beberapa treck yang tidak terlalu curam tetapi cukup banyak menguras tenaga karena jauhnya. Selain itu, ramainya pendakian kali ini menjadi dilema tersendiri, dimana disatu sisi, banyaknya pendaki berarti banyak teman yang akan kita jumpai. Disisi lain kekhusyukan Gunung Sebagai Tempat Kembali sulit untuk didapatkan lagi. Ditambah dengan treck perjalanan yang ramai dengan para insan selain memberi nilai negative baik bagi sesama pendaki tapi juga bagi lingkungan sekitar rute perjalanan. Tak ayal, disepanjang rute menuju Kalimati masih sama seperti perjalanan sebelumnya, penuh dengan pendaki layaknya aktivitas mudik lebaran dikampung halaman.  Sekali-kali kami juga jumpai pendaki-pendaki yang mungkin terinpirasi dari film-film yang mengatasnamakan gunung sebagai Background cerita, seperti 5 CM atau Rome* dan Rinjani. Sehingga pada kesempatan ini, peralatan tempur yang mereka sandang cukup membuat kami terheran-heran. (maklum rada Katro Ho.ho). Mungkin cuaca kali ini membuatnya mengharuskan dirinya untuk berpakaian seperti itu. Waw………Sehingga perjumpaan dengannya sedikit-banyak mampu merefresh ingatan kami tentang alam fana sana. H.h dan Makhluk halus itu tak ingin dilewatkan (entah siapa yang mengambilnya) dari jepretan kamera Mobile Phone, yang kelihatanya tidak membuatnya sadar bila sedang berada dalam bidikan dan intaian 4 manusia harimau-harimau ini.wk.wk
 
Intermezo, We're So Sorry Mbake, Kayak kue
Kaki segera kami ayunkan perlahan menyusuri treck dengan semak-semak ilalang dan cemara dikanan kirinya. Peluh dan keringatpun keluar menunjukkan waktu itu udara begitu terik, sesekali rimbun pepohonan mampu menaunginya. Hilir mudik pendaki rupanya membuat treck yang memang sudah mulai kemarau kini mulai munculkan debu yang cukup mengganggu pernafasan sehingga saya sarankan untuk waktu seperti sekarang ini harus pakai masker untuk meminimalisirnya. 1,5 Km sudah kami lalui dan kami sampai di kerumunan pendaki yang sengaja merehatkan badannya ditempat yang memang cukup rimbun karena naungan pepohonan. Sebentar sahaja kami merebahkan beban kemudian langsung melanjutkan perjalanan sembari menunggu penyemangat baru yang barang kali datang.h.h dan kali ini pendaki yang naik dan turun cukup berimbang (sama-sama banyak jumlahnya) sehingga kami harus sedikit banyak respect dengan pendaki lain. Moment saat itu membuat seakan Mahameru tak istirahat untuk menerima tamu yang berkunjung untuk berguru atau sekedar cari pengalaman baru.

Km 2 menuju Camp Point Kalimati sudah kami lewati membuat benak ini kembali bertanya ” Kapan sampainya INI??”. Hampir pukul 15.00 atau 2 jam kami telah habiskan untuk menyelesaikan hampir ½ perjalanan menuju Kalimati. Istirahat adalah sesuatu yang bijak untuk kami luangkan agar fisik ini kembali bugar dan agar tidak memaksakan kekuatan badan juga batasan kemampuan kawan seperjuangan. Dan nampaknya kami banyak jeda istirahatnya (maklum sudah memasuki usia senja).  Makan dan minum kami keluarkan untuk kembali memompa tenaga, sembari menyaksikan pendaki lain berhilir mudik. Setelah rehat ini!, nampaknya perjalanan akan kami lewati dengan cukup nyaman karena perjalanan menuju pos Jambangan banyak didominasi dengan pepohonan cemara yang cukup rapat untuk menghijabi kami dari terik matahari. Selama kami rehat banyak pendaki yang sudah mulai turun, menyelesaikan hajatnya sowan Mahemeru yang kali ini belum juga Nampak terlihat dari kejauhan. Semoga saja jalan tak lagi banyak dijumpai rombongan-rombongan yang turun yang dipastikan akan mengganggu kenyamanan perjalanan kedepan karena treck yang disediakan tak selebar yang diharapkan.

1 jam perjalanan lagi kami akan sampai di Pos Jambangan sebelum sampai di Camp Kalimati. Perjalanan yang diperkirakan lancar, kali ini harus tersendat juga, karena ternyata banyak pendaki yang masih ingin turun.  Waktu kami banyak tersita untuk bersabar menunggu rombongan-rombongan besar pendaki yang turun. Sambil minggir kami manfaatkan untuk merehatkan badan dengan menunggingkan beban punggungan atau mengangkat tali pegangan carier agar punggung dan pundak sejenak terbebas dari tekanan. Trik ini cukup membantu merefresh keletihan yang menyerang anggota badan karena treck perjalanan dan beban yang dibawa. Medan yang disuguhkan cukup mudah untuk dilalui dengan menyusuri hutan cemara dengan beberapa kali menurun lereng kecil atau punggungan. Yang mungkin kali ini disayangkan adalah jalanan yang terbatas  hanya untuk jalan satu orang dipaksakan untuk menampung langkah beberapa rombongan-rombongan sehingga semak disekitarnya banyak yang rusak, ditambah lagi dengan sampah-sampah bungkus yang tercecer ditinggalkan para pendaki lain yang enggan peduli dengan lingkungan. Harus menjadi perhatian dan koreksi diri bahwa sekecilpun sampah yang kita tinggalkan sedikit banyak akan berkontribusi terhadap pencemaran yang terakumulasi di masa depan. Semoga menjadi perenungan kita.

Pos Jambangan

Akhirnya kami sampai juga di Pos Jambangan, pos dimana kita dapat melihat Mahameru berdiri menjulang. Pos berupa tanah terbuka tak seberapa dengan pepohonan khas pegunungan dan rerumputan ilalang itu seakan menjadi figura dari objek lukisan Mahemeru yang terlihat anggun dengan paduan vegetasi khas Jambangan. Dari sana Mahameru terlihat jelas dengan gurat-gurat kaldera pepasiran yang akan membuat orang bertanya bagaimana mereka dapat menaikinya. Terlihat pula perbedaaan mencolok yang terjadi didaerah argopuro, tempat perbatasan antara daerah bervegetasi dengan pasir bebatuan seutuhnya (kami pun tidak tahu dimana tempatnya) yang membuat Mahameru terlihat botak karena mulai memasuki usia senja dengan rambut bagian atas mulai tiada.  Di Jambangan tersebut konon masih ada hewan liar sejenis rusa dan harimau, tapi kali ini kami tidak menjumpainya. Sembari menikmati suguhan panorama manakjubkan nan alami, kami sempatkan istirahat bersama rekan-rekan pendaki yang cukup banyak berkerumun di tempat yang lumayan teduh tersebut, sambil menyeruput minuman digenggaman sambil melihat jam ditangan yang sudah menunjukkan waktu 16.00. Camp Kalimati 2 Km lagi atau dapat ditempuh dengan 1 jam perjalanan atau jam 17.00 kami dapat tiba untuk mendirikan tenda dan beristirahat memompa tenaga menaklukkan sang Pujaan yang kini berdiri tegak menjulang.

Guratan itu membuat kami ngeri, tapi tekad dan semangat ini membuat kami yakin untuk bisa menaklukkannya

Kami tak ingin berlama-lama berada di pos Jambangan karena waktu sudah beranjak senja dan diperkirakan medan tak lagi menanjak atau cenderung banyak turunan yang akan memberi bonus bagi langkah para pendaki. Ayunan langkah kami nampaknya mulai ringan karena medan yang disuguhkan juga faktor sang Pujaan sudah ada dihadapan memberi semangat tambahan untuk mempercepatnya dan ingin bersegera menjamahnya. Matahari yang mulai condong semakin membuat suasana semakin syahdu dan tidak terik seperti perjalanan yang sebelumnya. Kembali, diperjalanan menuju kalimati masih saja kami jumpai rombongan-rombongan pendaki yang sama-sama menuju Camp atau sudah akan beranjak pulang menuju camp Kumbolo. Benar-benar kali ini Mahameru disibukkan dengan para pendaki dan hiruk pikuk aktivitasnya. Langkah kami pun sama seperti tadi tanpa mengedepankan keegoisan diri dengan tetap respect terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain. Dalam hati kami berharap agar segera sampai di Camp Kalimati, dapat istirahat dan siap menaklukkan Mahameru dengan waktu rehat yang tidak cukup banyak karena jam 22.00 nanti kami sudah diharuskan memulai Summit Attack. [3-4 jam istirahat saja bung]

Akhirnya, Kalimati

Setelah berjibaku selama kurang lebih 1 jam perjalanan dan lumayan melelahkan akhirnya sampai juga kami di Camp Kalimati. Medan yang terlihat lebih landai itupun ternyata juga banyak menguras tenaga karena  jarak tempuh yang juga lumayan panjang, sejauh 2 km perjalanan.  Pukul 17.00 kami akhirnya tiba di lokasi penginapan untuk mendirikan tenda. Terlihat beberapa tenda sudah banyak berdiri disana. Camp Kalimati memang benar sebagaimana namanya, seperti sebuah Aliran kali yang sudah tiada airnya menyisakan tempat lapang untuk para pendaki ideal mendirikan tenda. Setelah mencari-cari akhirnya di ujung sana-dibawah rerimbunan pohon cemara kami putuskan untuk mendirikannya. Tempat yang kemungkinan jauh dari terpaan angin atau Hujan meteor sekalipun, [barang kali]. Perlahan menuruni tanah lapang akhirnya sampai juga di lokasi penginapan. Carier saya letakkan dan segera tenda kami keluarkan agar cepat-cepat dibangun dan akhirnya dapat dihuni. Tak berapa lama tenda siap dimasuki dan barang-barang pribadi taklupa kami masukkan agar nantinya dapat langsung mudah ditutup rapat karena ditinggal penghuninya.

Matahari semakin redub menandakan hari telah senja dan penghuni tenda lainya terlihat sudah bersiap mengistirahatkan badan juga fikirannya untuk mempersiapkan Summit Attack lebih dini dan lebih prima nantinya. Kami terpaksa harus menunda waktu istirahat untuk merampungkan urusan-urusan wajib, sunah dan mubah yang masih menunggu kesiapan jiwa dan raga. Pertama-tama kami menyiapkan alat memasak untuk sekedar memasak air untuk membuat minumam penghangat dan merebus mie. Kemudian, Sembari menunggu masakan, kami luangkan waktu untuk bergantian melaksanakan kewajiban Shalat (Jamak Qasar). Letih menghinggapi namun Hajat besar sudah menunggu didepan mata, meminta pelakunya untuk benar-benar meluruskan niat, menguatkan tekad dan memepersiapkan jasad untuk menjamah-berinteraksi dengan CiptaaanNya ini.  Sehingga pencapaiannya nantinya benar-benar mendapatkan sesuatu yang benar-benar diharapkan. Sesuatu yang bukan sekedar sampai dipuncaknya sahaja, atau sesuatu yang dapat membuat orang lain terkesima, atau sesuatu yang dapat digunakan sebagai bahan cerita generasi kita nantinya karena sesuatu itu hanyalah miliki sang Pencipta kita, Sang Pembangun pasak yang kini masih berdiri tegak. Kita sebagai ciptaanNya dituntut untuk mencari sesuatu itu, sesuatu yang akan kita dapatkan bila kita ikhlas mencarinya, bersyukur atas pencapaiannya. Kami pun beruntung bisa merasakannya dan disempatkan untuk datang ketempat ini, tempat yang akan banyak memberi arti.

Pukul 19.00 kami segera beranjak tidur dan beristirahat agar Summit Attack nanti benar-benar siap baik fisik maupun mental. Saya sempatkan membaca beberapa ayat Al Quran untuk benar-benar memantapkan niat dan tekad, namun mata ini sulit untuk diajak berkompromi dan tidur menjadi solusi mengatasi keterbatasan sebagai seorang insan. Terlihat rekan-rekan sudah terlelap dan diri ini nampaknya akan segera menyusulnya karena waktu tidur kami dibatasi kurang lebih sampai jam 23.00 agar sampai di Puncak Mahameru tidak terlalu siang, mengingat medan yang sangat sulit dan ekstrim (2 langkah-turun 1 langkah bahkan lebih). Doa sebelum tidur menjadi pengantar diri masuk ke Alam Kematian sementara yang akan di bangkitkan saat bangunnya nanti. Segera diri ini pun terlelap, menuju alam dan dimensi yang berbeda. Good Night!!


Sumber: wiranurmansyah.com

"Walau ingin hati memetik bintang, Manalah mungkin tyada sayapnya"rinto. Dan Bintang di angkasa itu diSusun sedemikian rupa, sedemikian cantiknya, bukan dicipta untuk dipetik ataupun digapai insan perindunya, cukup qalbu mentafakurinya-mentadaburinya. 

Summit Attack, Go Mahameru

Go!Go!Go bla.bla.bla semacam yelyel yang begitu keras terdengar memaksa kami bangun dan melihat Arloji digenggaman. Dan Waktu ternyata telah menunjukkan pukul 22.15. Suara itu membuat perasaan kami berkecamuk antara marah karena suara itu tiba-tiba membangunkan tidur kami yang lelap atau berterima kasih karena  telah memaksa kami untuk berbegas mempersiapkan diri. Tapi akhirnya Kami terpaksa harus mengemasi Sleeping Bag yang sedari tadi membuat nyaman didalam alam keterlelapan, untuk segera packing barang-barang yang dibutuhkan dan mengaklimatisasi badan juga fikiran. Seluruh anggota akhirnya bangun semua pertanda kami sudah akan siap menempuh terjalnya jalur yang disediakan. Beberapa makanan dan minuman kami sempatkan konsumsi untuk menambah tenaga karena kami nanti diharuskan semalaman berjalan diatas treck terjal yang sangat menguras tenaga dan mental. Bapia Kacang hijau, beberapa cemilan dan susu kemasan berasa menjadi pengganjal yang tepat untuk meningkatkan kalori yang dibutuhkan nantinya, sementara bekal yang lain seperti Biskuit-wafer, air mineral dan sisa menu konsumsi siap untuk dikemasi kedalam tas Daypack juga peralatan dokumentasi pasti tak lupa untuk dibawa.

Setelah kami benar-benar siap baik perbekalan, perlengkapan, fisik maupun mental, kami mantapkan untuk keluar tenda dan berinteraksi dengan hawa dingin diketinggian tempat 2700 mdpl ini. Nampaknya Jacket Wind&Waterproof yang saya pakai cukup banyak membantu menangkal hawa dingin yang berhembus dan menerpa badan.  Sepatu track dengan Geiter tambahan, Sarung tangan, sleyer dan kupluk kepala menjadi perlengkapan yang sunah muakhad disediakan agar Summit Attack benar-benar nyaman. Seluruh Anggota tim sudah keluar sementara barang-barang pribadi dimasukkan ke dalam tenda dan itu artinya kami sudah mantap untuk memulai perjalanan. Perlengkapan tim sudah terklarifikasi oke dan akhirnya doa kami wajib haturkan kepada Penata bintang di angkasa malam sana agar perjalanan penting ini benar-benar mendapat ridhaNya dengan pencapaian, keselamatan, juga kebersamaan menjadi indikatornya.  Dalam doa itu kami pasrahkan segala urusan yang kami hajatkan agar benar-benar mendapat restu dari Yang Maha Tahu. Puncak tertinggi menjadi impian kami, keselamatan tim menjadi tanggungan kami dan kebersamaan menjadi penggerak kami. Dan Pukul 22.30 akhirnya kami langkahkan kaki menapaki setiap jengkal tanah ini. Nampaknya kali ini rombongan pendaki sudah banyak yang terlebih dulu berangkat dengan langkah terdengar begitu bersemangat. Semangat Bro!!!!

Langkah kami mulai dengan melewati bangunan permanen kalimati, kemudian kami diharuskan berbelok kekanan untuk mengikuti Jalur yang telah disediakan. Sejenak tanah padat kemudian sudah berubah dengan taburan kerikil yang menutupi rute perjalanan. Beberapa puluh langkah kami berjumpa dengan pendaki lain yang sudah berhenti istirahat, kami pacu langkah dan tubuh ini agar selain untuk pemanasan juga agar cepat sampai tujuan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Walaupun masih dalam wilayah vegatasi cemara namun trek mulai menanjak dan cukup menguras tenaga. Trek semakin keatas semakin sulit untuk ditaklukkan karena kerikil yang menutupi permukaan tanah ternyata mengurangi daya cengkram tumpuan. Pos Arcopodo menjadi persinggahan pertama yang dapat dijadikan tujuan sementara untuk menyusun langkah dan strategi selanjutnya. Setelah berjalan mendaki cukup lama kami tak kunjung mencapainya, pos yang dideskriptifkan sebagai tempat perbatasan vegetasi pepohonan dengan wilayah gersang pasir juga bebatuan. Diperkiraan jarak tempuhnya sejauh 1,2 Km dari start point Kalimati tapi kaki ini rasanya tak jua sampai kepadanya.

Sumber : Dhave/Kompasiana

Sinar lampu pendaki disepanjang jalur pendakian menyatu dengan kerlip bintang di temaram malam. Seakan memancarkan semangat untuk kami yang ingin segera tiba diatas sana. Kuatkan Kami ya Rabb!!  
Entah!!!, Arcopodo 

Arcopodo sudah  diluar bayangan, yang pada awalnya kami ingin sejenak melihat Arca Kembar yang menjadi dasar penamaan tempat itu. Dua Arca yang entah siapa yang meletakkannya dan konon merupakan jelmaan makhluk-makhluk penunggu sana. Tak sekelumit benak mengarahkan fikiran ke hal klenik tersebut dan lebih banyak untuk memikirkan penciptaan bintang-bintang tertata diatas sana dengan dzikir menjadi media penuntun untuk berinteraksi dengan penciptanya. Selain itu,  medan yang semakin terjal membuat keinginan untuk melihat Arcopodo itu sirna dan sekarang puncak tertinggi juga sang Penciptanya lebih menggeser logika dan paradigma. Dan Nampaknya kami sudah benar-benar di batas vegetasi, tapi arca-arca tersebut tak kunjung terlihat, atau saat itu mereka tak sedang ingin menampakkan diri?? Weleh.. ada-ada saja pemahaman yang berkembang mengatasnamakanmu Arcopodo. Arcopodo akhirnya ikhlas kami lewatkan dan melangkah memasuki perbatasan vegetasi zona pasir bebatuan.

Akhirnya kami melewati batas vegetasi, itu artinya langkah ini akan segera melalui setengah perjalanan dan waktu itu telah menunjukkan tengah hari (00.00). walaupun hanya 1,5 km jaraknya bukan berarti itu semakin mudah, treck justru akan semakin berat dan berbahaya. Berat karena setiap langkah yang kita ayunkan bernilai ½, ¼ atau bahkan tak sama sekali beranjak. Itu karena medan berpasir dinamis yang mudah longsor apabila kita Pijaki. Dan Berbahaya karena banyak batuan lepas yang apabila ada goncangan atau ada pendaki lain yang salah memijakinya maka batu itu akan meluncur ke bawah. Sehingga tak ayal diperjalanan Summit Attack nanti akan banyak Warn!!! dari sesama pendaki yang tidak sengaja melonsorkan bebatuan atau melihat batu menggelinding walupun ternyata itu hanya batu sebesar kepalan.H.H(tapi tetap harus waspada dan hati-hati). Melihat karakteristik kondisi medan tersebut kami siasati dengan mengambil teknik zigzag untuk meminimalisir longsoran pasir dan menambah daya cengkeram tumpuan. Walaupun sedikit menambah jarak tempuh tetapi akan efektif untuk menapaki jengkal demi jengkal trek Summit itu. 

Dari awal kami memang tidak sengaja mengambil  jalur pendakian baru yang terlihat lebih sepi dari pendaki (terlihat jalur lama disebelahnya, pendaki banyak yang mengantri). Dikabarkan jalur baru itu sempat ditutup karena terjadi longsoran dan kini sedikit diminati pendaki. Dari jalur ini sangat memungkinkan kami melakukan teknik zigzag karena selain kontur pasir yang lebih kokoh juga sedikitnya halangan sehingga memudahkan kami untuk bermaknuver.^^. Perlahan tapi pasti kami lewati tahap demi tahap dan sesekali rehat untuk beristirahat (minum-nyemil) sembari menyaksikan susunan bintang yang semakin nampak jelas terlihat menjelang 1/3 malamnya. Kalimat Tayibah tak jemu kami ucapkan sebagai ungkapan rasa syukur dan ketundukan kepada Tuhan Semesta Alam Raya. Selain sebagai bentuk ritual penghambaan, lantunan kalimat suci itu seakan menjadi sumber lain pemompa semangat dan tenaga. Dan waktu itu pula kami jumpai mulai banyak pendaki yang mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan karena mungkin fisik mereka yang sudah tidak memungkinkan. Faktor mental juga sedikit banyak mempengaruhi keberlansungan perjalanan yang dilakukan melihat medan yang memang menuntut penakluknya mempunyai mental yang kuat. Dan dalam hati ini berharap semoga Tim Kami tetap utuh sampai tujuan yang diinginkan bersama.

Tragedi Yang Tak Di Harapkan

Nampaknya saat itu takdir berkata lain, Allah Sang pemberi kekuatan dan sang pembolak-balik hati berkehendak atas salah satu diantara kami harus gugur dari perjuangan menaklukkan atap dataran ini. Awalnya saya masih yakin dan percaya akan kemampuannya untuk mampu melanjutkan, tapi Segera Uyab dan Sam merespon gejala tersebut dengan memanggil saya yang mungkin cenderung mementingkan diri sendiri. Walau sudah cukup jauh suara itu makin jelas terdengar, memanggil dan meminta saya agar segera turun menghampiri mereka. Dengan ada rasa sedikit enggan akhirnya saya turun juga, karena pemahaman saya sebagai teman satu desanya yang sedikit banyak mengetahui basic kesehatan dan kemampuan yang dimiliki. Tapi kembali, mungkin faktor-faktor pendukung lain yang mengakumulasi kondisi tubuhnya sehingga akhirnya lumayan drob. Segera saya bergegas turun untuk memastikan kondisinya. Dan ternyata benar, Fisiknya kelihatan tidak memungkinkan untuk melanjutkan dan saya perkirakan ia (doni) terserang hipotermia ringan karena muncul gejala pusing dan kedinginan.

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 02.30 dan Ia tetap saja berujar untuk tidak bisa melanjutkan perjalanan Summit. Kurang lebih ¾ langkah perjalanan sudah ia tempuh dan terpaksa harus berhenti mengakhiri perjuangan ini. Berulang kali saya menyemangatinya tapi keyakinannya sudah bulat dan yang membuat hati ini sedikit lega dengan kondisinya karena masih besar keinginannya untuk turun ke camp sendirian tanpa ingin merepotkan dan membuat rencana awal tertunda. Akhirnya diputuskan Tim tetap melanjutkan perjalan dan 1 harus turun walaupun awalnya Sam ngeyel ingin menemani turun, tapi saya yakinkan dia [sam] agar percaya terhadap kemampuan rekan yang sudah sejauh ini bersama dalam satu tujuan perjuangan. Perbekalan makanan-minuman, obat-obatan dan perlengkapan seperti sweeter dan Geiter turut kami sertakan. Bukan tanpa alasan kami yakin untuk merelakan ia turun sendirian, selain gejala Hipotermia yang membuat penderitanya akan kembali pulih dengan sendirinya setelah mengurangi posisi ketinggian, juga yakin dan percayanya kami (saya) akan kekuatan dan kemampuannya untuk melewati masa krisis ringannya karena sebelumnya ia telah mengikuti seleksi keprajuritan tahap akhir disebuah lembaga negara. Anggap saja tenda adalah tujuan puncaknya saat itu sebagaimana kami mendaki menuju puncak yang akan masih cukup lama ditempuh. Sory bro gak bisa menemani.

Pukul  03.00 kami bertiga akhirnya tetap melanjutkan perjalanan, dengan tujuan awal masih tertancap didalam benak-fikiran. Sambil berharap tidak terjadi apa-apa lagi kepadanya selamat sampai tenda penginapan, kami perbarui niat awal kami yaitu: untuk bisa sampai diatas sana, melihat sun rise dan tentunya dapat Sholat shubuh di Atas puncak sana. Walaupun tubuh ini sudah letih untuk melanjutkan perjalanan nampaknya tekat ini lebih bisa menaklukkannya dengan tetap memberi suntikan semangat untuk mengayunkan langkah. Kali ini tim terlihat mulai tercecer (berpisah) tapi hal ini kami sikapi dan kami anggap sebagai proses perjalanan kehidupan, bahwa walaupun kali ini kami sementara berpisah toh akhirnya kami akan diperjumpakanNya diatas sana (yang penting percaya). Dan benar, Uyab sudah dahulu melangkah dan mempercepat ayunannya, saya tetap pada langkah konstan dan Sam tetap terseok dengan langkah beratnya karena beban tubuhnya sendiri.h.h.

Get Sunrise and Every Things

Langkah berat ini membuat kami berfikir tak akan mampu melihat sunrise diatas sana karena saat itu rona jingga mulai terpancar diufuk timurnya. Semangat kami seakan beringsut padam tapi ternyata harapan itu hadir untuk memberi suntikan semangat lain yang mendorong tubuh ini tetap berjalan. Bayangan khusuknya Shubuh diatas sana membakar semangat kami dan sebuah doa sebisanya kami coba selipkan disetiap ayunan langkah “ Wahai Rabb Pencipta Alam Raya, kami sadar kami bukanlah utusanMu Yusa’ bin Nun yang atas seijinMu mampu menahan Matahari untuk sejenak berhenti menuju tempat tenggelamnya sebelum ia dapat membebaskan Baitul Maqdis, saat ini adalah waktu subuhMu maka mampukanlah kami untuk tetap melangkahkan kaki kami untuk menuju tempat tertinggi ini, tempat yang akan membuat hati ini lebih dekat dengan Engkau sebagai Penciptanya di Sujud dan Rukuknya. Akhirnya langkah ini kami perlahan lanjutkan seakan semangat, keyakinan dan kepasrahan menjadi motor penggerak yang tersisa di dalam raga.

Langkah gontai ini seakan terbayar lunas setelah mendengar pekikan puncak sebentar lagi akan tergapai dan saat itu waktu telah menunjukkan pukul 04.45. Rasa haru biru mulai merasuki rongga dada membuat badan ini seakan melayang dialam yang berbeda. Perlahan kaki Sampai juga ditanah lapang sembari melangkah lagi ke tempat yang cukup luas dan segera mencari-cari tempat yang bisa dijadikan tempat beribadah Subuh. Dalam hati saya bergumam “Akhirnya kau sampaikan juga kami di Puncak MahameruMu, puncak tertinggi di daratanMu ini, Sholatku, Ibadahku, Hidup dan Matiku hanya untukMu ya Rabb seluruh Alam. Jadikan sujud ini sebagai wasilah kami untuk lebih dapat mendekatkan diri kepadaMu dan semoga Air mata ini menjadi Kafarat (penghapus) Dosa yang pernah kami lakukan juga sebagai tanda kecintaan kami kepadamu dengan Puncak ini sebagai saksi bisunya”. 2 rekaat Sunnah dan 2 Rekaat Wajib menjadi media diri untuk meluapkan perasaan Kebersyukuran atas semua apa yang diberi sejauh ini. Setelah merampungkan kewajiban dan merealisasikan niat, kami pun disambut SunRise yang sudah mulai muncul yang “seakan” menunggu kami menyelesaikan kewajibanya (pede men^^). Uyab sudah sedari tadi menunggu di sudut sana sambil mengabadikan momen menakjubkan ini, sementara Sam juga sudah tiba dan selesai melaksanakan kewajiban. dan itu artinya Tim ini akhirnya dapat bersatu kembali juga. Moment saat itu sebagai bukti mengenai sebuah keyakinan terhadap Tuhan Pencipta Alam dan menjadi sisi penting tersendiri yang tidak boleh ditinggalkan juga wajib menjadi pegangan bagi para pendaki yang memang benar-benar ingin kembali.

Jingga akan selalu berbeda ditempat yang orang lain sering mengabaikannya
Veni, Vidi, Vici
Yakinlah Walau jalan kita berbeda, kelak nanti akan dipertemukanNya
Puncak Mahameru yang telah lama ingin dituju akhirnya kini kami benar-benar menapakinya. Tanah ini, debu pasir ini, bebatuan ini seakan menjadi saksi kehadiran kami dipuncak tertinggi daratan ini. Tempat dengan ketinggian 3676 MDPL ini benar-benar memberi jamuan pemandangannya yang begitu rupawan bukti Pencipta Alam Raya ini benar-benar menyediakannya untuk mereka yang yakin dan berusaha. Pendar cahaya surya yang masih jingga terlukis diangkasa mulai beranjak naik memaksa kami mengkhiri keintiman interaksi  dengan Penciptanya melalui beraneka karya ciptaanNya ini. Ritual Hablu minallah telah tergenapi dan saatnya kembali kedalam ritual Hablu minannas keduniafanaan. Camera dokumentasi menjadi peralatan tempur yang wajib disediakan dan setiap jengkal tanah ini dengan setiap angel panoramaanya seakan sayang untuk dilewatkan. Sudah banyak pendaki lain juga tiba dan larut dalam ritual Kemainstreman dengan camera menjadi sesuatu yang lazim ada digenggaman atau Tripod dihadapan.he,he. Dan Kami pun sebagaimana yang mereka lakukan, juga memengabadikan momen-moment tersebut agar kelak menjadi media pengingat tempat menakjubkan ini. Kertas tulisan dan Banner Alay pun sudah kami persiapkan sebagai alat improvisasi dokumentasi agar dapat memberikan kesan berbeda jika hasilnya dilihat kembali nantinya.h.h

Walau senyum ini mengembang, tapi Hati jauh lebih menggelora didalam Sana

Mentari Pagi mula beranjak meninggi dan menjadi moment yang tepat untuk mengabadikan wajah-wajah yang tidak “sembada” dengan keluh dan tangis air matanya tadi. Berganti rona bahagia dengan sudut-sudut tanah dan landscape-panorama menjadi background bidikannya.  Bluk……. Tiba-tiba terdengar letupan dari kawah Junggring Seloka mengepulkan asap pekat ke langit Birunya. Asap mulai membumbung tinggi yang di barengi dengan suara riuh dari pendaki yang entah takjup atau takut. Kami pun menggeser destini menuju Fenomena Erupsi Jonggring Seloka sebagai background foto nantinya karena menurut informasi letupan itu akan terulang setiap 5-10 menit sekali dari dalam kubah erupsinya. Dan kami bergegas menghampirinya dan taklupa perlengkapan Alay kami bawa dengan menuruni beberapa meter dari puncaknya.

____________________________________________________________________

Jonggring Seloka dan Sisi lainnya

Jonggring Seloka,tempat bersemayamnya para dewa atau lebih tepatnya tempat menimba pelajaran tentang sebuah keMaha Karyaan dari Pencipta Alam Raya, Allah azza wa jalla
Jonggring Saloka atau menurut bahasa atau istilah pewayangan berati puncak abadi para dewa, tempat bersemayamnya utusan sang Penggenggam Semesta Raya [katanya]. Adalah nama kawah tertinggi dan terbesar Gunung Semeru di sisi selatan puncaknya yang kini masih terbukti dalam kondisi Aktif. Menurut informasi yang berkembang, material yang dimuntahkan dari mulut kawahnya banyak ragam pendapat menjelaskannya: ada yang menyebutkan berupa batu pijar, kerikil, pasir dan asap beracun (wedus gembel) dan ada juga yang menyabutkan material itu berupa Gas Sulvatara yang mengandung uap air pekat, tapi kesemuanya itu tetap saja akan membumbung tinggi menyebar di Atmosfer. Siklus letusannya ternyata cukup bervariasi.  Tercatat Saat kami disana dan mengamatinya kadang letupan itu terjadi dalam waktu 3 menit dengan material masih berupa asap pekat, kadang harus menunggu lama, kadang bersamaan dan pasti dibarengi dengan suara khas seperti suara mercon bumbung yang disulut (baca: Jlong-jlongan, blong-blongan dll). Menurut balai besar TNGBTS dan Rescuer saat pembekalan, para pendaki dihimbau untuk tidak mendekati kawah sesuai jarak yang telah ditentukan dan juga dihimnbau untuk segera turun setelah jam 10.00 karena angin yang berasal dari laut selatan cenderung membawa asap Jongring Seloka menuju kearah Utara/ Puncak. Dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana kecelakaan yang menimpa sesepuh para pendaki, sang legenda Soe Hok Gie dan temannya Idan lubis.

Berbicara tentang Soe Hok Gie, kali ini kami ingin mencoba mengupas  tentang kisah Asmaranya. Menurut Lugas Wicaksono(blogspot) Gie biasanya ia dikenal “ pun menginginkan untuk menjalin cinta dengan perempuan yang dicintainya, tapi ia harus menerima kenyataan bahwa perempuan tersebut tidak menginginkannya. Cinta bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. Terkadang keinginan memang tidak sejalan dengan kenyataan. Jiwanya akhirnya kering tanpa cinta”. Seperti puncak kering ini, seloka sebagai letupan perasaanya. Dan Selokalah yang akhirnya menjadi sebab Ia (Gie) kembali keharibaanNya. Berangkat dari problematika cinta Gie itu mungkin tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami rekan-rekan seperjuangan pendaki pada umumnya (mungkin saya/kami juga^^) terbukti dari benner-benner dan tulisan alay yang mereka sengaja bawa sebagai luapan perasaan (memang niat temen mereka). Terlihat benner dengan ukuran cukup besar membentang bertuliskan gadis pujaan, tulisan laminating sebagai tempat menggoreskan spidol tulisan perasaan, Kertas cetakan yang sudah dipersiapkan, batu yang ditata membentuk huruf atau inisial dan masih banyak lagi ragam bentuk ungkapan perasan tersebut.  Memang tidak usah dilarang atau dicemooh atas apa yang mereka lakukan karena itu adalah bagian dari kearifan lokal didalam dunia pendakian dan yang terpenting mereka mampu untuk menjaga sampah yang menjadi tanggung jawab mereka.wk.wk..

Akhirnya, Puncak ini seakan menjadi saksi pergolakan hati, Jonggring Seloka dengan kepulan material asapnya seakan memberi I'tibar (pelajaran) bahwa apa yang tersimpan didalam luapkan seperti ia (seloka) lakukan, keluar secukupnya, konstan dan perlahan-lahan. Jika itu tetap tersimpan, kadang keluar sesuatu yang tidak diinginkan dan justru akan merusak dirinya juga sekitarnya (Erupsi). Karena orang bijak pernah mengatakan bahwa "Cinta tak pernah meminta untuk menanti, ia mengambil kesempatan dan itu yg disebut keberanian atau mempersilahkannya itu yg dinamakan dengan pengorbanan". Biarlah Seloka menyaksikan keluguan pemahaman meraka (pendaki) tentang sebuah arti cinta,karena Penciptanya lebih tahu apa yang terbaik bagi makhlukNya karena apa yang kita makhlukNya anggap baik belum tentu baik bagiNYA. Karena cinta berhulu padaNya, jaga tempat hulu itu berada kan kita dapatkan kejernihan dan kesegaran dihilir-hilirnya walaupun disaat Musim Kemarau sekalipun.

 Ilustrasi 1

Ilustrasi 2
Note : Gambar diatas hanya ilustrasi belaka, apabila ada kesamaan nama mungkin itu hanya kebetulan semata tidak ada unsur kesengajaan atau rekayasa.wk.wk..
 
Bukan sekedar tulisan yang akan mudah terhapus, cetakan yang luntur ditelan waktu. tapi inilah salah satu pencapaian sesungguhnya yang akan terpatri di dalam sanubari (Persahabatan dan Kebersamaan)
Untuk menutup Chapter ini, kami ingin sedikit berbagi mengenai bagaimana kesan dalam melakukan aktifitas pendakian ini. Pertama  dengan mendaki setidaknya kita akan mengetahui betapa kerdilnya diri di dalam Kemahabesaran Sang Penggenggam semesta-rendah diri dikeharibaanNya, kedua kita akan dapat memahami tentang arti sebuah kemandirian, kesetiakawanan dan rela berkorban karena di alam kita tak akan mampu berjalan sendiri dan dikondisikan untuk saling membutuhkan  teman yang siap memegang pundak kalian, ada orang lain yang selalu memberi senyum-sapa tanda keramahan, ketiga bahwa alam meminta bukan saja untuk didaki, tetapi juga untuk ditadaburi karena Allah menanamkan ayat-ayat yang tersiratNya untuk dicerna dengan mata dan hati yang “kembali”. Dan terakhir saran saya dalam melakukan pendakian ke gunung Semeru jangan pada saat libur panjang jika tidak ingin bermacet-macet ria (bukti bahwa Semeru benar-benar Recommended bagi para pecintanya) dan sedikit banyak menimbulkan eksternalitas negatif bagi keberlangsungan kelestarian alam ini. Pilihlah hari biasa agar kita dapat merasakan pesona alam disepanjang rute perjalanan, cantiknya Kumbolo tanpa kerumunan tenda disekitarnya, tenangnya Oro-oro ombo diakhir pembuktiaan tanjakan tresno, kerasan memandang vegetasi di Cemoro Kandang, indahnya malam di Camp Kalimati dengan bentang hiasan bintang diatas langitnya, bersahajanya Trek Mahameru tanpa suara keluh, kerlap-kerlip lampu dan deburan debu, dan yang terpenting kita benar-benar dapat merasakan khusuknya Summit di tempat tertinggi Pulau ini.. Salam Lestari


Mungkin sekian dulu dari kami, Insyallah cerita dapat di lanjutkan dilain kesempatan,, To be Continued..
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar