Sabtu, 27 Juni 2015

GADIS MENAWAN ITU BERNAMA WORO




Pada suatu ketika, di zaman ketika Adam belum di turunkan kedunia, tinggalah dewa-dewa yang bersemayam di setiap wilayah daratan. Mereka ditugaskan oleh sang pencipta untuk menjaga dunia agar tidak dirusak oleh Iblis dan dedengkotnya yang telah terlebih dulu dikeluarkan dari surga. Mereka (Iblis) sengaja merusak dunia dan segala tatanannya untuk melampisakan hawa nafsunya sebab tidak diperkenankan lagi masuk surga. Mereka diberi jatah menghuni neraka karena pembangkangan yang dilakukan sewaktu ia (Iblis) masih diperkenankan tinggal disana (surga). Tak jarang dengan segala tipu muslihat dan kekuatan-kekuatan yang sengaja diberikan oleh sang pencipta, Mereka (Iblis) dengan leluasa membuat dunia seisinya porak poranda. Oleh sebab itu dewa-dewa yang memang sengaja ditugaskan menjaga wilayah yang telah ditentukanNYa, harus benar-benar mengemban amanat yang disematkanNya untuk mengantisipasi ganguan dan ancaman Iblis tersebut. Dan kali ini bumi sebagai tempat terakhir yang dapat dihuni, menjadi prioritas penjagaan oleh para dewa karena, kelak kehidupan makhluk bernyawa akan berpusat disana. 

Kamis, 25 Juni 2015

Sebuah Tanya




Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku”


Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin


Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?

Bait terakhir puisi di atas setidaknya ingin saya dijadikan landasan mengenai sebuah pemahaman tentang berbedanya kami (pria) dengan mereka (wanita) layaknya sepatu baik sifat dan tingkah laku tapi akan sama ketika mereka telah saling mencinta. Tapi pada kesempatan kali ini bukan ingin mengurai apa yang disebut dengan cinta, tapi lebih pada object yang membuat kita (kaum Adam) untuk jatuh cinta atau mereka yang sering juga disebut dengan sang perhiasan dunia. Sebegitu indahnya kah ia sampai di persamakan dengan emas, berlian atau bahkan batu akik? <Sebuah Tanya>Kembali ke Sajak puisi yang tentu kita ketahui dan pasti akan mengingatkan kita pada sosok lelaki yang menjadi idola kaum idealis dan tentunya pendaki (Gie). Judul tulisan ini memang sama dengan pendahulunya, tapi bukan ingin mengupas dunia lelaki yang selama ini telah diarungi Soe Hok GIe, tetapi lebih jauh dalam lagi yaitu mengenai sesuatu yang cipta dari tulang rusuknya (laki-laki). Begitulah yang disebut dalam cerita dan dari dasar yang dipercaya bahwa dahulu kala Ia (wanita sebut Hawa) dicipta dari susunan tulang iga paling bengkok pria (sebut Adam). Bagaimana ia bisa dicipta dari sesuatu yang mustahil? Tuhan Semesta Alam sungguh Maha Kuasa <Sebuah jawaban pasti>. <Sebuah Tanya> pun muncul:  La terus apa gunannya puisi diatas jika akhirnya hanya ingin mengulas tentang mereka (wanita)? dari puisi tersebut kita jadi tahu bahwa Gie sang idealispun juga terpaut hatinya pada makhluk yang dinamakan wanita. Wanita yang entah Ibu atau Kekasihnya itu pun menjadi bagian dalam karyanya yang banyak dihiasi dengan ruh nasionalisme. Gie! Engkau pun telah masuk dalam ceruk makhluk yang dinamakan wanita. Sudahlah membahas wanita dengan daya pikatnya berupa cinta yang lama-lama akan membuat jiwa terperangkap di dalamnya. (titik)

Selasa, 23 Juni 2015

MAKE ME STRONG (SAMI YUSUF)

Make me Strong - SamiYusuf


I know I’m waiting
Aku tahu aku sedang menunggu
Waiting for something
Menunggu sesuatu
Something to happen to me
Sesuatu terjadi padaku
But this waiting comes with…
 Tapi masa-masa penantian ini datang dengan…
Trials and challenges
Cobaan dan tantangan
Nothing in life is free
Tak ada yang bebas dalam hidup
I wish that somehow
Aku berharap entah bagaimana caranya
You’d tell me out aloud
Engkau akan memberitahuku dengan lantang
That on that day I’ll be ok
Bahwa pada hari itu aku akan baik-baik saja
But we’ll never know cause…
Tapi kami tidak pernah tahu karena…
That’s not the way it works
Bukan dengan cara itu semuanya bekerja
Help me find my way
Tolong aku menemukan jalanku

Minggu, 21 Juni 2015

MERAPI TAK PERNAH BERHENTI MENANTI




Sekilas Info
Sabtu, 16 Mei 2015 menjadi siang kelabu bagi reputasi merapi yang selama ini jarang terjadi hal yang tidak diharapkan menjadi sebab Insan berpulang ke Hadirat Ilahi.  Setelah erupsi tahun 2010 dahulu, Merapi cenderung lebih santun dan ramah dalam menyambut kedatangan para penikmat pesona keindahanya. Dan Siang itu benar-benar menjadi siang yang begitu pilu di puncak tertinggimu. Hari naasnya mahasiswa Jogja yang kedapatan melakukan pendakian ke puncak Garuda, puncak tertinggi yang dahulu megah berdiri dan sekarang tinggal menyisakan beberapa bongkahan batu runcing (tusuk gigi) yang amat terlarang untuk dipanjat atau dipijaki. Puncak itu menjadi sebab Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya karena terpeleset dan akhirnya jatuh ke dasar kawah. Dari kejadian itu masih menjadi tanda Tanya besar bagi kita para pendaki, apa yang melatarbelakangi almarhum bisa senekat itu untuk melakukannya?? Nasi sudah menjadi bubur dan pasti ada hikmah dibalik kepulangan Ery ke sisiNYa, paling tidak bisa menjadi peringatan bagi pendaki kedepannya untuk tidak melakukan apa yang Almarhum lakukan, biarlah ia tenang di Alam sana, tanpa melihat ada lagi yang mengikuti jejaknya. Dan Tepat 1 bulan pasca terjatuhnya kawan pendaki (Ery Yunanto) yang mengakibatkan ia tewas disana dan 1 bulan pula Merapi sendiri tanpa ada celoteh para pendaki. Sunyi tenang tak ada aktifitas yang berarti. Kini penantian kami akan terjawab wahai pasak negeri! We’re Go!!

Kamis, 18 Juni 2015

DOSA-DOSA DI MASA LALU




Sebuah Prolog

Maaf adalah kata yang tepat untuk sedikit menghapus kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau. Kesalahan mendasar bagi setiap pendaki yang enggan untuk mengerti dan memahami. Kesalahan yang jamak dilakukan tanpa berfikir dampak yang akan diakibatkan. Langkah keliru yang justru banyak ditiru, karena kala itu membuat jiwa bangga dalam sebuah pengakuan semu dalam rangka menggapai sebuah pencapaian. Rasa itu sering dominan untuk menyeret pelakunya kedalam jalur yang tidak dibenarkan. Membelenggu pelakuannya untuk selalu dalam ketidaktahuan, memang tidak tahu atau justru malah tidak ingin tahu. Kesalahan tersebut semakin bertambah kompleks ketika peraturan hanya menjadi sekedar pajangan dan memberikan sensasi tersendiri bagi para pelanggarnya. Masih pendeknya cara berfikir yang kemudian diwujudkan kedalam perbuatan-perbuatan yang sering terbiaskan oleh hingar-bingar sebuah pencapaian. Menjadikan dosa dosa itu kelak sulit untuk dimaafkan jika benar-benar ditulis  dalam lembaran catatan kehidupan. Masa “muda” yang begitu labil, masih dalam masa pencarian  jati diri  dengan langkah yang salah seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk menggapai hidup yang lebih elegant dan mampu mendewasakan mereka yang berkubang daripadanya.


Senin, 15 Juni 2015

I Believe by Irfan Makki feat. Maher Zain (Eng I indo)


When you’re searching for the light
Ketika kau mencari cahaya
And you see no hope in sight
Dan tak kau lihat ada harapan
Be sure and have no doubt
Yakinlah dan jangan ragu

He’s always close to you
Dia selalu dekat denganmu

He’s the one who knows you best
Hanya Dia yang paling mengerti dirimu
He knows what’s in your heart
Dia tahu isi hatimu
You’ll find your peace at last
Kan kau temukan kedamaian
If you just have faith in Him
Jika kau percaya pada-Nya

Rabu, 10 Juni 2015

Gunung Tempat Kembali



Sebuah judul sumbang mengenai  hobi yang kini sedang naik daun ini, mungkin tak akan membuat surut bagi mereka yang ingin segera posting di jejaring, mengganti Foto Profil ataupun upload di blog masing-masing. Judul yang seakan membuka tragedi lama bagi mereka yang benar-benar kembali,kembali menghadap kehadirat ilahi karena sebab tempat yang begitu berkesan untuk membagi cerita disetiap perjalanannya dan menjadi kebanggaan disetiap pencapaiannya. Judul ini seakan ingin menjelaskan bahwa Gunung memang sarat dengan semua itu karena sang Khaliq memang sudah melekatkan hikmah bagi setiap apa yang ia ciptakan, termasuk gunung. Menjadi pelajaran bagi mereka yang benar-benar memahami dan berfikir atas apa yang telah diciptakanNya. Tapi mungkin tidak setiap orang (pendaki) faham dengan apa yang seharusnya mereka peroleh dari gunung tersebut termasuk diri ini. Foto, Kenangan, Kesenangan mungkin hanya merupakan kulit dari buah yang seharusnya mereka nikmati dan hal lain yang lebih berharga tak kunjung mereka dapatkan. Gunung seakan hanya menjadi pelampiasan apa yang mereka ingin rasakan tanpa ingin mengetahui apa yang alam inginkan. Sebuah kondisi berat sebelah ini akan bertambah ketika ego begitu dipaksakan dan kurangnya pengetahuan untuk memahami kembali atas apa yang mereka terima. Puncaknya ketika mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan mereka enggan untuk memberikan apa yang gunung butuhkan. Akhirnya, gunung begitu terluka oleh mereka yang mengatakan diri sebagai pecinta!!! sampah dimana-mana, coretan penuh menghiasi, fasilitas alam kumuh tak terurus. Menjadi bukti mereka tak ingin pernah mengerti atas semua yang seharusnya dilakukan dan tak ingin kembali kepada fitrah diri juga alam ini. Judul ini setidaknya ingin mengajak kita untuk benar-benar kembali ke Alam. Alam tidak meminta untuk didaki, kitalah yang menginginkannya untuk berada disana dengan menjadi orang asing bagi sesuatu yang telah dahulu tinggal. Tak jarang kehadiran kita hanya menjadi kerugian bagi mereka, mengusik ketentraman alam raya dengan pemahaman dangkal akan arti sebuah petualangan. Jadikan alam sebagai tempat kembali, kembali memperoleh jati diri tanpa merusak apa yang telah sang pencipta karuniakan. Alam  ini, gunung ini, puncak ini hanya kita yang mampu mengusahakan. Salam lestari!!!

Sabtu, 06 Juni 2015

SEBUAH DONGENG IMAJINATIF



CERITA FIKTIF YANG MEYELIMUTI ORO-ORO OMBO DAN RANU KUMBOLO



”Oro-oro ombo dahulu kala merupakan petilasan dewa Hombo yang merupakan penunggu telaga besar yang begitu melimpah airnya. Dulu petilasan tersebut menyatu dengan telaga yang dihuni dewi Kumbala kekasih sang dewa. Sampai suatu saat pencipta murka karena mereka melanggar aturan yang telah dibuat, untuk tidak saling berkhalwat saat bulan haram yang telah tentukan. Sang pencipta langsung mengutus Dewa Meru (penunggu Puncak Mahemeru) untuk memberikan hukuman, memisahkan 2 makhluk yang saling mencintai ini agar mereka menyadari kesalahan yang mereka perbuat dan agar menjadi itibar bagi generasi yang akan datang. Segera dewa Meru melaksanakan tugasnya menggunakan ajian Jongring seloka untuk melontarkan bongkahan raksasa dari dasar kawah Mahameru agar mereka berdua terpisahkan. Bongkahan didaratkan tepat dipintu yang biasa mereka jadikan tempat bertemu dan membuat dua makhluk itu benar-benar berjauhan. 

Jumat, 05 Juni 2015

MAHAMERU YANG TELAH LAMA INGIN DITUJU (Catatan Perjalanan I-II)

MAHAMERU YANG TELAH LAMA INGIN DITUJU



















 Sebuah Prolog

Awal yang meyakinkan untuk memulai babak baru dalam sebuah kehidupan, menggapai puncak tertinggi di dataran ini, daratan pulau jawa puncak para dewa (katanya: dan memang hanya orang ‘dewa’sa yang mampu sampai kesana^^). Keyakinan itu sudah lama kami pupuk (terutama saya) untuk menjejakkan kaki disana, dan pada hari itu peringatan kenaikan isa sang mesaya atau tepatnya kamis, 14 mei 2015 kami memantapkan langkah awal untuk segera menaklukkanya. Mahameru, sebuah tempat yang telah lama ingin dituju akhirnya hari itu datang juga, mengukir lembaran tinta emas sebagai catatan hari tua untuk dongeng anak-cucu kita(pendaki). Membuktikan bahwa Sang Pencipta membuat alam ini benar-benar tidak sia-sia, melukisnya dengan nama Mahameru, Ranukumbolo, Oro-oro ombo dll. Bagi seorang pendaki tempat-tempat itu akan menjadi kenangan tersendiri dan akan terekam jelas di dalam memory. 

Sebuah penegasan bahwa mendaki gunung memang sebuah hobi, tapi jauh daripada pengertian itu mungkin hanya pendakilah yang akan mengerti mengapa mereka melakukannya. Tak jarang bermacam statement miring mengenai kecintaan insan pada salah satu ciptaanNya itu (Gunung) menggiring orang lain berfikir bahwa mendaki hanya untuk bersenang-senang, melampiaskan hasrat, bahkan ada yang mengatakan bahwa mendaki adalah kegiatan kurang gawean (kurang kerjaan). Memang tidak keliru, tetapi sekali lagi bahwa mungkin hanya pendakilah (ciyee) yang dapat merasakannya dan menjadikannya bukan sekedar hobi dan bersenang-senang. Dan Mahameru dengan bentang lukisan mahakarya Arrafikul A’la menjadi idaman setiap insan bagi mereka yang ingin mendekatkan dan mempererat tali hubungan dengan Rabbnya (bagi saya ini adalah salah satu alasan utamanya). Kami dengan basic kependakian yang tidak begitu mumpuni pun ingin segera membuktikan bahwa gunung tidak hanya untuk didaki-memuaskan hasrat diri tapi juga untuk ditadaburi-mendekatkan diri kepada Ilahi, mematahkan persepsi yang selama ini berkembang dikalangan awam kependakiaan dan mencoba menikmati candu yang orang lain telah terperangkap didalamnya. Maka dari itu saran saya bagi yang belum pernah merasakan sebuah pendakian tolong jangan mendaki gunung karena hal itu akan membawa kalian tersesat dijalan yang tepat, terperangkap dalam salah satu pemahaman bahwa betapa kerdil kita disekitar beraneka warna cipta sang penggenggam semesta dan itu akan sulit diungkapkan ataupun di terjemahkan dalam untaian kata.