Rabu, 10 Juni 2015

Gunung Tempat Kembali



Sebuah judul sumbang mengenai  hobi yang kini sedang naik daun ini, mungkin tak akan membuat surut bagi mereka yang ingin segera posting di jejaring, mengganti Foto Profil ataupun upload di blog masing-masing. Judul yang seakan membuka tragedi lama bagi mereka yang benar-benar kembali,kembali menghadap kehadirat ilahi karena sebab tempat yang begitu berkesan untuk membagi cerita disetiap perjalanannya dan menjadi kebanggaan disetiap pencapaiannya. Judul ini seakan ingin menjelaskan bahwa Gunung memang sarat dengan semua itu karena sang Khaliq memang sudah melekatkan hikmah bagi setiap apa yang ia ciptakan, termasuk gunung. Menjadi pelajaran bagi mereka yang benar-benar memahami dan berfikir atas apa yang telah diciptakanNya. Tapi mungkin tidak setiap orang (pendaki) faham dengan apa yang seharusnya mereka peroleh dari gunung tersebut termasuk diri ini. Foto, Kenangan, Kesenangan mungkin hanya merupakan kulit dari buah yang seharusnya mereka nikmati dan hal lain yang lebih berharga tak kunjung mereka dapatkan. Gunung seakan hanya menjadi pelampiasan apa yang mereka ingin rasakan tanpa ingin mengetahui apa yang alam inginkan. Sebuah kondisi berat sebelah ini akan bertambah ketika ego begitu dipaksakan dan kurangnya pengetahuan untuk memahami kembali atas apa yang mereka terima. Puncaknya ketika mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan mereka enggan untuk memberikan apa yang gunung butuhkan. Akhirnya, gunung begitu terluka oleh mereka yang mengatakan diri sebagai pecinta!!! sampah dimana-mana, coretan penuh menghiasi, fasilitas alam kumuh tak terurus. Menjadi bukti mereka tak ingin pernah mengerti atas semua yang seharusnya dilakukan dan tak ingin kembali kepada fitrah diri juga alam ini. Judul ini setidaknya ingin mengajak kita untuk benar-benar kembali ke Alam. Alam tidak meminta untuk didaki, kitalah yang menginginkannya untuk berada disana dengan menjadi orang asing bagi sesuatu yang telah dahulu tinggal. Tak jarang kehadiran kita hanya menjadi kerugian bagi mereka, mengusik ketentraman alam raya dengan pemahaman dangkal akan arti sebuah petualangan. Jadikan alam sebagai tempat kembali, kembali memperoleh jati diri tanpa merusak apa yang telah sang pencipta karuniakan. Alam  ini, gunung ini, puncak ini hanya kita yang mampu mengusahakan. Salam lestari!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar