![]() |
| Sumber : Teplok.com |
September!!! Langkah ini bermula ketika kami mulai beranjak remaja, dengan syal tanpa cap sudah melingkar didada. Menjadi salah satu anggota dari kegiatan sekolah mengenai pencinta alam adalah satu hal yang tak pernah terbersit didalam angan dan sudah hampir satu dawarsa kenangan-kenangan itu ku coba kais dari tumpukan rekaman ingatan. Bagian demi bagian itu samar terangkai, mengingatkan sepenggal cerita yang dahulu pernah dicapai. Syal keanggotan yang harus mendapatkan cap dari birokrasi organisai, mengharuskan kami melakukan pendakian ke tempat yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya, Puncak Gunung Merbabu. Syal sebagai lencana anggota yang awalanya sudah kami dapatkan dari rangkaian kegitan pendakian di Gunung Ungaran (kebun teh tepatnya) itu, menurut peraturan organisasi harus segera di upgrade dengan menambahkan cap keanggotaan (cap topi khas lapangan). Sekali lagi, kami harus merampungkan hajat paket pendakian satu (PP 1) ke gunung yang "Mbah Syarif" (ndak yo??) pernah tinggal disana. Merbabu???
Masih terbayang perasaan bagaimana beratnya medan yang kan dilalui, mengingat kami saat itu hanya dibekali pengalaman menapaki bukit2 mini juga medan2 yang masih sangat mudah untuk di jamahi (g. Ungaran). Berangkat dari bekal minim itu membuat kami lebih termotifasi untuk meningkatkan kemampuan fisik dengan rutin mengikuti jadwal latihan dari tentor para senior. Menu-menu latihan fisik yang masih serupa ditambah dengan jumlah hutang paketan yang kian tak terelakkan membuat hari-hari sebelum waktu pendakian itu tiba, harus kami lalui dengan senang dan tulus hati (walaupun tambah berat saja materinya). Tapi sekali lagi, bayangan asingnya medan Gunung Merbabu yang kan ditempuh saat setelah itu benar-benar membuat benak ini kembali bertanya-tanya, bagaimana kami melewatinya dan apakah raga ini kuat sampai dipuncaknya. Sembilan rekanan akan mencoba menjejakkan kakinya di Puncak pertamanya, tempat yang benar-benar akan mengawali kisah romantika pencinta dengan kekasihnya atau lebih tepatnya hamba dengan sang Penciptanya.
Sebuah desa di Kaki Merbabu itu menjadi saksi kedatangan kami dan nampak terbuka menyambut kami bersembilan dengan beberapa senior juga ikut serta mendampingi untuk menjamah alam yang membentang diatas sana. Desa Cuntel adalah desa terakhir yang terletak dipinggiran hutan merbabu dan menjadi tempat Base camp manggala berdiri di jalur pendakian via cuntel ini. Menjadi saksi bisu keluguan kami untuk menapaki medan gunung yang sejati (asli).
Dari desa ini/rumah tokoh desa tepatnya perjalanan malam ditentukan senior untuk kami jalani dan membuat hati ini semakin khawatir akan kapabilitasnya menaklukkan setiap jengkal bentang tanah ditaram malam penuh bintang. Perjalanan malam habis Isya' itu akhirnya kami mulai. Langkah demi langkah kami jejaki dan benar membuat tubuh ini merasakan beratnya medan gunung pertamanya (pernah diksar di gunung ungaran tapi hanya sampai kebun teh). Nafas tersengal, kepala pening dan ada semacam gigitan dingin disekujur tubuh yang oleh teman seperjuangan ia sebut dengan gajala asam laktat (h.h. i don't know).
Pos Bayangan I terlewati, Pos Bayangan II tak begitu jauh sampai dan akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di pos I (Watu Putut). Lokasi itu mereka (senior) ambil dengan mempertimbangkan cuaca yang cukup berangin saat itu. Dengan nada khas senioritas (membentak agar terlihat tegas) akhirnya kami merangkai tenda yang telah dibawa untuk istirahat sejenak menunggu angin lumayan reda.
Tidak kurang beberapa jam istirahat, kenyamanan kami harus terganggu dengan ajakan(perintah) senior untuk melanjutkan perjalanan. Kaki ini terpaksa harus berjalan lagi digelap malam dengan hembusan angin yang masih lumayan terasa. Medan yang mulai bertambah derajat kemiringannya itu membuat kami terpaksa harus ekstra memacu tenaga agar tiba di camp selanjutnya tak sampai terlalu larut malam.
Angin nampak belum juga bersahabat yang hambusan kencangnya mulai kembali menghempas langkah perjalanan. Pos 2 menjadi akhir perjuangan kami malam itu dan menjadi pemberhentian sementara untuk melepaskan onak fikiran yang menggelayuti karena kesan pertama menapaki sebenar-benarnya medan gunung ini. Tenda telah berjajar rapi di daerah punggungan pos II itu yang medannya mengharuskan kami untuk merapatkannya (berhubung tenda cukup banyak dan tempat camp yang terbatas). Sebuah tidur tidak syar'i harus kami jalani dengan bercampurnya antara wanita dan pria didalam satu tenda.
Yang masih lekat ku ingat dari kisah cerita ini adalah suara tak asing yang mewarnai kesunyian dan kelelahan kami malam itu. Entah dari mana hulu suaranya tapi akhirnya salah satu dari dua wanita yang mengisi tenda itu akhirnya menjadi kambing hitamnya. Walaupun tidak ada bau khas yang menyertainya tetapi tetap menjadi apalah-apalah karena ketidak elokannya namun setidaknya jadi pencair ketegangan malam itu untuk membekali kami beristirahat dengan tertawa kecil masih saja terdengar masing-masing dari kami.h.h
Sebelum mengais memory cerita dari perjalanan ini kembali, sedikit ingin berbagi bagaimana kesan mendaki ke gunung yang melibatkan organisasi tercinta. Rasa cinta yang memang sebelumnya sudah singgah dikegiatan seleksi pertama, menjadikan hari-hari kedepan sampai kegiatan pendakian selanjutnya seakan ingin segera tertunaikan. Rencana yang sudah disusun untuk menaklukkan beberapa gunung sudah ada dibayangan. Sehingga sampai benak ini awalnya berfikir mengapa kami harus bersusah payah masuk di organisasi pencinta alam ini dan mengikuti setiap kegiatannya. Capek, jenuh, beban mental dll terus mewarnai setiap hari-hari di dalam organisasi ini bahkan saat Diksar di Gunung Ungaran, kami (2 orang) sempat mencoba untuk ikhlas mengundurkan diri dari keanggotaan (termasuk saya). Peserta yang telah banyak gugur satu persatu menyisakan 9 insan yang masih setia dengan cinta sejatinya menambah bisikan itu selalu menggelayuti kalbu. Tidak masuk didalam tubuh organisasi ini pun kami masih bisa menyalurkan hobi mendaki kami, ujar kami waktu itu. Paradigma prematur itupun akhirnya luntur seiring berjalannya waktu, banyak ilmu dan kenangan akhirnya menjadi bunga yang bermekaran dimasa lalunya. tak hanya basic ilmu pendakian tapi banyak ilmu tentang kegunungan yang diajarkan baik dari senior secara turun-temurun, Tentor ahli (komandan), maupun dari alumni yang sengaja menyempatkan diri. Navigasi, Teknik tali temali, Montenering, Survival, dll. Alat gunung dari carier sampai carabiner, dari mantel (raincoat) sampai carmentel dsb menambah khasanah pengetahuan tentang ilmu mountainering. Terimakasih sudah sepatutnya saya haturkan kepadanya, organisasi yang telah banyak memberi pembekalan menjadi pendaki yang sejati.
To Be Continued...
Dari desa ini/rumah tokoh desa tepatnya perjalanan malam ditentukan senior untuk kami jalani dan membuat hati ini semakin khawatir akan kapabilitasnya menaklukkan setiap jengkal bentang tanah ditaram malam penuh bintang. Perjalanan malam habis Isya' itu akhirnya kami mulai. Langkah demi langkah kami jejaki dan benar membuat tubuh ini merasakan beratnya medan gunung pertamanya (pernah diksar di gunung ungaran tapi hanya sampai kebun teh). Nafas tersengal, kepala pening dan ada semacam gigitan dingin disekujur tubuh yang oleh teman seperjuangan ia sebut dengan gajala asam laktat (h.h. i don't know).
Pos Bayangan I terlewati, Pos Bayangan II tak begitu jauh sampai dan akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di pos I (Watu Putut). Lokasi itu mereka (senior) ambil dengan mempertimbangkan cuaca yang cukup berangin saat itu. Dengan nada khas senioritas (membentak agar terlihat tegas) akhirnya kami merangkai tenda yang telah dibawa untuk istirahat sejenak menunggu angin lumayan reda.
Tidak kurang beberapa jam istirahat, kenyamanan kami harus terganggu dengan ajakan(perintah) senior untuk melanjutkan perjalanan. Kaki ini terpaksa harus berjalan lagi digelap malam dengan hembusan angin yang masih lumayan terasa. Medan yang mulai bertambah derajat kemiringannya itu membuat kami terpaksa harus ekstra memacu tenaga agar tiba di camp selanjutnya tak sampai terlalu larut malam.
Angin nampak belum juga bersahabat yang hambusan kencangnya mulai kembali menghempas langkah perjalanan. Pos 2 menjadi akhir perjuangan kami malam itu dan menjadi pemberhentian sementara untuk melepaskan onak fikiran yang menggelayuti karena kesan pertama menapaki sebenar-benarnya medan gunung ini. Tenda telah berjajar rapi di daerah punggungan pos II itu yang medannya mengharuskan kami untuk merapatkannya (berhubung tenda cukup banyak dan tempat camp yang terbatas). Sebuah tidur tidak syar'i harus kami jalani dengan bercampurnya antara wanita dan pria didalam satu tenda.
Yang masih lekat ku ingat dari kisah cerita ini adalah suara tak asing yang mewarnai kesunyian dan kelelahan kami malam itu. Entah dari mana hulu suaranya tapi akhirnya salah satu dari dua wanita yang mengisi tenda itu akhirnya menjadi kambing hitamnya. Walaupun tidak ada bau khas yang menyertainya tetapi tetap menjadi apalah-apalah karena ketidak elokannya namun setidaknya jadi pencair ketegangan malam itu untuk membekali kami beristirahat dengan tertawa kecil masih saja terdengar masing-masing dari kami.h.h
Sebelum mengais memory cerita dari perjalanan ini kembali, sedikit ingin berbagi bagaimana kesan mendaki ke gunung yang melibatkan organisasi tercinta. Rasa cinta yang memang sebelumnya sudah singgah dikegiatan seleksi pertama, menjadikan hari-hari kedepan sampai kegiatan pendakian selanjutnya seakan ingin segera tertunaikan. Rencana yang sudah disusun untuk menaklukkan beberapa gunung sudah ada dibayangan. Sehingga sampai benak ini awalnya berfikir mengapa kami harus bersusah payah masuk di organisasi pencinta alam ini dan mengikuti setiap kegiatannya. Capek, jenuh, beban mental dll terus mewarnai setiap hari-hari di dalam organisasi ini bahkan saat Diksar di Gunung Ungaran, kami (2 orang) sempat mencoba untuk ikhlas mengundurkan diri dari keanggotaan (termasuk saya). Peserta yang telah banyak gugur satu persatu menyisakan 9 insan yang masih setia dengan cinta sejatinya menambah bisikan itu selalu menggelayuti kalbu. Tidak masuk didalam tubuh organisasi ini pun kami masih bisa menyalurkan hobi mendaki kami, ujar kami waktu itu. Paradigma prematur itupun akhirnya luntur seiring berjalannya waktu, banyak ilmu dan kenangan akhirnya menjadi bunga yang bermekaran dimasa lalunya. tak hanya basic ilmu pendakian tapi banyak ilmu tentang kegunungan yang diajarkan baik dari senior secara turun-temurun, Tentor ahli (komandan), maupun dari alumni yang sengaja menyempatkan diri. Navigasi, Teknik tali temali, Montenering, Survival, dll. Alat gunung dari carier sampai carabiner, dari mantel (raincoat) sampai carmentel dsb menambah khasanah pengetahuan tentang ilmu mountainering. Terimakasih sudah sepatutnya saya haturkan kepadanya, organisasi yang telah banyak memberi pembekalan menjadi pendaki yang sejati.
![]() |
| "Biarlah Terpatri didalam sanubari, terimakasih kami pada sosok yang mengajari kami tentang ilmu lestari, Jaga Bhumi" |
To Be Continued...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar