Sabtu, 06 Juni 2015

SEBUAH DONGENG IMAJINATIF



CERITA FIKTIF YANG MEYELIMUTI ORO-ORO OMBO DAN RANU KUMBOLO



”Oro-oro ombo dahulu kala merupakan petilasan dewa Hombo yang merupakan penunggu telaga besar yang begitu melimpah airnya. Dulu petilasan tersebut menyatu dengan telaga yang dihuni dewi Kumbala kekasih sang dewa. Sampai suatu saat pencipta murka karena mereka melanggar aturan yang telah dibuat, untuk tidak saling berkhalwat saat bulan haram yang telah tentukan. Sang pencipta langsung mengutus Dewa Meru (penunggu Puncak Mahemeru) untuk memberikan hukuman, memisahkan 2 makhluk yang saling mencintai ini agar mereka menyadari kesalahan yang mereka perbuat dan agar menjadi itibar bagi generasi yang akan datang. Segera dewa Meru melaksanakan tugasnya menggunakan ajian Jongring seloka untuk melontarkan bongkahan raksasa dari dasar kawah Mahameru agar mereka berdua terpisahkan. Bongkahan didaratkan tepat dipintu yang biasa mereka jadikan tempat bertemu dan membuat dua makhluk itu benar-benar berjauhan. 



Awalnya Hombo mempunyai kekuatan air yang diberikan sang pencipta saat setelah ia diciptakan dimana dengan kekuatan itu memungkinkan ia untuk memperbarui elemen airnya dan hidup selama yang dia inginkan. Takdir berkata lain, Kumbala sang kekasih akhirnya jatuh sakit karena tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan seperti yang dimiliki Hombo. Elemen air yang memungkinkan Kumbala tetap hidup yang dahulunya dapat dengan mudah diperoleh dari Hombo, lambat laun semakin menyurut dan kini ia dalam keadaan sekarat. Hombo mendapat kabar dari merak langit bahwa kekasihnya Kumbala akan direnggut ajal, tidak mengiginkan hal itu terjadi, ia mencari cara agar hal tersebut tidak terjadi. Karena cinta Hombo kepada kumbolo begitu dalam, ia ingin agar kekasihnya itu tetap hidup dengan satunya cara yang bisa ia tempuh. Ia memberikan kekuatan air yang ia miliki dengan konsekuensi setelah itu Hombo tidak lagi punya kekuatan untuk hidup abadi. Melalui merak langitlah kekuatan itu di sampaikan kepada kekasihnya yang tengah sekarat itu. Akhirnya, Kumbolo kini sudah pulih sedia kala, namun ia tidak tahu persoalan yang sedang disembunyikan oleh Hombo. Hari-hari berlalu dan kondisi Hombo sangat mengkhawatirkan, kali ini merak langit tidak sedang ada dibumi Semeru karena ada ditugas untuk menyampaikan pesan kepada dewi Anjani sehingga ia tidak mengetahui kondisi Hombo yang sudah kritis. Kumbala yang sebenarnya bersemayam dibalik bukit itu pun tidak tahu kondisi Hombo yang sesungguhnya karena selain terpisah ia juga tak mau memaksakan untuk mengetahui keadaan Hombo, khawatir mendapat murka dari Penciptanya dan akan memperberat hukuman yang mereka sedang jalani. 

Akhirnya disiang yang begitu teriknya itu, Hombo dipanggil untuk mengahadap keharibaan san Pencipta untuk menetap di alam Baqa. Sontak tempat yang dijadikan Hombo Bersemayam surut airnya menjadi kering kerontang ditinggalkan pemiliknya menghadap penciptanya. Merak yang tahu Hombo telah meninggal tidak ingin memberitahukan berita itu kepada siapapun karena ia diwanti-wanti agar tidak berbicara perihal kondisi Hombo jika suatu saat nanti ia mati, terutama kepada Kumbala kekasihnya. Dan selama beratus tahun lamanya Kumbala pun belum mengetahui jika kekasihnya sudah Meninggal dan tak lagi berada di Tanah Semeru. Sampai sekarang ia masih tetap patuh untuk menyelesaikan hukuman dan setia menjaga cintanya untuk Hombo. Merak langit yang biasa menunggu petilasan Hombo kini pun juga sudah tiada karena kondisi alam raya yang sudah tidak kondusif, memungkinkan untuk ia tinggal di dunia. Dan petilasan tersebut berubah menjadi Oro-oro (padang), sehingga sampai sekarang tempat itu dinamakanlah Oro-oro Ombo, artinya Padang milik Hombo. 

Kini, Kumbala masih diperkenankan hidup dan bersemayam ditelaga yang kini dinamakan Ranu Kumbolo, Cinta Kumbala akan terus abadi untuk menanti sang Pencipta Mempertemukannya dengan sang pujaan hati (Hombo) kembali. Kini, Hari-harinya ia isi dengan tulus memberikan setiap tetes kebaikan kepada siapa saja yang mengunjunginya, selalu bersyukur atas apa yang didiperoleh dari kemurahan penciptanya dan Ikhlas atas apa yang telah ditakdirkan oleh sang Pencipta untuk hidup sendiri menanti pujaan hati kembali atau berharap dipertemukan kembali suatu saat nanti" 


***
Jangan di anggap serius, ini hanya karangan ngawur semata apabila ada kesamaan tokoh dan nama harap maklum karena Memang metode yang digunakan dengan Metode Gathuklogi. Yang terpenting intinya kita harus selalu menjaga usaha Kumbala untuk tetap setia, menjaga apa yang diwariskan kepadanya. Salam Lestari!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar