Kamis, 25 Juni 2015

Sebuah Tanya




Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku”


Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin


Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?

Bait terakhir puisi di atas setidaknya ingin saya dijadikan landasan mengenai sebuah pemahaman tentang berbedanya kami (pria) dengan mereka (wanita) layaknya sepatu baik sifat dan tingkah laku tapi akan sama ketika mereka telah saling mencinta. Tapi pada kesempatan kali ini bukan ingin mengurai apa yang disebut dengan cinta, tapi lebih pada object yang membuat kita (kaum Adam) untuk jatuh cinta atau mereka yang sering juga disebut dengan sang perhiasan dunia. Sebegitu indahnya kah ia sampai di persamakan dengan emas, berlian atau bahkan batu akik? <Sebuah Tanya>Kembali ke Sajak puisi yang tentu kita ketahui dan pasti akan mengingatkan kita pada sosok lelaki yang menjadi idola kaum idealis dan tentunya pendaki (Gie). Judul tulisan ini memang sama dengan pendahulunya, tapi bukan ingin mengupas dunia lelaki yang selama ini telah diarungi Soe Hok GIe, tetapi lebih jauh dalam lagi yaitu mengenai sesuatu yang cipta dari tulang rusuknya (laki-laki). Begitulah yang disebut dalam cerita dan dari dasar yang dipercaya bahwa dahulu kala Ia (wanita sebut Hawa) dicipta dari susunan tulang iga paling bengkok pria (sebut Adam). Bagaimana ia bisa dicipta dari sesuatu yang mustahil? Tuhan Semesta Alam sungguh Maha Kuasa <Sebuah jawaban pasti>. <Sebuah Tanya> pun muncul:  La terus apa gunannya puisi diatas jika akhirnya hanya ingin mengulas tentang mereka (wanita)? dari puisi tersebut kita jadi tahu bahwa Gie sang idealispun juga terpaut hatinya pada makhluk yang dinamakan wanita. Wanita yang entah Ibu atau Kekasihnya itu pun menjadi bagian dalam karyanya yang banyak dihiasi dengan ruh nasionalisme. Gie! Engkau pun telah masuk dalam ceruk makhluk yang dinamakan wanita. Sudahlah membahas wanita dengan daya pikatnya berupa cinta yang lama-lama akan membuat jiwa terperangkap di dalamnya. (titik)

Wanita (perempuan) dalam bahasa Jawa artinya Wanito (Wani Ditata) atau bisa diatur oleh pria sebagai pemegang kendalinya (imam dalam kehidupan) dan dalam Al quran juga disebutkan bahwa Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Menurut Mbah Wiki Arti kata wanita memiliki wewenang untuk bekerja dan menghidupi keluarga bersama dengan sang suami/laki-laki. Tidak ada pembagian peran wanita dan laki-laki dalam rumah tangga, pria dan wanita sama-sama berkewajiban mengasuh anak hingga usia dewasa. Jika ada wacana wanita harus di rumah menjaga anak dan memasak untuk suami maka itu adalah konstruksi peran wanita karena laki-laki juga bisa melakukan hal itu, contoh lain misalnya laki-laki yang lebih kuat, tegas dan wanita lemah lembut ini yang kemudian disebut dengan gender. Lelaki lebih kuat dan wanita lemah lembut dalam penggalan kalimat tersebut menjadi suatu pembenaran dan kadang bisa menjadi suatu penafikan bahwa tidak semua wanita lemah lembut karena puncak-puncak negeri yang tegak berdiri ini sudah menjadi saksi bahwa mereka tidak seperti yang difikirkan selama ini. Zaman memang sudah berganti dan belakangan ini emansipasi menjadi topik pembahasan seputar wanita yang kini sudah menjadi hijab independensi untuk mereka setara dengan laki-laki. Padahal jauh-jauh sebelum dunia tertata, ibu dari seluruh manusia telah banyak mengajarkan mengenai emansipasi untuk hidup mandiri dalam upaya mencari pujaan hati (adam). Berkelana menyusuri setiap jengkal tanahNYa untuk mencari adam, yang terpisahkan sesaat setelah mereka diturunkan ke Dunia karena kesalahan yang telah mereka lakukan bersama. Sehingga pada dasarnya sifat tersebut memang sudah diwariskan hawa kepada anak turunnya yang tercipta sebagai wanita untuk berpetualang melangkahkan kaki menuju tempat yang inginkan-citakan. Sifat itukah yang melatarbelakangi-mendorong kalian untuk mengarungi alam ini dan mampu berani berdiri di Atap-atap Negeri? Apakah itu benar panggilan tuhanmu, panggilan kekasihmu? <Sebuah Tanya>

Kembali ke sajak Sebuah Tanya diatas bahwa wanita sangat identik dengan sifat lembut. Jika sudut pandang orang kedua dalam puisi tersebut kita analogikan sebagai ibu/istri (bukan pacar) maka sudah barang tentu tutur dan perlakuan kepada anak/suami akan sesuai dengan apa yang didiskripsikan karena memang itu watak bawaan yang mereka miliki. Sehingga pada suatu ketika, dengan kelembutan laku dan tutur nasehatnya itu pun digunakan untuk mengantarkan yang di kasihinya sampai di pembaringan (tempat tidur). Sungguh mulia hati mereka. Bertolak belakang dengan seorang laki-laki (jika disudut pandang yang sama) yang akan lebih elegan untuk duduk mengamati dan menjadikan momen tersebut tidak berarti. Akankah kau akan sama seperti mereka wahai wanita yang rela berjibaku di dengan kotornya debu, kerasnya jalan berbatu, derasnya peluh, teriknya sang surya?? Ataukah sifat “kelelakianmu” membuat acuh dengan moment intim seperti itu? <Sebuah Tanya

Petualangan adalah sesuatu yang menyenangkan juga melelahkan terutama di alam terbuka. Sebuah aktivitas membutuhkan kemauan yang kuat untuk mewujudkannya karena tak hanya tenaga dan biaya, fikiran pun juga dipertaruhkan. Tenaga merupakan hal pokok yang wajib di sediakan karenan tanpa tenaga, kaki ini pun tak mungkin melangkah. Biaya dikeluarkan untuk mendapatkan tujuan petualangan yang diinginkan. Dan fikiran menjadi filter dari semua aktivitas yang dilakukan. Petualangan memang identik dengan kaum adam yang memang ditakdirkan untuk berkelana. Bagi wanita mungkin agak tabu untuk melakukannya kecuali bagi mereka yang diciptakan berbeda. Berbeda yang bagaimankah?? Apakah kalian sederet dari yang berbeda itu??<Sebuah Tanya>. Pertanyaan yang selalu muncul ketika mata ini menjumpai mereka, melihat mereka di tempat yang asing bagi keberadaan mereka sebagai wanita. Di gunung, lembah, ngarai, lereng, bukit, masih banyak lagi dan sebenarnya apa yang mereka cari? <sebuah Tanya> Merelaksasikan dirikah: di tempat salon-Spa saya kira sudah cukup, Bersenang-senangkah: di Tempat karaoke its ok, Mencari temankah : bukankah di sekolah, tempat kuliah sudah banyak yang berkawan, atau mencari Jatidiri kah: mungkin di Semarang lah tempatnya. Pertanyaan-Pertanyaan itu hanya engkau dan tuhanmulah yang tahu juga mampu untuk menjawabnya. Cariel/ daypack digendongan, sepatu/ sandal yang kuat mencengkeram, Hijab pelengkap kesempurnaan, Trekking pole digenggaman dll seakan menjadi saksi bisu ketegaranmu, kesungguhanmu, Ketaguhanmu. Disini kami hanya sebatas mengagumimu.
Akhirnya dari sebuah Tanya muncullah berbuah-buah (banyak) Tanya karena mereka memang sarat akan pertanyaan. Banyak misteri yang meminta untuk dipecahkan oleh kami yang dipenuhi Tanya kepada mereka suka menapaki tanah tinggi, tanah para leluhur (nabi) “kembali”. Merujuk kehidupan di masa depan, sajak sebuah tanya tersebut akhirnya terpaksa digubah: 

Akankah kau kelak berbicara selembut itu?

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

Sambil membenarkan letak leher kemejaku?



Kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram (gelap)
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin



Akankah kau membelaiku semesra itu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Apakah kau akan berkata, kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam iman dan cinta?

Harapan kami, tetaplah kalian menetapi kodrat mu sebagai wanita sejati. Dengan kelembutanmu, kelembutan parasmu, kelembutan tutur katamu, kelembutan perangaimu. Berpetualanglah kemana saja engkau mau, Jika kau hawa maka temukanlah adam yang kelak akan membuatmu berhenti atau justru menjadi walimu (mahram) untuk menemanimu menikmati setiap jengkal tanah ini. Tanah dengan hiasan bintang di angkasa malam, tanah yang matahari muncul dengan “berbeda”, tanah dengan kabut dinginnya sebagai penghangat kalbu, tempat yang akan membuatmu bangga, tempat dimana engkau bebas bercengrama. Harapan kami terakhir, Ketika kau mampu menjaga dirimu dari segala sesuatu yang memayahkanmu, kelak jadikan itu sebagai bekal untuk merawat-membesarkan anak-anakmu. Karena kami tahu Induk gajah akan selalu tulus menjaga anak-anaknya, karena kau bukan gajah, karena kau adalah wanita yang pasti punya instingnya. Jadilah induk gajah baru yang berparadigma untuk membuat kehidupan yang akan datang menjadi lebih indah.
Salam Lestari!!!

***
Puisi sengaja di modifikasi bukan untuk merubah teks aslinya atau pesan yang terkandung di dalamnya. I am sorry mbah Gie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar