Sabtu, 27 Juni 2015

GADIS MENAWAN ITU BERNAMA WORO




Pada suatu ketika, di zaman ketika Adam belum di turunkan kedunia, tinggalah dewa-dewa yang bersemayam di setiap wilayah daratan. Mereka ditugaskan oleh sang pencipta untuk menjaga dunia agar tidak dirusak oleh Iblis dan dedengkotnya yang telah terlebih dulu dikeluarkan dari surga. Mereka (Iblis) sengaja merusak dunia dan segala tatanannya untuk melampisakan hawa nafsunya sebab tidak diperkenankan lagi masuk surga. Mereka diberi jatah menghuni neraka karena pembangkangan yang dilakukan sewaktu ia (Iblis) masih diperkenankan tinggal disana (surga). Tak jarang dengan segala tipu muslihat dan kekuatan-kekuatan yang sengaja diberikan oleh sang pencipta, Mereka (Iblis) dengan leluasa membuat dunia seisinya porak poranda. Oleh sebab itu dewa-dewa yang memang sengaja ditugaskan menjaga wilayah yang telah ditentukanNYa, harus benar-benar mengemban amanat yang disematkanNya untuk mengantisipasi ganguan dan ancaman Iblis tersebut. Dan kali ini bumi sebagai tempat terakhir yang dapat dihuni, menjadi prioritas penjagaan oleh para dewa karena, kelak kehidupan makhluk bernyawa akan berpusat disana. 

Dahulu kala Di daratan yang bernama Kerto atau Karta, di semayami dan dijaga beberapa dewa, salah satunya dewa Marapi pemilik kekuatan Api dan punya watak yang bijaksana juga baik hati. Kemudian dinamakan Hoyakkarta yang berasal dari Hoyak dan Karta, dimana Hoyak artinya Goncang, dan Karta artinya tentram. Daerah itu awalnya bernama Kerta saja karena kondisi wilayahnya yang begitu tentram sampai pada suatu saat timbullah huru-hara yang lakukan oleh Iblis dan bala tentarannya sehingga daerah itu sering terjadi gempa yang dahsyat. Adanya gempa yang sering terjadi dan agar mempermudah mengidentifikasinya, maka oleh kesepakatan dewa-dewa dan atas izin sang Pencipta, daerah itu akhirnya dinamakan HoyakKerta. Untuk meredam gempa yang sering terjadi, Sang pencipta melalui para dewanya Akhirnya membuat pasak bumi yang di tancapkannya tepat di batas antara wilayah Hoyakkerto dengan Tanah Jawa. Pasak itu digunakan untuk meredam gempa Dahsyat akibat muslihat yang dilakukan Iblis dan dedengkotnya. Akhirnya dengan pasak tersebut daerah Hoyakkerto dan Tanah Jawa kembali tenang dan tentram sehingga kelak dimasa peradaban maju maka HoyakKerto akan berganti menjadi Ngayogjakarta (Jogjakarta).

Melihat kondisi ketentraman menaungi daratan tersebut, Iblis dan bala tentaranya tidak lantas diam begitu saja. Dilain pihak, karena sifat kearifan dewa Merapi, beliau sengaja menemui Iblis untuk menyelesaikan masalah yang terjadi agar terjadi titik temu diantara keduanya. Melihat watak Iblis yang begitu angkuh, bukannya perdamaian yang tercipta justru pertarungan hebat terjadi diantara mereka dan bala tentarannya. Singkatnya Iblis akhirnya dapat diusir dari daratan tersebut. Bersama dengan kepergiannya mereka mengeluarkan sumpah serapah (mantra kutukan) yang menyatakan bahwa apabila Dewa Marapi kelak mempunyai anak perempuan dan jika is bersentuhan dengan moral penduduk yang sudah rusak juga banyaknya perpecahan maka daerah tersebut akan di luluh lantakkan. Dan setelah pertarungan itu berakhir Iblis sementara pergi mengungsi ke Puncak Hargo Dumilah di Gunung Lawu untuk memulihkan diri dan akan kembali apabila kutukan itu benar-benar tergenapi. Akhirnya kehidupan daratan HoyakKerto dan Tanah Jawa kembali sedia kala tanpa ada huru hara. Tentrem kerto raharjo gemah ripah loh jinawi pun terwujud setelah berabad tahun lamanya Adam diutus ke Dunia bersama Hawa untuk memulai kehidupan nyata. Dan Dewa Marapi memutuskan menjelma menjadi manusia bergelar Raden Marapi Balerante (daerah yang saling terikat “Rante”)yang akhirnya menjadi pemimpin di daerah tinggi, sepi dan asri  yang ia namai dengan daerah Balerente.

Selang beberapa dasawarsa, Dewa/Raden Marapi pun juga telah mempunyai pendamping yang dipersuntingnya dari lingkungan Keraton HoyakKerto. Kekasihnya itu bernama Roro Bibi Arimbi, yang biasa dipanggil dengan sebutan Bibi. Walaupun mereka sudah menikah, Marapi selalu terngiang-ngiang akan kutukan yang telah diucapkan musuhnya itu dan khawatir kutukan tersebut benar-benar akan terjadi. Rasa bimbang itu ternyata lebih menguasai batin Raden Marapi sehingga ia urung untuk berniat mempunyai anak. Takdir berkata lain, bahwa Tuhan Semesta Alam mengkehendakkanya untuk mempunyai momongan, buah pernikahan mereka berdua. Setelah 20 tahun lamanya pasca pernikahannya akhirnya Bibi Hamil dan diprediksi bayi itu berjenis kelami perempuan. Mendengar kejadian tersebut Raden Marapi bingung antara senang dan khawatir. Senang karena mendapat momongan pertama kali dan khawatir kutukan itu akan benar-benar terjadi. Akhirnya dengan hikmah sang maha Kuasa dan kearifannya, Raden Marapi menerima takdir yang telah digariskan kepadanya dan keluarganya. Kutukan tersebut disiasati dengan membimbing masyarakatnya agar menetapi apa yang telah diperintahkan dan menjauhi segala larangan Tuhan Semesta Alam. Misalnya, tidak menyekutukan Tuhan, menggunakan apa yang tersedia di alam dengan Bijak saling menyayangi satu sama lainnya. Dakwah yang disampaikan Raden Marapi membuat akhlak dan moral masyarakat saat itu  benar-benar terbina. Ritual Ibadah ditegakkan, tempat ibadah selalu penuh terisi, gotong royong rutin dikerjakan dll.

Sampai suatu saat, berita itu pun tercium oleh Iblis yang kala itu masih menetap di Puncak Hargo Dumilah (Gunung Lawu). Sambil menunggu momen yang tepat untuk melancarkan aksi pamungkas, Iblis dan kawan-kawannya mencoba menyusup ke dalam lingkungan masyarakat untuk menghembuskan api perpecahan dan perkara-perkara maksiat yang menjadi larangan sang Pencipta dan dakwah Raden Marapi. Diawal masa penjajakannya, hasutan-hasutan iblis itu tak membuat masyarakat bergeming dari syariat yang telah diajarkan. Namun, lambat laun godaan-godaan itu pun sedikit-demi sedikit akhirnya berpengaruh terhadap iman masyarakat. Masyarkat mulai mencoba-coba perkara-perkara larangan. Hingga akhirnya si Jabang bayi terlahir kedunia dan benar berjenis kelamin perempuan. Gadis akhirnya diberi nama Raden Ayu Woro Sembodro agar ia tetap jadi gadis (Perawan) yang punya pembawaan yang lembut, anggun, tenang, namun mampu bersikap tegas bila diperlukan. Saat masih kecil ia selalu dijaga burung Garuda Surya Kencana yang memang ditugaskan oleh raden/dewa marapi untuk mengawasi Roro agar tidak keluar dari lingkungan Keraton Balerante. Dengan menggunakan mata dewanya Kemanapun pergi Garuda selalu awas terhadap gerak gerik gadis kecil itu. Dan setalah itu woro pun telah beranjak remaja (baligh 14 tahunan) tumbuh menjadi gadis yang berparas ayu, baik hati dan berakhlak mulia.

Hingga akhirnya petaka itu datang. Iblis yang tidak kehilangan cara untuk mewujudkan kutukan itu benar-benar terjadi. Ketika akhlak masyarakat sudah rusak tetapi sang gadis tidak berbaur dengan masyarakat maka kutukan tidak akan bekerja. Maka dari itu iblis menyusun banyak strategi untuk menarik Woro untuk keluar Keraton. akhirnya ia mencoba cara terakhir. Iblis yang berubah menjadi nenek tua renta pembawa kayu bakar yang kelihatnnya tak sebanding dengan tubuh dan usia nenek tersebut.  Nenek tersebut telah berada di pintu belakang tepat di pinggir tempat woro melakukan aktifitas. Nenek renta tersebut kelelahan dan kelihatan sudah tidak kuat lagi membawa beban kayu bakar untuk dibawa ke rumahnya. Melihat hal tersebut woro pun tersentuh hatinya untuk menolong nenek tersebut dan mengindahkan nasehat ayahandanya. Berhubung hatinya begitu tulus dan suci, akhirnya woro pun membantu nenek tersebut. Kebetulan saat itu Garuda Surya Kencana sedang bersama raden Marapi  menghadiri upacara di Keraton HoyakKerto. Sementara ibunya (bibi) sedang memasak menyiapkan menu untuk berbuka nanti. Sehingga keluarlah Woro dari lingkungan Keraton Balerente, tempat yang selama ini meng "hijabi" ia dari dunia luar dan tentunya efek kutukan.

Sampailah ia di sebuah tempat yang begitu banyak orang berjualan barang dagangan, baik hasil pertanian, barang-barang kerajinan. Ada juga yang melakukan aktivitas larangan seperti berjudi baik dadu maupun kartu, ada yang berjualan mengurangi timbangan (sukatan), sistem pinjam-meminjam dengan bunga (Riba) dll sehingga praktik-praktik larangan itu sudah jamak dilakukan masyarakat. Ia (woro) belum mengetahui kalau tempat itu adalah pasar. Sembari mengemati sekitar ia kehilangan nenek tua itu yang telah berbaur dengan hiruk pikuk orang-orang dan tiba-tiba tubuhnya pun lemah seakan-akan ada yang menyedot tenagannya. Tiba-tiba goncanglah daerah itu dengan begitu dahsyatnya sehingga orang-orang disana semua berlarian. Nampaknya kutukan tersebut benar-benar terbukti, Pasak Bumi (Gunung merapi) yang telah lama tertidur kini terjaga. Woro yang dalam keadaan lemah pun mencoba berlari turun menuju ke Keraton-rumahnya. Ibunya (bibi) yang tidak menyadari Woro sudah tidak ada di lingkungan Keraton mencoba dengan sekuat tenaga untuk mencari Anak gadisnya itu. Sehingga selang beberapa lama mereka akhirnya bertemu dan berpelukan di daerah yang dinamakan SeloKopo (tempat berbatu). Mereka sadar bahwa kutukan yang pernah diceritakan oleh Suaminya kini telah terbukti. Tanah masih berguncang hebat dan dari atas tempat tertinggi tiba-tiba muncul lahar panas dan mulai membanjiri pasar tadi. Menenggelamkan masyarakat yang dicekam ketakutan. Melihat hal tersebut, Bibi yang masih mendekap erat woro segera memohon kepada sang Pencipta untuk melindungi anaknya dan lingkungan keratonnya (balerante). Di dalam keheningan doanya, permintaan itu akan dikabulkan tapi dengan syarat tubuh bibi harus dikorbankan dan nyawanya moksa disana. Tak berlama-lama bibi langsung menyanggupinya tubuhnya langsung berubah menjadi Gunung besar yang menutup aliran lahar yang akan melelehi lingkungan keratonnya dan menyelamatkan jiwa anaknnya yang masih lemah di sana (Selokopo). 

Melihat ibunya berkorban seperti itu, woro menjadi sedih sekaligus bangga. Ia memohon kepada sang Pencipta agar suatu saat ia di persatukan dengan ibunya kembali walaupun nasibnya harus sama dengannya. Permintaan itu tidak lantas langsung dikabulkan karena Woro belum lah dewasa untuk mengemban takdir sebagaimana yang telah penuhi ibunya. Tetapi jika kelak nanti ia telah dewasa, Woro dapat membantu ibunya meredam dan membendung bencana yang datang dari atas Pasak Bumi (Gunung Merapi). Sementara ini ia diselamatkan dan diangkat ke Kahyangan untuk menimba ilmu Hakikat dari para Malaikat. Dilain Pihak, Raden Marapi yang Mendengar kejadian itu bersama garuda langsung menuju ke Keratonnya yang telah luluh lantah dan mendapati Istri juga anaknya sudah tidak ada ditempat. Ia sadar bahwa gempa dahsyat itu imbas kutukan iblis dan dedengkotnya yang kini telah terwujud. Ia segera mencari keseluruh wilayah Balerante dan berharap ia mendapati keluarganya selamat. Ia baru tahu kalau ada gunung baru yang menutupi aliran lahar ke desa juga keratonnya dan baru sadar kalau itu adalah Istrinya, Bibi. Ia sangat sedih ditengah situasi huru-hara akibat gempa itu. Ia merasa sangat bersalah sehingga bencana itu kembali terjadi. Sehingga melihat kondisi tersebut ia bermunajat kepada sang Pencipta. Ia memohon agar diangkat lagi menjadi dewa dan disemayamkan di tempat itu, untuk menjaga Pasak itu dan agar ia tetap bisa bersama istrinya. Permintaanya dikabulkan dan tubuhnya akhirnya moksa di Puncak sana. Garuda Surya Kencana yang juga merasa bersalah atas kejadian tersebut, meminta sang Pencipta agar ia dapat mendampingi dewa Marapi menjaga pasak bumi. Permintaaanya pun dikabulkan. Tubuh garuda itu berubah menjadi batu Besar yang akhirnya ditancapkan sang Pencipta tepat di Atas Puncak Pasak Bumi dan jadilah ia Puncak Garuda.

Dan Kelak Woro yang sudah tumbuh dewasa dan telah lulus dari mempelajari ilmu Hakikat juga akan turunkan dari kahyangan untuk bertemu ibu dan Ayahnya. Ia nanti akan diberi tempat Altar Suci di atas Puncak Baru yang akan terbentuk. dan nantinya Mereka (Marapi, Bibi, Woro dan Garuda) akan bersama-sama menjaga Pasak Bumi (Gunung Merapi) agar tidak kembali merusak dan menghancurkan wilayah sekitar dengan material laharnya. Dan mereka akan hidup bahagia bersama.

Pesan:
Jangan kita hianati Ketulusan hati Bibi Arimbi, Woro Sembodro dan kesetiaan Marapi Balerante mengorbankan jiwa raga mereka untuk menyelamatkan juga melestarikan Alam ini. Jangan perturutkan kepicikan fikir kita untuk merusak dan mengotori setiap jengkal tanah yang telah mereka perjuangkan ini. Jaga mereka, Jaga kelestarian Alamnya. Bukan tak mungkin mereka akan tersenyum pada kita karena itu sejatinya bukan semata untuk alam ini sahaja tapi lebih pada masa depan kita bersama.

                                                    Salam Lestari!!!
***
Kembali, ini Bukanlah cerita nyata, hanya bualan semata tapi sedikit banyak ada pesan dan hikmah yang kita dapat fikirkan.


[Edited]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar