Minggu, 21 Juni 2015

MERAPI TAK PERNAH BERHENTI MENANTI




Sekilas Info
Sabtu, 16 Mei 2015 menjadi siang kelabu bagi reputasi merapi yang selama ini jarang terjadi hal yang tidak diharapkan menjadi sebab Insan berpulang ke Hadirat Ilahi.  Setelah erupsi tahun 2010 dahulu, Merapi cenderung lebih santun dan ramah dalam menyambut kedatangan para penikmat pesona keindahanya. Dan Siang itu benar-benar menjadi siang yang begitu pilu di puncak tertinggimu. Hari naasnya mahasiswa Jogja yang kedapatan melakukan pendakian ke puncak Garuda, puncak tertinggi yang dahulu megah berdiri dan sekarang tinggal menyisakan beberapa bongkahan batu runcing (tusuk gigi) yang amat terlarang untuk dipanjat atau dipijaki. Puncak itu menjadi sebab Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya karena terpeleset dan akhirnya jatuh ke dasar kawah. Dari kejadian itu masih menjadi tanda Tanya besar bagi kita para pendaki, apa yang melatarbelakangi almarhum bisa senekat itu untuk melakukannya?? Nasi sudah menjadi bubur dan pasti ada hikmah dibalik kepulangan Ery ke sisiNYa, paling tidak bisa menjadi peringatan bagi pendaki kedepannya untuk tidak melakukan apa yang Almarhum lakukan, biarlah ia tenang di Alam sana, tanpa melihat ada lagi yang mengikuti jejaknya. Dan Tepat 1 bulan pasca terjatuhnya kawan pendaki (Ery Yunanto) yang mengakibatkan ia tewas disana dan 1 bulan pula Merapi sendiri tanpa ada celoteh para pendaki. Sunyi tenang tak ada aktifitas yang berarti. Kini penantian kami akan terjawab wahai pasak negeri! We’re Go!!
Niat murni menuju bulan yang suci
Kabar baikpun berhembus, bahwa Pendakian Merapi akan dibuka tepat 1 bulan pasca kejadian itu atau ditutup sampai dengan tanggal 15 Juni 2015. Itu artinya pada keesokan harinya selasa 16 Juni, Merapi sudah boleh di Besuk mereka yang ingin tahu kondisi pasca tragedy, yang rindu akan suasana camp pasar Bubar yang berbatu juga berdebu dan mereka yang ingin larut dalam kekhusyukan sebuah penghambaan (salah satu niat utama saya). Kabar itu tak saya siakan untuk menjenguk kawan lama yang telah banyak memberikan pelajaran kehidupan yang dilekatkan oleh sang Khaliq untuk ia benar-benar ditadaburi. Tempat yang telah membekaskan ingatan tentang arti persahabatan ketika dulu kami masih lugu, ketika kami belum benar-benar mumaziz dalam bidang pendakian (@Ald*d* Pala09 ^^). Dan kali ini saya benar-benar ingin kembali untuk menapak-tilasi kenangan yang kini masih tersimpan dalam memori (berharap kalian ada disisi) dan ingin mencoba memperoleh bekal dariNYa melalui ciptaanNya (merapi) untuk mempersiapkan diri jelang bulan suci (Padusan berhubung 2hari lagi sudah siam ramadhan). Niat adalah benih sebuah amalan, ketika niat kita baik juga lurus pasti sang Pemberi Kehidupan akan menumbuhkan pohon amalan yang akan memberikan kebermanfaatan bagi para penanamnya dan tak menutup kemungkinan membuat senang bagi mereka yang melihat juga memetiknya. Dan merapi nampaknya menjadi ladang subur untuk menanam benih-benih itu dan berharap Al-Aziz menyuburkannya sebagai bekal menyambut bulan yang penuh ampunan (Go!!! Ramadhan) 
Selasa, 16 Juni 2015 Setelah merampungkan sedikit banyak urusan yang menjadi tanggungan, akhirnya saya benar-benar mantap untuk berziarah menuju bumi kelahiran Mbah Marijan, tanah Merapi yang telah banyak memberi arti. Niat kami sudah bulat, walaupun saya belum sepenuhnya mendapat restu dari orang tua tapi jiwa ini rupanya telah memilih jalannya sendiri dengan tetap harus memperhitungkan beberapa konsekuensi yang mungkin akan terjadi (I’m so sorry Mam). Nampaknya Lagu Ost. Gie yang terngiang di dalam fikiran semakin memantapkan niat untuk segera beranjak (sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukkan malam, dengan jalan fikiranku) dan kali ini saya pun cukup yakin dalam posisi yang dibenarkan. Dengan satu teman yang menemani atau tandem (single pun saya siap menuju kesana) akhirnya akan memulai start dari kampung halaman di kaki gunung Merbabu pada sore nantinya. Dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh hanya ± 1 jam perjalanan dengan menggunakan motor, kami siap menempuhnya walaupun sampai di base camp agak malam karena kami baru berangkat pukul 17.00 wib. Perbekalan yang benar-benar sudah kami persiapkan sebelumnya memudahkan kami untuk memulai start perjalanan menuju Base Camp Barameru di Desa Jlatah Kecamatan Selo Boyolali.

Goes To Base Camp

Etape awal perjalanan menuju Selo masih mudah untuk dilewati dengan cara melewati jalur alternative yang sudah mahfum kami kuasai (maklum tuan rumah). Cukup dengan menempuh ± 20 km untuk sampai disana dengan perkiraan bahan bakar cukup 2 liter sahaja. Setelah menempuh 30 menit perjalanan akhirnya kami sampai di Kecamatan Cepogo dengan jalan yang relative masih bagus. Setelah beberapa tarikan gas nampaknya jalanan tak semulus yang diperkirakan, karena sampai daerah IP (Irung Petruk bukan IP address lo ya) sampai Jrakah jalan mulai banyak yang rusak berlubang tergerus saat musim penghujan. Selain itu disepanjang jalan tersebut juga sedang ada perbaikan pancang alas beton sehingga jalan dibuka hanya satu sisi dan harus menjadi perhatian jika melakukan pendakian dari arah Boyolali!!!. Disarankan bawa Masker karena debu beterbangan begitu pekatnya saat intensitas kendaraan cukup tinggi atau jika bereda dibelakang kendaraan, bersiaplah untuk mandi debu. 

Akhirnya pukul 18.15 kami sampai di Kecamatan Selo atau tepatnya di sebuah masjid pinggir jalan untuk melaksanakan Jamak Qasar Maghrib – Isya’. Sembari sholat dan rehat, kami manfaatkan waktu itu untuk aklimatisasi diri yang nampaknya cukup bermanfaat karena cuaca yang tak jauh dengan base camp sudah tidak jauh lagi. Singkatnya, setelah menunaikan sholat, kami segera bersiap untuk bergegas melanjutkan perjalanan tapi kali ini perhatian kami teralihkan pada dua anak muda yang ingin pinjam Carier kami sebagai atribut foto (katanya buat nyaingi teman mereka yang “nilapke “ muncak ke Gn. Andong. Haduh Ada-ada aja!!!h.h) tapi dari kedua insan itu kami jadi sedikit tahu kronologis jatuhnya Alm. Ery karena saat itu mereka sedang camp di Pasar Bubar. Bahwa sesaat setelah Ery jatuh, justru semua pendaki yang ikut mendaki puncak Merapi langsung turun untuk melapor ke Basecamp dan tidak ada yang menunggui diatas untuk memastikan kondisi yang sebenarnya atau jaga-jaga disana. Mungkin Panic Shock lebih dominan mengendalikan jalan fikiran mereka. Wallahua’lam.

Sumber : intenarsriani.wordpress.com

Pukul 18.45 kami sampai di Base Camp Barameru Desa Jlatah, Kecamatan Selo yang terlihat sepi tidak ada penunggunya, kecuali seorang gadis gunung ayu yang ikhlas menyapa kami untuk menanyakan tujuan He.he. Dia lah yang memanggilkan petugas jaga untuk kami nantinya lapor dan melakukan pendaftaran. (Thank u girl). Terlihat didalam rumah yang ternyata sudah banyak motor dengan nomor daerah kendaraan yang cukup berfariasi dan didominasi oleh kendaraan dari daerah Jogjakarta (AB). Sembari menunggu petugas dan kehadirannya (?) kami sempatkan untuk sedikit mengisi tangki perut ini agar nyaman saat diperjalanan. Minuman cola + roti basah kami nikmati untuk menambah ganjalan perut yang saat dirumah sudah cukup terisi. Sambil melihat-memperhitungkan berapa orang yang sudah naik, mas penjaga terlihat sudah siap sedia untuk melayani kami. Pendaftaran terlegalisasi dengan membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 15.000,- (kelihatannya tarifnya naik yang kemaren Cuma Rp.10.000,-) ditambah harus mengisi formulir pendaftaran (identitas, Logistik, Perlengkapan dll) + Meninggalkan 1 KTP asli (kini lumayan ada peningkatan birokrasi). Setelah menyelesaikan segala pernak-pernik pendaftaran dan urusan perlambungan, akhirnya kami siap untuk memulai perjalanan mencari pembekalan untuk menyambut bulan suci Ramadhan (syahrul Siam).

Goes To Camp Pasar Bubrah (pasar bubar)
Pukul 19.30 kami benar-benar memulai perjalanan membelah malam untuk menuju camp Pasar Bubar (Pos III). Sebenarnya untuk melakukan perjalanan malam ada untung juga ruginya, dimana untungnya yaitu kita akan meminimalisir kebutuhan air karena hawa yang tidak terlalu panas dan bisa melihat-menikmati indahnya bintang juga lampu-lampu malam hari. Selain itu bagi yang ingin Take Tok  (ambil tok) memang menjadi pilihan yang tepat untuk mengejar sun rise di Puncaknya (tidak direkomendasikan). Kerugian melakukan perjalanan malam yaitu kita tidak bisa menguasai medan yang sesungguhnya karena terbatasnya pandangan karena hanya mengandalkan cahaya senter juga tidak bisa mendokumentasikan perjalanan ke atas karena terbatasnya kemampuan kamera. Selain itu dengan melakukan perjalanan di malam hari, waktu kita untuk istirahat di Camp nantinya menjadi sangat terbatas karena tak jarang sampai di camp hampir menjelang pagi. Saran saya sih jika ingin mendaki Merapi mendingan melakukan perjalanan waktu Sore setelah jam 1-an karena waktu kita cukup tertata, matahari akan semakin redup condong ke sisi barat ufuknya dan sampai di camp pasar bubar bisa lihat indahnya Sun Set. Perfecto!!!

Perjalanan awal yang disuguhkan masih berupa jalan aspal sampai Objek wisata New Selo, objek yang orang awampun pasti mengenalinya lewat tulisan yang sengaja dibuat dengan ukuran besar laiknya di Holywood. Langit malam kala itu mulai jelas terlihat dengan hiasan bintang-bintang diatasnya, seakan memompa semangat kami untuk segera menikmatinya di Atas sana, Camp pasar bubar yang akan dituju. Sebuah suasana yang jarang kita akan dapatkan jika hanya berpangku tangan memanjakan tubuh dalam balutan zona nyaman. Maka dengan langkah dan azam ini, qalbu ingin segera lebih mendekatkan diri pada sang Pembolak-baliknya untuk merasakan rasa ketergantungan padaNya di tempat dan disuasana yang berbeda. Suasana malam yang waktu itu begitu tenang menggambarkan betapa kesepiannya Merapi, bahkan anginpun sungkan untuk menemani karena sibuk dengan kepentingannya sendiri.


Sumber : infopendaki.com
Memasuki jalan setapak setelah Salter New Selo kini rupanya sudah di buat blog beton. Walaupun hanya berjarak 100 meteran tetapi  kali ini cukup membantu memperlancar langkah kami daripada menapaki tanah yang berdebu. Jalan setelahnya kelihatannya tidak mengalami perubahan yang signifikan, jalan tanah dengan beberapa hamparan kerikil, debu dan pasir masih menjadi karakter jalur pendakian Merapi ini. Jalurnya kini dibuat sudah agak lebar dengan beberapa cabang jalur yang digunakan oleh penduduk sekitar untuk berladang dan itu membantu kami lebih mempercepat ayunan langkah daripada menapaki jalur panjang, lurus dan monoton yang telah disediakan. 130 Menit akhirnya kami sampai di pintu masuk Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) tanda kami telah memasuki cagar Alam yang harus dijaga kelestariaanya oleh semua yang hadir disana. Sebuah gapura cukup tinggi yang masih samar-samar tertutup oleh rimbunnya dadaunan dengan plang tambahan sebagai peringatan agar tidak melakukan pelanggaran yang telah ditentukan itu nampaknya kini telah menyediakan 2 selter untuk berteduh merebahkan badan. Ironinya, adanya selter justru digunakan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab untuk corat-coret pengukuhan identitas diri di atap juga tiangnya dan menjadi tempat sampah instan bagi mereka yang enggan sadar akan kelestarian lingkungan. Permasalahan sampah mungkin masih akan menjadi PR besar yang sulit untuk terselesaikan waktu dekat maupun dalam jangka panjang. Bisa terbukti dimana jelas-jelas ada plang larangan disana, di sekitarannya masih saja ada sampah berbagai macam bungkus dan botol berserakan. Apalagi yang tak ada tanda peringatannya??? mungkin kembali pada diri sendiri bahwa kita adalah agen perubahan dan tinggal kita yang memilih dan menentukan, ingin lebih baik atau menjadikan alam yang telah diwariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa (YME) semakin buruk.
Berikut penampang Rute Yang di Sajikan
Sumber : Indocropcircle.wordpress.com

Setelah beberapa menit rehat kami melanjutkan langkah menuju pos I (watu Belah), kali ini kami bertemu dengan bapak paruh baya dari lembaga mitigasi (belum fix - lupa Tanya) yang berencana ingin melakukan observasi kandungan gas di puncak Merapi. Sembari Jalan juga bercengkrama, Beliau pun sedikit menegaskan kalau kami (pendaki) harus menaati peraturan terutama tentang larangan melakukan pendakian ke puncaknya, tragedi kemarin seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap pendaki Merapi, Tegasnya. Setelah sampai di pertigaaan, kami memisahkan diri dengan bapaknya yang ingin ngetrek lurus dan kelihatannya beban gendonganya cukup mendukung. Kami memilih jalur alternative dengan mengambil jalur kekiri setelah pintu gerbang (ingat!!! Beberapa meter Setelah gerbang TNGM) yang memang lebih landai dari pada memilih jalur lurus dengan trek yang cukup curam. Jalur dengan cara menyusuri lereng itu cukup memberikan bonus bagi kami (saya) yang membawa cukup banyak beban. Dengan sedikit mengambil jeda istirahat akhirnya setelah 45 menitan berjalan kami sampai di Pos I (Watu Belah) dan kelihatannya bapaknya tadi sudah sampai sedari beberapa menit, yang dapat terdengar dari suara batuknya yang khas. Bersama 2 kawan porternya, terdengar bapaknya berbincang di selter yang telah disediakan sembari memegang HT sebagai alat komunikasi dengan rekan-rekannya yang masih tertinggal di bawah. Sambil mendengarkan percakapan ala Briker kami sempatkan untuk nge-charge lambung yang dari tadi sudah mulai keroncongan.

Pos I Watu Belah (Selokopo Ngisor)
 

Sumber: penaadventure.wordpress.com
15 menit sudah kami larut dalam stagnasi istirahat yang membuat tubuh justru menjadi dingin oleh keringat yang teradaptasi dengan beku karena pembakaran kalori melambat. Nampaknya kami harus segera mengakhiri waktu rehat untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos II dan kami ijin kepada Mereka (bapaknya dkk.) yang kedengarannya masih menikmati hangatnya percakapan. Setelah berjalan beberapa menit kami sampai di persimpangan jalan jalur utama dengan jalur alternative. Kembali kondisi mengharuskan kami memilih jalur alternative agar meringankan langkah kami menuju pertigaaan setelah Pos II. Jalur dengan melewati lereng sebelah kanan Jalur Utama kembali mempermudah langkah kami menapaki setiap jengkal landscapenya. Nampak di bawah kerlip lampu, redup Merbabu dibelakang dan pemandangan kota Megelang dikaki 2 bersaudara gunung Sumbing dan Sindara (sindoro) yang dikombinasikan dengan temaram malam juga cahaya bintang membuat suasana kala itu semakin menakjubkan. Setelah selesai berjibaku dengan semak, rerumputan juga perdu lereng itu dengan membutuhkan waktu selama kurang lebih 1 jam perjalanan akhirnya kami tiba di persimpangan. 


Sumber : elsirmwt.wordpress
"Kota adalah bukti kesemprawutan pola pikir manusia"


Pertigaan yang cukup luas dengan kombinasi tanah padat dan material Vulkanik berupa pasir dan kerikil menjadi tempat tujuan kami untuk meletakkan Ceriel. Pos II nampaknya ada dibawah dan kami selangkah lebih maju untuk menuju camp Pasar Bubar diatas situ. Angin semilir dari samudera Hindia yang langsung menerpa badan menemani kami menikmati indahnya langit malam itu. Langit yang akan selalu sama dimanapun kita berada memperlihatkan dalil-dalil yang meminta kita untuk menterjemahkannya dan mentadaburinya. Sesekali terlihat bintang (meteor) jatuh dengan cahaya memanjang karena efek gesekan antara Bahan utamanya (meteorid) dengan atmosfir bumi sehingga menghasilkan bunga api raksasa di angkasa. Metorid yang kalah berduel dengan kuatnya lapisan atmosfir terpaksa harus mengalah dan terbakar habis dan  ada yang bisa lolos sampai turun ke bumi menjadi meteor. Melihat fenomena tersebut, jadi ingat tentang penjelasan kaum Expert dibidangnnya dalam menafsirkan Al Quran mengenai Bintang (meteor) tersebut yang digunakan sang Pencipta melalui perantara malaikatnya sebagai pelontar setan yang mencuri berita dari langit dan tak jarang ia (setan) terbakar habis karena terkena panah api yang dilontarkan. Mungkin kali ini bukan kapasitas saya untuk membahas hal tersebut dan yang pasti saya tahu bahwa Hanya Rabb Semesta lah yang lebih Mengetahui ( Wallahu a’lam bisawab). Sambil menikmati cemilan dan indahnya panorama malam, bibir ini pun juga ingin memasuki suasana berbeda dengan sesekali memainkan Hormonika yang sedari tadi diam tersimpan di Kantong carier (Lagu Rindu – Kerispatih  nampaknya cocok dengan suasana saat itu).


Ketika diri ini masih terlarut dalam bait-bait sumbang, terdengar suara dari bawah (Pos II) yang kelihatanya bapaknya yang tadi dan batuk masih menjadi menu utama yang menemani dalam perjalanannya. Kali ini beliau langsung melanjutkan perjalanan bersama beberapa rekannya yang sudah bergabung dan mengajak kami untuk segera berangkat karena pasar Bubar nampaknya sudah tidak jauh lagi juga waktu sudah menunjukkan pukul 23. 00 lebih. Kami urung beranjak dari tempat itu karena masih ingin larut dalam balutan syahdu dan Kami persilahkan mereka untuk berangkat terlebih dulu. Terdengar lagi suara tak tok tak tok (seperti itu) yang kembali mengganggu kekhikmatan dan ternyata dua orang pendaki yang kemudian muncul dengan membawa bongkahan kayu untuk api unggun di camp nanti (dalam hati bertanya, apa sempat ya?). Dan mereka pun langsung melenggang tanpa ada satu patah kata pun terucap dari keduanya (Yowisben lah, mungkin sudah lelah). Nampaknya angin di Malam yang semakin larut memaksa kami untuk berbegas berangkat dan 30 menitan lagi akan sampai di camp yang dituju. 

Jalan menuju Pasar Bubar ternyata masih sama seperti dahulu, berbatu, berkerikil, berpasir dan sedikit abu vulkanik yang sudah banyak berkurang setelah 4 tahun lamanya tidak menapakinya. Puncak yang sedari tadi sudah terlihat redup, oleh pekatnya malam dengan cahaya bintang sebagai penerang, mengisyaratkan kalau saat ini ia enggan untuk disinggahi. Ia terlihat lesu karena mungkin rasa bersalah yang masih menghantui walaupun itu bukan sepenuhnya karena kesalahannya. Pesonamu lah yang mengkondisikan hal itu akhirnya terjadi di Siang itu. Hal yang tidak diharapakan oleh semua pihak termasuk dirimu karena sisi bahaya yang engkau sembunyikan dibalik ketenanganmu saat ini, dibalik daya pikat yang engkau tawarkan, dibalik pesona keindahanmu.  Setelah berlama dalam pergolakan tanya akhirnya kami sampai di tugu monument Pasar Bubar. Sebuah monument untuk mereka yang telah kembali ke HaribaanNYA, menjadi penanda bahwa tempat itu memang penuh dengan misteri yang tak mudah untuk dipecahkan dan diterjemahkan. Tempat yang kadang disalah artikan hanya sebatas makhluk gaib dan sebangsanya, tapi Esensi yang termaktub didalamnya tak kunjung mereka mengerti, bahwa tempat itu diCiptakanNYa benar-benar sebagai sarana Tadabur, mengingat kepada sang  Pencipta Alam Semesta Raya.

Pukul 12.00 kami menuruni puncak monumen dan terlihat bangunan beton yang sudah terisi oleh orang. Ternyata bapak-bapak petugas dari Badan Mitigasilah yang berada didalam sana dan kelihatannya bangunan itu diperuntukkan Khusus untuk petugas Sahaja. Tak berlama-lama, waktunya cari tempat persinggahan. Kami Katakan mencari karena walaupun luas tidak semua tempat dapat dengan nyaman untuk didirikan tenda. Selain kontur tanahnya yang berbatu juga angin malam yang menerpa dari sisi selatan harus diperhatikan untuk mendapatkan tempat yang benar-benar nyaman. Dibawah Batu besar dengan permukaan rata berpasir akhirnya kami pilih untuk bermalam. Carier segera saya letakkan untuk mengeluarkan tenda yang segera harus dirangkai. 15 menit mempersiapkan tempat akhirnya penginapan sudah siap untuk dihuni. Sebelum beranjak tidur, kami sempatkan untuk memasak mie instan kuah + sayuran yang ditambah dengan irisan daging sapi plus nasi. Menu yang mendukung mereka yang ingin men”Jembling”kan perutnya agar terlihat berisi dengan lemak dan kolesterol.h.h. dan tidur menjadi suatu keharusan mengingat badan sudah loyo karena aktivitas seharian dan cukup beratnya perjalanan kali ini karena tak ada persiapan fisik yang berarti. Its time to Sleep!!

"Suatu saat ia akan terbenam di tempat terbitnya, dan saaat itu pula hamba mohon Engkau telah meridhai HambaMu ini."
 
Pagi Menjelang dan rupanya kami terlambat bangun karena alarm yang tadi malam sudah disetting ternyata tidak berfungsi. (Ta* kucing!!) Instinglah yang membangunkan karena pada dasarnya batin ini sudah terchamestrykan dengan “aroma” Sunrise yang akan segera datang, Terbit dari ufuknya (weleh). Intinya kami bangun pukul 05.05 dan mentari sudah mulai muntup-muntup di ufuk timur dengan memancarkan rona jingga khas suasana di pagi hari. Lekas keluar dari tenda tampak insan-insan yang nekad naik ke puncak Merapi sudah sampai 1/2 perjalanan mereka. Entah apa yang membuat mereka memberanikan diri untuk melanggar aturan yang kemarin akibatnya masih tersimpan lekat dalam ingatan dan Balleho larangan di dekat monument Pos III pun belum turun dari pancangnya. Kadang Aturan bisa termaklumkan apabila kondisi memungkinkan untuk kita melanggarnya. Ini bukan masalah pencapaian tapi lebih bagaimana hati rela untuk menaati peraturan atau dengan kata lain ikhlas tanpa melampaui batas. Tak ingin berlama-lama dalam pergolakan batin yang ingin mengulangi pencapaian pendakian 2011, hati ini memantapkan diri bahwa bukan itu yang ia cari. Hamparan Matras menjadi peredam kebimbangan dengan bersimpuh dalam ritual penghambaan. 4 Rekaat Sholat (wajib+sunah) menjawab semua keraguan dan kebimbangan itu.


"Jingga itu akan terasa berbeda dan takkan kita dapatkan jika hanya berpangku tangan"
Setelah selesai melaksanakan kewajiban sebagai seorang insan, saatnya berburu Sunrise di puncak Alternatif yang masih di Maklumkan memijakinya, Puncak Woro yang tak jauh dari tempat bermalam.  Dengan berbekal camilan, susu kemasan dan Mobile Phone (HP) kami siap mengabadikan bangkitnya sang Surya (Sunrise). Panorama yang disuguhkan di sepanjang perjalanan pun tak boleh terlewatkan oleh bidikan. Dengan langkah santai Puncak yang hanya berjarak 15 menit perjalanan itu tak begitu menguras tenaga. Dan Akhirnya kami sampai di tempat dengan patok kubus yang menancap, menjadi ciri khas puncaknya. Tempat yang dulu saya yakini sebagai puncak gunung bibi, Puncak gunung yang sudah saya kenal dari cerita cerita dulu saat masih duduk di bangku SD atau puncak yang menahan material erupsi ke arah timur gunung Merapi sehingga daerah Boyolali dan sekitarnya aman itu ternyata adalah puncak baru akibat erupsi tahun 2000an. (telusuri disini  http://alumni.ugm.ac.id/simponi/?page=ibrt_ugm&bid=111). Dari puncak woro tersebut daerah Boyolali dan Klaten terlihat jelas karena benar-benar menghadap kearahnya. Dan dari Puncak ini saya sedikit tahu mengapa ia (Merapi) jenak dengan kesendiriannya, tegar menanti mereka yang ingin benar-benar kembali kapada sebuah penghambaan sejati bukan mereka yang sekedar ingin melampiaskan hasrat keegoisan diri. Pertama, Bintanglah yang menemani ia diwaktu malam dengan berjuta panoramanya yang tiada tara dan Sang Suryalah yang menjaga ia dari pagi sampai petangnya. Kedua, Waktu-waktunya ia isi dengan selalu bertasbih kepada Rabb penciptanya, Tasbih yang hanya Ia dan Tuhannya yang mengerti atau mereka yang mengerti dan memahami bahwa segala sesuatu yang diciptakan sang Khaliq di Alam Raya ini bertasbih dengan caranya sendiri-sendiri. Sebagai bukti kepatuhan dan kebersyukuran kepada Tuhan Penciptanya. Dilain pihak mungkin hanya Manusia dan Setan dedengkotnyalah yang enggan patuh menyembah, menaati dan memuji Tuhan yang telah menciptakannya dengan Kasih dan Sayang (Rahman & Rahim).


"Hargo Dumilah pun nampak dari sini (Woro), tanda setiap ciptaaNya saling terkoneksikan satu sama lainnya"

Nampaknya kesunyian kami harus terbagi dengan kehadiran pendaki lain yang ingin menikmati tempat ini. Tempat layaknya kawan bagi merapi yang sentiasa menjaganya dari dampak amarah yang sewaktu-waktu tak bisa terelakkan karena Pencipta telah mengkehendakkannya. Tempat yang mengarahkan material-material vulkanik (baik panas atau dingin) untuk tidak menghantam tanah kelahiran kami (Boyolali) dan membelokkannya menyusuri kali woro untuk nantinya dimanfaatkan sebagai material bangunan. Kali (sungai) itu memang saat ini tanpa air, namun jangan salah: saat hujan deras menimpa di puncaknya bukan tidak mungkin tempat itu akan mengakibatkan banjir lahar dingin di hilir alirannya yang tak jarang mengakibatkan kerugian. Sungguh maha besar Engkau atas semua yang telah di Anugerahkan. Sembari menikmati bekal yang telah dibawa, terlihat pendaki-pendaki yang telah merampungkan hajat menaklukkan puncak tertinggi Merapi sudah mulai banyak yang turun dan ada juga yang baru naik menuju puncaknya. Kami berharap, semoga apa yang mereka lakukan mendapat Ridha dari Yang Empunya setiap jengkal tanahnya.


Arloji menunjukkan pukul 07.30 dan nampaknya kami telah berlama-lama dalam aktifitas dokumentasi. Waktunya kami harus turun  untuk prepare dan mengemasi semua barang yang telah dikeluarkan. Perlahan tapi pasti kami menuruni puncak (bukit) yang masih meninggalkan kawan-kawan pendaki yang sedang asyik berfoto dan bercengkrama. Menuju ke lokasi tenda yang berdiri sesekali kami sempatkan untuk memungut beberapa sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki lain. Sampah botol masih mendominasi di camp pasar bubar ini. Yang menjadikan kami kali ini kembali muak dengan perilaku pendaki yang tak bertanggung jawab ialah air kencing yang dimasukkan kedalam botol kemasan air mineral 1,5 literan (ada yang penuh ada yang tidak) dan ditinggalkan begitu saja di bebatuan sekitaran camp. Mencoba untuk membuka juga menumpahkannya untuk dibawa turun, kami justru dibuat mual dengan bau yang tercium sesat setelah cairannya tumpah ke tanah. (Astagfirullah). Dosa apa tanah ini sampai mereka mengotorinya dan maksud apa mereka menyimpan-meninggalkannya??? Bukankah langsung kencing dilokasi lebih bijak bagi mereka yang mau berfikir?? Mungkin pemahaman rancu mereka lebih mendominasi jalan fikirannya. Subhanallah (maha Suci ALLah)

Setelah Packing semua barang bawaan untuk dikemas kedalam Cerier dan tas tambahan, waktunya kami untuk pulang menuju ketempat tujuan utama dalam setiap pendakian (rumah). Dalam benak, Kami berpamitan pada tempat ini yang telah memberikan pembelajaran hidup yang disematkan Penciptanya untuk di ambil hikmah dari padanya. Tempat yang kini sudah banyak berubah oleh alam dan kepicikan manusia ini sejatinya banyak memberikan kenangan yang sulit untuk dilupakan. Bukan sekedar pencapaian tapi lebih dari pada itu: kegembiraan, kebersamaan , persahabatan, pengorbanan dan rasa penghambaan yang telah di berikan untuk mereka yang tulus melangkahkan kakinya ketempat ini. Dan kini kami akan lebih siap untuk menyambut bulan penuh ampunan karena itu salah satu niat kami berziarah kemari. Dan teruntuk buat sahabat-sahabat saya (Ald*d* pala”loepeyang” ) jangan berhenti untuk mengenal ciptaanya ini, karena masih banyak hal yang belum kita gali dan dapatkan. Menjaga kelestariannya bukan sekedar menjadi kewajiban, tetapi lebih daripada itu menjadi kebutuhan kita bersama. Salam Lestari!!!

Untuk perjalanan selanjutnya tidak kami panjang lebarkan karena hanya diisi dengan pungut sampah, foto-foto dan guling-gulingan.he.he. Sekian dari saya apabila ada salah kata saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

INTERMEZO

Pesan Sesama Pendaki!!


 

"Walau sudah jauh berbeda tapi kenangan itu masih lekat di dalam ingatan, Engkau ternyata masih menyimpan untuk diunduh mereka yang tulus kembali menapakinya."


cEscpr4st
Merapi 16 - 17 Mei 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar