Rongga nafas seakan tertekan
Bibir ini seakan kelu untuk mengungkapkan
dan Fikiran ini seakan tertimpa satu beban
Hingga sesuatu itu pun datang menghampiri
Lonceng-lonceng hasutan yang memekakan kesadaran diri
Mencerabut akar logika
Perasaan itupun tiba-tiba muncul
menggelayuti hati dan nurani
perlahan menghempaskannya kedasar pemahaman dangkal
yang kadang tak bisa dicerna hanya sekerdipan mata
Ketika satu persatu memori mulai terkuak
jejak langkah yang dahulu & kini engkau pijak
membuat batin ini ingin jauh lebih tahu
apa gerangan yang terjadi dimasa itu
Tapi.., Sebuah kesalahan untuk menanyakannya
menanyakan hal ikhwal kehidupanmu
Hati ini pun akhirnya berujar
memang diri ini siapanya ia??
Itulah satu perkara yang ingin saya tanyakan
Sesuatu yang menerpa dinding ketabahan
bukan tanya pada dirimu atau setiap khalayak
tanya yang hanya dapat diurai oleh batin dan sang pengutus Anbiyak
Tak usah risau atas apa yang kurasa
tetap jalani takdirmu sebagaimana ketentuanNya
Biarlah gejolak ini tetap tersimpan
menjadi tanya yang tiada ujung pangkalnya
Cemburu,jealous apalah itu
tanpa iman hanya akan berakhir kelabu
dengan iman akan menjadi pemupus dayuts2 baru
yang kelak akan menjadi bekal untuk membimbimbingmu, menjadi pelindungmu[?]
![]() |
| Sumber : Edelweiss |
...::Sebuah puisi fiktif yang sulit untuk dipertanggungjawabkan::...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar