![]() |
| Sumber : Google Diolah |
Katagori
- Catatan Perjalanan (5)
- Gambar Hikmah (5)
- Kisah Imajinatif (2)
- Memory (1)
- Paradigma (11)
- Repost (1)
- Sajak (3)
- Song of Peace (4)
Minggu, 28 Juni 2015
Sabtu, 27 Juni 2015
GADIS MENAWAN ITU BERNAMA WORO
Pada suatu ketika, di zaman
ketika Adam belum di turunkan kedunia, tinggalah dewa-dewa yang bersemayam di
setiap wilayah daratan. Mereka ditugaskan oleh sang pencipta untuk menjaga
dunia agar tidak dirusak oleh Iblis dan dedengkotnya yang telah terlebih dulu
dikeluarkan dari surga. Mereka (Iblis) sengaja merusak dunia dan segala
tatanannya untuk melampisakan hawa nafsunya sebab tidak diperkenankan lagi
masuk surga. Mereka diberi jatah menghuni neraka karena pembangkangan yang
dilakukan sewaktu ia (Iblis) masih diperkenankan tinggal disana (surga). Tak jarang
dengan segala tipu muslihat dan kekuatan-kekuatan yang sengaja diberikan oleh
sang pencipta, Mereka (Iblis) dengan leluasa membuat dunia seisinya porak poranda. Oleh sebab itu dewa-dewa yang memang sengaja ditugaskan menjaga wilayah yang telah
ditentukanNYa, harus benar-benar mengemban amanat yang disematkanNya untuk
mengantisipasi ganguan dan ancaman Iblis tersebut. Dan kali ini bumi sebagai tempat
terakhir yang dapat dihuni, menjadi prioritas penjagaan oleh para dewa karena,
kelak kehidupan makhluk bernyawa akan berpusat disana.
Kamis, 25 Juni 2015
Sebuah Tanya
Akhirnya
semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku”
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku”
Kabut tipis
pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau
masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap
jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam
cinta?
Bait terakhir puisi di atas
setidaknya ingin saya dijadikan landasan mengenai sebuah pemahaman tentang
berbedanya kami (pria) dengan mereka (wanita) layaknya sepatu baik sifat dan
tingkah laku tapi akan sama ketika mereka telah saling mencinta. Tapi pada kesempatan
kali ini bukan ingin mengurai apa yang disebut dengan cinta, tapi lebih pada
object yang membuat kita (kaum Adam) untuk jatuh cinta atau mereka yang sering
juga disebut dengan sang perhiasan dunia. Sebegitu indahnya kah ia sampai di
persamakan dengan emas, berlian atau bahkan batu akik? <Sebuah Tanya>Kembali ke Sajak puisi yang tentu kita ketahui dan
pasti akan mengingatkan kita pada sosok lelaki yang menjadi idola kaum idealis
dan tentunya pendaki (Gie). Judul tulisan ini memang sama dengan pendahulunya,
tapi bukan ingin mengupas dunia lelaki yang selama ini telah diarungi Soe Hok GIe, tetapi lebih jauh dalam
lagi yaitu mengenai sesuatu yang cipta dari tulang rusuknya (laki-laki).
Begitulah yang disebut dalam cerita dan dari dasar yang dipercaya bahwa dahulu
kala Ia (wanita sebut Hawa) dicipta dari susunan tulang iga paling bengkok pria
(sebut Adam). Bagaimana ia bisa dicipta dari sesuatu yang mustahil? Tuhan
Semesta Alam sungguh Maha Kuasa <Sebuah jawaban pasti>. <Sebuah Tanya> pun muncul: La terus apa gunannya puisi diatas jika
akhirnya hanya ingin mengulas tentang mereka (wanita)? dari puisi tersebut kita
jadi tahu bahwa Gie sang idealispun juga terpaut hatinya pada makhluk yang
dinamakan wanita. Wanita yang entah Ibu atau Kekasihnya itu pun menjadi bagian
dalam karyanya yang banyak dihiasi dengan ruh nasionalisme. Gie! Engkau pun
telah masuk dalam ceruk makhluk yang dinamakan wanita. Sudahlah membahas wanita
dengan daya pikatnya berupa cinta yang lama-lama akan membuat jiwa terperangkap
di dalamnya. (titik)
Selasa, 23 Juni 2015
MAKE ME STRONG (SAMI YUSUF)
Make me Strong - SamiYusuf
I know I’m waiting
Aku tahu aku sedang menunggu
Waiting for something
Menunggu sesuatu
Something to happen to me
Sesuatu terjadi padaku
But this waiting comes with…
Tapi masa-masa penantian ini datang dengan…
Trials and challenges
Cobaan dan tantangan
Nothing in life is free
Tak ada yang bebas dalam hidup
I wish that somehow
Aku berharap entah bagaimana caranya
You’d tell me out aloud
Engkau akan memberitahuku dengan lantang
That on that day I’ll be ok
Bahwa pada hari itu aku akan baik-baik saja
But we’ll never know cause…
Tapi kami tidak pernah tahu karena…
That’s not the way it works
Bukan dengan cara itu semuanya bekerja
Help me find my way
Tolong aku menemukan jalanku
Minggu, 21 Juni 2015
MERAPI TAK PERNAH BERHENTI MENANTI
Sekilas Info
Sabtu, 16 Mei 2015 menjadi siang
kelabu bagi reputasi merapi yang selama ini jarang terjadi hal yang tidak
diharapkan menjadi sebab Insan berpulang ke Hadirat Ilahi. Setelah erupsi tahun 2010 dahulu, Merapi
cenderung lebih santun dan ramah dalam menyambut kedatangan para penikmat
pesona keindahanya. Dan Siang itu benar-benar menjadi siang yang begitu pilu di
puncak tertinggimu. Hari naasnya mahasiswa Jogja yang kedapatan melakukan
pendakian ke puncak Garuda, puncak tertinggi yang dahulu megah berdiri dan sekarang
tinggal menyisakan beberapa bongkahan batu runcing (tusuk gigi) yang amat
terlarang untuk dipanjat atau dipijaki. Puncak itu menjadi sebab Almarhum
menghembuskan nafas terakhirnya karena terpeleset dan akhirnya jatuh ke dasar
kawah. Dari kejadian itu masih menjadi tanda Tanya besar bagi kita para
pendaki, apa yang melatarbelakangi almarhum bisa senekat itu untuk
melakukannya?? Nasi sudah menjadi bubur dan pasti ada hikmah dibalik kepulangan
Ery ke sisiNYa, paling tidak bisa menjadi peringatan bagi pendaki kedepannya
untuk tidak melakukan apa yang Almarhum lakukan, biarlah ia tenang di Alam
sana, tanpa melihat ada lagi yang mengikuti jejaknya. Dan Tepat 1 bulan pasca
terjatuhnya kawan pendaki (Ery Yunanto) yang mengakibatkan ia tewas disana dan
1 bulan pula Merapi sendiri tanpa ada celoteh para pendaki. Sunyi tenang tak
ada aktifitas yang berarti. Kini penantian kami akan terjawab wahai pasak negeri!
We’re Go!!
Kamis, 18 Juni 2015
DOSA-DOSA DI MASA LALU
Sebuah Prolog
Maaf adalah kata yang tepat untuk sedikit menghapus kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau. Kesalahan mendasar bagi setiap pendaki yang enggan untuk mengerti dan memahami. Kesalahan yang jamak dilakukan tanpa berfikir dampak yang akan diakibatkan. Langkah keliru yang justru banyak ditiru, karena kala itu membuat jiwa bangga dalam sebuah pengakuan semu dalam rangka menggapai sebuah pencapaian. Rasa itu sering dominan untuk menyeret pelakunya kedalam jalur yang tidak dibenarkan. Membelenggu pelakuannya untuk selalu dalam ketidaktahuan, memang tidak tahu atau justru malah tidak ingin tahu. Kesalahan tersebut semakin bertambah kompleks ketika peraturan hanya menjadi sekedar pajangan dan memberikan sensasi tersendiri bagi para pelanggarnya. Masih pendeknya cara berfikir yang kemudian diwujudkan kedalam perbuatan-perbuatan yang sering terbiaskan oleh hingar-bingar sebuah pencapaian. Menjadikan dosa dosa itu kelak sulit untuk dimaafkan jika benar-benar ditulis dalam lembaran catatan kehidupan. Masa “muda” yang begitu labil, masih dalam masa pencarian jati diri dengan langkah yang salah seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk menggapai hidup yang lebih elegant dan mampu mendewasakan mereka yang berkubang daripadanya.
Maaf adalah kata yang tepat untuk sedikit menghapus kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau. Kesalahan mendasar bagi setiap pendaki yang enggan untuk mengerti dan memahami. Kesalahan yang jamak dilakukan tanpa berfikir dampak yang akan diakibatkan. Langkah keliru yang justru banyak ditiru, karena kala itu membuat jiwa bangga dalam sebuah pengakuan semu dalam rangka menggapai sebuah pencapaian. Rasa itu sering dominan untuk menyeret pelakunya kedalam jalur yang tidak dibenarkan. Membelenggu pelakuannya untuk selalu dalam ketidaktahuan, memang tidak tahu atau justru malah tidak ingin tahu. Kesalahan tersebut semakin bertambah kompleks ketika peraturan hanya menjadi sekedar pajangan dan memberikan sensasi tersendiri bagi para pelanggarnya. Masih pendeknya cara berfikir yang kemudian diwujudkan kedalam perbuatan-perbuatan yang sering terbiaskan oleh hingar-bingar sebuah pencapaian. Menjadikan dosa dosa itu kelak sulit untuk dimaafkan jika benar-benar ditulis dalam lembaran catatan kehidupan. Masa “muda” yang begitu labil, masih dalam masa pencarian jati diri dengan langkah yang salah seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk menggapai hidup yang lebih elegant dan mampu mendewasakan mereka yang berkubang daripadanya.
Senin, 15 Juni 2015
I Believe by Irfan Makki feat. Maher Zain (Eng I indo)
When you’re searching for the light
Ketika kau mencari cahaya
And you see no hope in sight
Dan tak kau lihat ada harapan
Be sure and have no doubt
Yakinlah dan jangan ragu
He’s always close to you
Dia selalu dekat denganmu
He’s the one who knows you best
Hanya Dia yang paling mengerti dirimu
He knows what’s in your heart
Dia tahu isi hatimu
You’ll find your peace at last
Kan kau temukan kedamaian
If you just have faith in Him
Jika kau percaya pada-Nya
Ketika kau mencari cahaya
And you see no hope in sight
Dan tak kau lihat ada harapan
Be sure and have no doubt
Yakinlah dan jangan ragu
He’s always close to you
Dia selalu dekat denganmu
He’s the one who knows you best
Hanya Dia yang paling mengerti dirimu
He knows what’s in your heart
Dia tahu isi hatimu
You’ll find your peace at last
Kan kau temukan kedamaian
If you just have faith in Him
Jika kau percaya pada-Nya
Rabu, 10 Juni 2015
Gunung Tempat Kembali
Sebuah judul sumbang mengenai hobi yang
kini sedang naik daun ini, mungkin tak akan membuat surut bagi mereka yang
ingin segera posting di jejaring, mengganti Foto Profil ataupun upload di blog
masing-masing. Judul yang seakan membuka tragedi lama bagi mereka yang
benar-benar kembali,kembali menghadap kehadirat ilahi karena sebab tempat yang
begitu berkesan untuk membagi cerita disetiap perjalanannya dan menjadi
kebanggaan disetiap pencapaiannya. Judul ini seakan ingin menjelaskan bahwa
Gunung memang sarat dengan semua itu karena sang Khaliq memang sudah melekatkan
hikmah bagi setiap apa yang ia ciptakan, termasuk gunung. Menjadi pelajaran
bagi mereka yang benar-benar memahami dan berfikir atas apa yang telah
diciptakanNya. Tapi mungkin tidak setiap orang (pendaki) faham dengan apa yang
seharusnya mereka peroleh dari gunung tersebut termasuk diri ini. Foto, Kenangan,
Kesenangan mungkin hanya merupakan kulit dari buah yang seharusnya mereka
nikmati dan hal lain yang lebih berharga tak kunjung mereka dapatkan. Gunung
seakan hanya menjadi pelampiasan apa yang mereka ingin rasakan tanpa ingin
mengetahui apa yang alam inginkan. Sebuah kondisi berat sebelah ini akan
bertambah ketika ego begitu dipaksakan dan kurangnya pengetahuan untuk memahami
kembali atas apa yang mereka terima. Puncaknya ketika mereka telah memperoleh
apa yang mereka inginkan mereka enggan untuk memberikan apa yang gunung
butuhkan. Akhirnya, gunung begitu terluka oleh mereka yang mengatakan diri
sebagai pecinta!!! sampah dimana-mana, coretan penuh menghiasi, fasilitas alam
kumuh tak terurus. Menjadi bukti mereka tak ingin pernah mengerti atas semua
yang seharusnya dilakukan dan tak ingin kembali kepada fitrah diri juga alam
ini. Judul ini setidaknya ingin mengajak kita untuk benar-benar kembali ke Alam.
Alam tidak meminta untuk didaki, kitalah yang menginginkannya untuk berada
disana dengan menjadi orang asing bagi sesuatu yang telah dahulu tinggal. Tak jarang
kehadiran kita hanya menjadi kerugian bagi mereka, mengusik ketentraman alam
raya dengan pemahaman dangkal akan arti sebuah petualangan. Jadikan alam
sebagai tempat kembali, kembali memperoleh jati diri tanpa merusak apa yang
telah sang pencipta karuniakan. Alam
ini, gunung ini, puncak ini hanya kita yang mampu mengusahakan. Salam
lestari!!!
Sabtu, 06 Juni 2015
SEBUAH DONGENG IMAJINATIF
CERITA FIKTIF YANG MEYELIMUTI ORO-ORO OMBO DAN RANU KUMBOLO
”Oro-oro ombo dahulu kala merupakan
petilasan dewa Hombo yang merupakan penunggu telaga besar yang begitu melimpah
airnya. Dulu petilasan tersebut menyatu dengan telaga yang dihuni dewi Kumbala kekasih
sang dewa. Sampai suatu saat pencipta murka karena mereka melanggar aturan yang
telah dibuat, untuk tidak saling berkhalwat saat bulan haram yang telah tentukan.
Sang pencipta langsung mengutus Dewa Meru (penunggu Puncak Mahemeru) untuk memberikan
hukuman, memisahkan 2 makhluk yang saling mencintai ini agar mereka menyadari
kesalahan yang mereka perbuat dan agar menjadi itibar bagi generasi yang akan
datang. Segera dewa Meru melaksanakan tugasnya menggunakan ajian Jongring
seloka untuk melontarkan bongkahan raksasa dari dasar kawah Mahameru agar
mereka berdua terpisahkan. Bongkahan didaratkan tepat dipintu yang biasa mereka
jadikan tempat bertemu dan membuat dua makhluk itu benar-benar berjauhan.
Jumat, 05 Juni 2015
MAHAMERU YANG TELAH LAMA INGIN DITUJU (Catatan Perjalanan I-II)
MAHAMERU YANG TELAH LAMA INGIN DITUJU
Sebuah Prolog
Awal yang meyakinkan untuk memulai
babak baru dalam sebuah kehidupan, menggapai puncak tertinggi di dataran ini,
daratan pulau jawa puncak para dewa (katanya: dan memang hanya orang ‘dewa’sa
yang mampu sampai kesana^^). Keyakinan itu sudah lama kami pupuk (terutama
saya) untuk menjejakkan kaki disana, dan pada hari itu peringatan kenaikan isa
sang mesaya atau tepatnya kamis, 14 mei 2015 kami memantapkan langkah awal untuk
segera menaklukkanya. Mahameru, sebuah tempat yang telah lama ingin dituju
akhirnya hari itu datang juga, mengukir lembaran tinta emas sebagai catatan
hari tua untuk dongeng anak-cucu kita(pendaki). Membuktikan bahwa Sang Pencipta
membuat alam ini benar-benar tidak sia-sia, melukisnya dengan nama Mahameru,
Ranukumbolo, Oro-oro ombo dll. Bagi seorang pendaki tempat-tempat itu akan
menjadi kenangan tersendiri dan akan terekam jelas di dalam memory.
Sebuah penegasan bahwa mendaki
gunung memang sebuah hobi, tapi jauh daripada pengertian itu mungkin hanya
pendakilah yang akan mengerti mengapa mereka melakukannya. Tak jarang bermacam
statement miring mengenai kecintaan insan pada salah satu ciptaanNya itu
(Gunung) menggiring orang lain berfikir bahwa mendaki hanya untuk bersenang-senang,
melampiaskan hasrat, bahkan ada yang mengatakan bahwa mendaki adalah kegiatan
kurang gawean (kurang kerjaan). Memang tidak keliru, tetapi sekali lagi bahwa
mungkin hanya pendakilah (ciyee) yang dapat merasakannya dan menjadikannya
bukan sekedar hobi dan bersenang-senang. Dan Mahameru dengan bentang lukisan
mahakarya Arrafikul A’la menjadi idaman setiap insan bagi mereka yang ingin
mendekatkan dan mempererat tali hubungan dengan Rabbnya (bagi saya ini adalah salah
satu alasan utamanya). Kami dengan basic kependakian yang tidak begitu mumpuni pun
ingin segera membuktikan bahwa gunung tidak hanya untuk didaki-memuaskan hasrat
diri tapi juga untuk ditadaburi-mendekatkan diri kepada Ilahi, mematahkan
persepsi yang selama ini berkembang dikalangan awam kependakiaan dan mencoba
menikmati candu yang orang lain telah terperangkap didalamnya. Maka dari itu saran
saya bagi yang belum pernah merasakan sebuah pendakian tolong jangan mendaki
gunung karena hal itu akan membawa kalian tersesat dijalan yang tepat,
terperangkap dalam salah satu pemahaman bahwa betapa kerdil kita disekitar
beraneka warna cipta sang penggenggam semesta dan itu akan sulit diungkapkan
ataupun di terjemahkan dalam untaian kata.
Langganan:
Postingan (Atom)









