Sebuah Prolog
Maaf adalah kata yang tepat untuk sedikit menghapus kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau. Kesalahan mendasar bagi setiap pendaki yang enggan untuk mengerti dan memahami. Kesalahan yang jamak dilakukan tanpa berfikir dampak yang akan diakibatkan. Langkah keliru yang justru banyak ditiru, karena kala itu membuat jiwa bangga dalam sebuah pengakuan semu dalam rangka menggapai sebuah pencapaian. Rasa itu sering dominan untuk menyeret pelakunya kedalam jalur yang tidak dibenarkan. Membelenggu pelakuannya untuk selalu dalam ketidaktahuan, memang tidak tahu atau justru malah tidak ingin tahu. Kesalahan tersebut semakin bertambah kompleks ketika peraturan hanya menjadi sekedar pajangan dan memberikan sensasi tersendiri bagi para pelanggarnya. Masih pendeknya cara berfikir yang kemudian diwujudkan kedalam perbuatan-perbuatan yang sering terbiaskan oleh hingar-bingar sebuah pencapaian. Menjadikan dosa dosa itu kelak sulit untuk dimaafkan jika benar-benar ditulis dalam lembaran catatan kehidupan. Masa “muda” yang begitu labil, masih dalam masa pencarian jati diri dengan langkah yang salah seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk menggapai hidup yang lebih elegant dan mampu mendewasakan mereka yang berkubang daripadanya.
Maaf adalah kata yang tepat untuk sedikit menghapus kesalahan yang telah dibuat pada masa lampau. Kesalahan mendasar bagi setiap pendaki yang enggan untuk mengerti dan memahami. Kesalahan yang jamak dilakukan tanpa berfikir dampak yang akan diakibatkan. Langkah keliru yang justru banyak ditiru, karena kala itu membuat jiwa bangga dalam sebuah pengakuan semu dalam rangka menggapai sebuah pencapaian. Rasa itu sering dominan untuk menyeret pelakunya kedalam jalur yang tidak dibenarkan. Membelenggu pelakuannya untuk selalu dalam ketidaktahuan, memang tidak tahu atau justru malah tidak ingin tahu. Kesalahan tersebut semakin bertambah kompleks ketika peraturan hanya menjadi sekedar pajangan dan memberikan sensasi tersendiri bagi para pelanggarnya. Masih pendeknya cara berfikir yang kemudian diwujudkan kedalam perbuatan-perbuatan yang sering terbiaskan oleh hingar-bingar sebuah pencapaian. Menjadikan dosa dosa itu kelak sulit untuk dimaafkan jika benar-benar ditulis dalam lembaran catatan kehidupan. Masa “muda” yang begitu labil, masih dalam masa pencarian jati diri dengan langkah yang salah seharusnya menjadi bahan pelajaran untuk menggapai hidup yang lebih elegant dan mampu mendewasakan mereka yang berkubang daripadanya.
Kini kita sudah dewasa, tak hanya
usia tapi lebih kepada jalan pemikirannya. Kini kita mengerti tanpa ada lagi
yang berusaha menasehati mengenai kesalahan yang masih kita lakukan. Jika itu
masih terjadi berarti kita memang belum dewasa, masih butuh beberapa fase lagi
untuk melewatinya dan butuh banyak pemahaman lagi untuk mengarahkannya. Sekarang
kita sadar bahwa semua ini bukan sekedar mengenai pencapaian yang kita besar
kepalakan, tetapi lebih kepada harapan untuk melihatnya kembali dimasa depan. Harapan
yang akan terwujud jika kita mengubur semua kesalahan yang telah dilakukan dan
menanaminya kembali dengan benih kepatuhan akan berbagai pakem aturan. Pohon
yang kelak akan dinikmati walaupun kita tak lagi bisa melihatnya, yang seharusnya
kita ikut andil untuk menyemaikannya, membesarkannya agar menjadi warisan
berharga bagi generasi yang akan datang. Dengan apa?? Hati adalah
selemah-lemahnya ikhtiar, menaati semua ketetapan adalah suatu hal yang lazim
juga merupakan keharusan, dan berusaha dengan tangan dan fikiran itu yang
benar-benar diharapkan. Dan diri ini mungkin cukup sampai pada tahap menaati
peraturannya dan biarlah debu-debu dosa telah melekat didasar qalbu terhembuskan
oleh angin maaf untuk menghapus jejak kesalahan yang kita telah tinggalkan,
berganti dengan kepatuhan dalam upaya penegakan birokrasi alam ini.
Go Ramadhan, Go bulan penuh ampunan dan momentum perubahan!!!
to be Continued ......
to be Continued ......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar