Senin, 17 Agustus 2015

Dear My Hero (Hilangnya Makna Perjuanganmu)


Panglima besar Sudirman
Ketika kau angkat senjata
Semua pemuda siaga
Ikut bersamamu menyandang senapan
Mengawal revolusi 17 Agustus 1945

          Jenderal yang perwira
          Ketika engkau bergerilya
          Segenap putra-putri Indonesia terpanggil
          Mengobarkan api perjuangan
          Merebut kemerdekaan

Sudirman kaulah pahlawan yang agung
Pejuang semesta Nusantara
Mengatur siasat ke segala penjuru
Demi kebebasan tanah tercinta


           Panglima Sudirman
           Seluruh rakyat Indonesia bernaung
           Di bawah bayanganmu
           Setia sepenuh jiwa
           Meneruskan tekad juangmu
           Sampai akhir dunia
  
Puisi Panglima Besar Jendral Sudirman Karya : Karya. Arif Kuntari

Masih Lekat terngian di dalam ingatan, baris demi baris puisi yang di ajarkan oleh pak guru sebagai materi lomba puisi antar Sekolah dasar se Kecamatan. Cukup mudah di ingat tapi hanya bait pertama yang masih benar-benar terpatri di dalam sanubari. Karena dahulu (SD), pahlawan dan segala bentuk perjuangannya hanya akan muncul dipermukaan ketika tanggal 17 Agustus itu tiba. Tak ayal di hari kemerdekaan itu menjadi momentum kami untuk mengenal dan melekatkan perjuangan juga pengorbanan jasa pahlawan ke dalam benak ingatan dan bait pertama itu menjadi saksi bisu dan media pengingatnya. (nada puisi itupun masih hafal terlantun)

17 Agustus adalah hari bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Hari dimana negeri ini benar-benar diakui kedaulatannya sebagai negara yang sejati, tak ada embel-embel kompeni dan segala bentuk penjajahan di atas tanah negeri. Negera ini berdiakari dan akan mampu mengepakkan sayapnya sendiri menuju angkasa persada nusa. begitulah cita-cita yang digaungkan oleh para pahlawan kita, agar tanah air ini dapat memberi ketenteraman dan kesejahteraan seluruh rakyat kedepannya.

Tercatat beribu pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini,dari sabang sampai merauke dari Tarakan sampai pulau rote dengan semangat juangnya mengorbankan jiwa dan raga, peluh dan jenuh, waktu dan kesempatan hanya untuk melihat anak-cucu-keturunannya (bangsa ini) tersenyum di masa depan. Imam Bonjol, Patimura, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, dan tentunya Panglima Besar jendral Sudirman (dll) adalah sekelumit pahlawan lintas generasi yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Dengan tekad dan semangat mereka melangkah ke medan jihad, melawan segala bentuk angkara dan penjajahan. Meninggalkan segala kepentingan keduniannya guna membuka gerbang-gerbang kemenangan yang telah lama menjadi cita-cita seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Merdeka!!!!


Hakikat perjuanganmu itu pun luntur. Perjuangan yang dahulu tak akan diperoleh hanya dengan sendau gurau dan tawa kelakar,tapi dengan Ikhtiar dan Tawakal kepada sang Pemilik Kuasa di Arsy sana. Kini, Mereka memaknai perjuanganmu hanya sebatas panjat pinang dan tarik tambang, memasukkan jarum dan balap karung, lomba bakiak da nmakan krupuk dll. Seakan perkara-perkara tersebut menjadi Bid'ah (perkara-perkara yang diada-adakan hingga menghilangken esensi/tujuan) dari amalan yang selama ini engkau telah korbankan. Menjadi jamak di masyarakat dan menjamur untuk menutupi segala tujuan mulia yang engkau pikul dahulu. Tangis peluhmu seakan sirna ditelan bumi yang mulai tua ini, meninggalkan insan-insan yang hanya tahu kulitnya saja,bahkan isinya mereka injak-injak dan kini telah bercampur dengan ludah. Semoga ini hanya menjadi prasangka pribadi semata, bukan menjadi kaca benggala atau ramalan kacau di masa depan yang benar-benar menyingkirkan tujuan muliamu, semangat juangmu dan tulus pengorbananmu.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para Pahlawannya", Begitulah kata mulia yang dihaturkan sang proklamator kita (Soekarno) agar kita benar-benar mencontoh apa yang mereka pahlawan lakukan. Karena menghargai itu juga berarti melaksanakan apa yang di contohkan/ ajarkan sehingga pembelajaran ikhlas, tekad, pengorbanan dll yang mereka contohkan itu akan menjadi kran pahala Mereka (pahlawan) di alam baka sana dan do'a yang terucapkan menjadi salah satu kewajiban/ bahkan kebutuhan kita sebagai generasi penerus bangsa. Sehingga do'a-do'a itu akan tersemai indah di masa penantian hari berbangkitnya, menjadi permadani indah untuk melelapkan mereka di pembaringnnya. 


Akhirnya..Maaf, Maaf dan Maaf adalah kata yang kini sepatutnya kami bisa haturkan kepadamu wahai para pendahulu. Perjuanganmu, tekad-semangatmu, tulus-ikhlasmu kini belum terbayarkan lunas dari kami yang merindukan orang-orang seperti kalian. Kami yakin perjuanganmu tidak hanya untuk duniamu semata tapi untuk kehidupan akhiratmu juga karena kami yakin perjuanganmu engkau landaskan kepada cinta kepada Rabbmu untuk mendapatkan ridha tuhanmu. Karena medan jihad itu tak akan mudah terbayar dengan raga semata, maka engkau korbankan pula jiwamu untuk menebus bangsa ini hingga Rabb semesta membayarnya dengan sebuah kemerdekaan. Terimakasihku ku ucapkan semoga segala amal perbuatanmu mendapat ridha dari Allah SWT dan menjadi wasilah untuk memperoleh tempat terbaik disisi Tuhanmu, Tuhanku dan Tuhan Semesta Raya.

Dear My Hero

Tidak ada komentar:

Posting Komentar