Pada suatu ketika, di zaman
ketika Adam belum di turunkan kedunia, tinggalah dewa-dewa yang bersemayam di
setiap wilayah daratan. Mereka ditugaskan oleh sang pencipta untuk menjaga
dunia agar tidak dirusak oleh Iblis dan dedengkotnya yang telah terlebih dulu
dikeluarkan dari surga. Mereka (Iblis) sengaja merusak dunia dan segala
tatanannya untuk melampisakan hawa nafsunya sebab tidak diperkenankan lagi
masuk surga. Mereka diberi jatah menghuni neraka karena pembangkangan yang
dilakukan sewaktu ia (Iblis) masih diperkenankan tinggal disana (surga). Tak jarang
dengan segala tipu muslihat dan kekuatan-kekuatan yang sengaja diberikan oleh
sang pencipta, Mereka (Iblis) dengan leluasa membuat dunia seisinya porak poranda. Oleh sebab itu dewa-dewa yang memang sengaja ditugaskan menjaga wilayah yang telah
ditentukanNYa, harus benar-benar mengemban amanat yang disematkanNya untuk
mengantisipasi ganguan dan ancaman Iblis tersebut. Dan kali ini bumi sebagai tempat
terakhir yang dapat dihuni, menjadi prioritas penjagaan oleh para dewa karena,
kelak kehidupan makhluk bernyawa akan berpusat disana.
Dahulu kala Di daratan yang bernama Kerto
atau Karta, di semayami dan dijaga beberapa dewa, salah satunya dewa Marapi pemilik
kekuatan Api dan punya watak yang bijaksana juga baik hati. Kemudian dinamakan Hoyakkarta
yang berasal dari Hoyak dan Karta, dimana Hoyak artinya Goncang, dan Karta
artinya tentram. Daerah itu awalnya bernama Kerta saja karena kondisi wilayahnya
yang begitu tentram sampai pada suatu saat timbullah huru-hara yang lakukan
oleh Iblis dan bala tentarannya sehingga daerah itu sering terjadi gempa yang
dahsyat. Adanya gempa yang sering terjadi dan agar mempermudah mengidentifikasinya, maka oleh kesepakatan dewa-dewa dan
atas izin sang Pencipta, daerah itu akhirnya
dinamakan HoyakKerta. Untuk meredam gempa yang sering terjadi, Sang pencipta melalui para dewanya Akhirnya membuat pasak
bumi yang di tancapkannya tepat di batas antara wilayah Hoyakkerto dengan Tanah
Jawa. Pasak itu digunakan untuk meredam gempa Dahsyat akibat muslihat yang
dilakukan Iblis dan dedengkotnya. Akhirnya dengan pasak tersebut daerah
Hoyakkerto dan Tanah Jawa kembali tenang dan tentram sehingga kelak dimasa peradaban maju maka HoyakKerto akan berganti menjadi Ngayogjakarta (Jogjakarta).
Melihat kondisi ketentraman menaungi daratan tersebut, Iblis dan bala tentaranya tidak lantas diam begitu saja. Dilain
pihak, karena sifat kearifan dewa Merapi, beliau sengaja menemui Iblis untuk
menyelesaikan masalah yang terjadi agar terjadi titik temu diantara keduanya.
Melihat watak Iblis yang begitu angkuh, bukannya perdamaian yang tercipta
justru pertarungan hebat terjadi diantara mereka dan bala tentarannya.
Singkatnya Iblis akhirnya dapat diusir dari daratan tersebut. Bersama dengan
kepergiannya mereka mengeluarkan sumpah serapah (mantra kutukan) yang
menyatakan bahwa apabila Dewa Marapi kelak mempunyai anak perempuan dan jika is bersentuhan
dengan moral penduduk yang sudah rusak juga banyaknya perpecahan maka daerah tersebut akan di luluh lantakkan.
Dan setelah pertarungan itu berakhir Iblis sementara pergi mengungsi ke Puncak
Hargo Dumilah di Gunung Lawu untuk memulihkan diri dan akan kembali apabila
kutukan itu benar-benar tergenapi. Akhirnya kehidupan daratan HoyakKerto dan Tanah
Jawa kembali sedia kala tanpa ada huru hara. Tentrem kerto raharjo gemah ripah
loh jinawi pun terwujud setelah berabad tahun lamanya Adam diutus ke Dunia
bersama Hawa untuk memulai kehidupan nyata. Dan Dewa Marapi memutuskan menjelma
menjadi manusia bergelar Raden Marapi Balerante (daerah yang saling terikat “Rante”)yang
akhirnya menjadi pemimpin di daerah tinggi, sepi dan asri yang ia namai dengan daerah Balerente.
Selang beberapa dasawarsa, Dewa/Raden Marapi pun
juga telah mempunyai pendamping yang dipersuntingnya dari lingkungan Keraton
HoyakKerto. Kekasihnya itu bernama Roro Bibi Arimbi, yang biasa dipanggil dengan
sebutan Bibi. Walaupun mereka sudah menikah, Marapi selalu terngiang-ngiang
akan kutukan yang telah diucapkan musuhnya itu dan khawatir kutukan tersebut
benar-benar akan terjadi. Rasa bimbang itu ternyata lebih menguasai batin Raden
Marapi sehingga ia urung untuk berniat mempunyai anak. Takdir berkata lain,
bahwa Tuhan Semesta Alam mengkehendakkanya untuk mempunyai momongan, buah
pernikahan mereka berdua. Setelah 20 tahun lamanya pasca pernikahannya akhirnya
Bibi Hamil dan diprediksi bayi itu berjenis kelami perempuan. Mendengar kejadian
tersebut Raden Marapi bingung antara senang dan khawatir. Senang karena
mendapat momongan pertama kali dan khawatir kutukan itu akan benar-benar
terjadi. Akhirnya dengan hikmah sang maha Kuasa dan kearifannya, Raden Marapi menerima takdir yang telah
digariskan kepadanya dan keluarganya. Kutukan tersebut disiasati dengan
membimbing masyarakatnya agar menetapi apa yang telah diperintahkan dan
menjauhi segala larangan Tuhan Semesta Alam. Misalnya, tidak menyekutukan Tuhan,
menggunakan apa yang tersedia di alam dengan Bijak saling menyayangi satu sama
lainnya. Dakwah yang disampaikan Raden Marapi membuat akhlak dan moral
masyarakat saat itu benar-benar terbina.
Ritual Ibadah ditegakkan, tempat ibadah selalu penuh terisi, gotong royong
rutin dikerjakan dll.
Sampai suatu saat, berita itu pun
tercium oleh Iblis yang kala itu masih menetap di Puncak Hargo Dumilah (Gunung
Lawu). Sambil menunggu momen yang tepat untuk melancarkan aksi pamungkas, Iblis
dan kawan-kawannya mencoba menyusup ke dalam lingkungan masyarakat untuk menghembuskan
api perpecahan dan perkara-perkara maksiat yang menjadi larangan sang Pencipta
dan dakwah Raden Marapi. Diawal masa penjajakannya, hasutan-hasutan iblis itu tak membuat
masyarakat bergeming dari syariat yang telah diajarkan. Namun, lambat laun
godaan-godaan itu pun sedikit-demi sedikit akhirnya berpengaruh terhadap iman
masyarakat. Masyarkat mulai mencoba-coba perkara-perkara larangan. Hingga akhirnya si Jabang bayi terlahir kedunia dan benar berjenis
kelamin perempuan. Gadis akhirnya diberi nama Raden Ayu Woro Sembodro agar ia
tetap jadi gadis (Perawan) yang punya pembawaan yang lembut, anggun, tenang,
namun mampu bersikap tegas bila diperlukan. Saat masih kecil ia selalu dijaga
burung Garuda Surya Kencana yang memang ditugaskan oleh raden/dewa marapi untuk
mengawasi Roro agar tidak keluar dari lingkungan Keraton Balerante. Dengan menggunakan
mata dewanya Kemanapun pergi Garuda selalu awas terhadap gerak gerik gadis
kecil itu. Dan setalah itu woro pun telah beranjak remaja (baligh 14 tahunan)
tumbuh menjadi gadis yang berparas ayu, baik hati dan berakhlak mulia.
Hingga akhirnya petaka itu datang.
Iblis yang tidak kehilangan cara untuk mewujudkan kutukan itu benar-benar
terjadi. Ketika akhlak masyarakat sudah rusak tetapi sang gadis tidak berbaur
dengan masyarakat maka kutukan tidak akan bekerja. Maka dari itu iblis menyusun banyak strategi untuk menarik Woro untuk keluar Keraton. akhirnya ia mencoba cara terakhir. Iblis yang berubah
menjadi nenek tua renta pembawa kayu bakar yang kelihatnnya tak sebanding dengan tubuh dan usia nenek tersebut. Nenek tersebut telah berada di pintu belakang tepat di pinggir tempat woro
melakukan aktifitas. Nenek renta tersebut kelelahan dan kelihatan sudah tidak kuat lagi membawa
beban kayu bakar untuk dibawa ke rumahnya. Melihat hal tersebut woro pun
tersentuh hatinya untuk menolong nenek tersebut dan mengindahkan nasehat ayahandanya.
Berhubung hatinya begitu tulus dan suci, akhirnya woro pun membantu nenek tersebut. Kebetulan saat
itu Garuda Surya Kencana sedang bersama raden Marapi menghadiri upacara di Keraton HoyakKerto. Sementara
ibunya (bibi) sedang memasak menyiapkan menu untuk berbuka nanti. Sehingga keluarlah Woro dari lingkungan Keraton Balerente, tempat yang selama ini meng "hijabi" ia
dari dunia luar dan tentunya efek kutukan.
Sampailah ia di sebuah tempat
yang begitu banyak orang berjualan barang dagangan, baik hasil pertanian, barang-barang
kerajinan. Ada juga yang melakukan aktivitas larangan seperti berjudi baik dadu maupun kartu,
ada yang berjualan mengurangi timbangan (sukatan), sistem pinjam-meminjam dengan bunga (Riba) dll
sehingga praktik-praktik larangan itu sudah jamak dilakukan
masyarakat. Ia (woro) belum mengetahui kalau tempat itu adalah pasar. Sembari mengemati
sekitar ia kehilangan nenek tua itu yang telah berbaur dengan hiruk pikuk
orang-orang dan tiba-tiba tubuhnya pun lemah seakan-akan ada yang menyedot
tenagannya. Tiba-tiba goncanglah daerah itu dengan begitu dahsyatnya sehingga
orang-orang disana semua berlarian. Nampaknya kutukan tersebut benar-benar
terbukti, Pasak Bumi (Gunung merapi) yang telah lama tertidur kini terjaga. Woro
yang dalam keadaan lemah pun mencoba berlari turun menuju ke Keraton-rumahnya. Ibunya (bibi)
yang tidak menyadari Woro sudah tidak ada di lingkungan Keraton mencoba dengan
sekuat tenaga untuk mencari Anak gadisnya itu. Sehingga selang beberapa lama mereka akhirnya bertemu
dan berpelukan di daerah yang dinamakan SeloKopo (tempat berbatu). Mereka sadar
bahwa kutukan yang pernah diceritakan oleh Suaminya kini telah terbukti. Tanah
masih berguncang hebat dan dari atas tempat tertinggi tiba-tiba muncul lahar
panas dan mulai membanjiri pasar tadi. Menenggelamkan masyarakat yang dicekam
ketakutan. Melihat hal tersebut, Bibi yang masih mendekap erat woro segera
memohon kepada sang Pencipta untuk melindungi anaknya dan lingkungan keratonnya (balerante). Di dalam keheningan doanya, permintaan itu akan dikabulkan tapi dengan syarat tubuh bibi harus dikorbankan
dan nyawanya moksa disana. Tak berlama-lama bibi langsung menyanggupinya
tubuhnya langsung berubah menjadi Gunung besar yang menutup aliran lahar yang
akan melelehi lingkungan keratonnya dan menyelamatkan jiwa anaknnya yang masih lemah di sana (Selokopo).
Melihat ibunya berkorban seperti
itu, woro menjadi sedih sekaligus bangga. Ia memohon kepada sang Pencipta agar suatu saat ia di
persatukan dengan ibunya kembali walaupun nasibnya harus sama dengannya. Permintaan
itu tidak lantas langsung dikabulkan karena Woro belum lah dewasa untuk mengemban takdir sebagaimana
yang telah penuhi ibunya. Tetapi jika kelak nanti ia telah dewasa, Woro dapat
membantu ibunya meredam dan membendung bencana yang datang dari atas Pasak Bumi (Gunung Merapi).
Sementara ini ia diselamatkan dan diangkat ke Kahyangan untuk menimba ilmu Hakikat dari para
Malaikat. Dilain Pihak, Raden Marapi yang Mendengar kejadian itu bersama garuda
langsung menuju ke Keratonnya yang telah luluh lantah dan mendapati Istri juga
anaknya sudah tidak ada ditempat. Ia sadar bahwa gempa dahsyat itu imbas kutukan
iblis dan dedengkotnya yang kini telah terwujud. Ia segera mencari keseluruh wilayah
Balerante dan berharap ia mendapati keluarganya selamat. Ia baru tahu kalau ada
gunung baru yang menutupi aliran lahar ke desa juga keratonnya dan baru sadar
kalau itu adalah Istrinya, Bibi. Ia sangat sedih ditengah situasi huru-hara akibat gempa itu. Ia merasa sangat bersalah sehingga bencana itu kembali terjadi. Sehingga melihat kondisi tersebut ia bermunajat kepada
sang Pencipta. Ia memohon agar diangkat lagi menjadi dewa dan disemayamkan di tempat itu, untuk menjaga Pasak itu dan agar ia tetap bisa bersama
istrinya. Permintaanya dikabulkan dan tubuhnya akhirnya moksa di Puncak sana. Garuda Surya Kencana
yang juga merasa bersalah atas kejadian tersebut, meminta sang Pencipta agar ia dapat mendampingi dewa Marapi menjaga pasak bumi. Permintaaanya pun dikabulkan. Tubuh garuda itu berubah menjadi batu Besar yang akhirnya ditancapkan sang Pencipta tepat di Atas Puncak Pasak Bumi dan jadilah ia Puncak Garuda.
Dan Kelak Woro yang sudah tumbuh dewasa dan telah lulus dari mempelajari ilmu Hakikat juga akan turunkan dari kahyangan untuk bertemu ibu dan Ayahnya. Ia nanti akan diberi tempat Altar Suci di atas Puncak Baru yang akan terbentuk. dan nantinya Mereka (Marapi, Bibi, Woro dan Garuda) akan bersama-sama menjaga Pasak Bumi (Gunung Merapi) agar tidak kembali merusak dan menghancurkan wilayah sekitar dengan material laharnya. Dan mereka akan hidup bahagia bersama.
Dan Kelak Woro yang sudah tumbuh dewasa dan telah lulus dari mempelajari ilmu Hakikat juga akan turunkan dari kahyangan untuk bertemu ibu dan Ayahnya. Ia nanti akan diberi tempat Altar Suci di atas Puncak Baru yang akan terbentuk. dan nantinya Mereka (Marapi, Bibi, Woro dan Garuda) akan bersama-sama menjaga Pasak Bumi (Gunung Merapi) agar tidak kembali merusak dan menghancurkan wilayah sekitar dengan material laharnya. Dan mereka akan hidup bahagia bersama.
Pesan:
Jangan kita hianati Ketulusan
hati Bibi Arimbi, Woro Sembodro dan kesetiaan Marapi Balerante mengorbankan jiwa raga mereka untuk menyelamatkan juga melestarikan Alam ini. Jangan perturutkan kepicikan fikir kita untuk merusak dan mengotori setiap jengkal tanah yang telah mereka perjuangkan ini. Jaga mereka, Jaga kelestarian Alamnya. Bukan tak mungkin mereka akan tersenyum pada kita karena itu sejatinya bukan semata untuk alam ini sahaja tapi lebih pada masa depan kita bersama.
Salam Lestari!!!
Salam Lestari!!!
***
Kembali, ini Bukanlah cerita nyata, hanya bualan semata tapi sedikit banyak ada pesan dan hikmah yang kita dapat fikirkan.
[Edited]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar